puasa lisan
puasa lisan

Jika Lisanmu Sumber Petaka, Latihlah dengan Puasa

Sebuah hadist yang cukup populer yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah jauh-jauh telah memperingatkan bahwa sumber keselamatan manusia adalah ditentukan oleh kecakapan menjaga lisannya. Lisan bisa menjadi rahmat, tetapi juga bisa menjadi sumber laknat. Karena lisan seseorang bisa masuk surga, tetapi banyak juga yang masuk neraka karenanya.

Jika memang lisanmu adalah berpotensi pada hal kerusakan dan keburukan apa yang harus dilakukan? Di bulan Ramadan Allah telah memberikan latihan yang cukup penting agar seluruh badan manusia berpuasa. Ramadhan merupakan bulan suci untuk mencetak mental dan akhlak mulia.

Untuk memahami Ramadan sebagai madrasah untuk mencetak akhlak mulia, kita harus berangkat dari sebuah hadist penting yang seringkali berulang-ulang para dai dan khatib tetapi tidak membekas sama sekali. Hadist itu berbunyi :

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” 

Bayangkan jika seseorang telah melewati bulan puasa, tetapi sesungguhnya ia tidak mendapatkan apapun dari bulan yang penuh berkah ini kecuali lapar dan dahaga. Kenapa itu bisa terjadi? Kata kunci dari hadist di atas Nabi ingin memperingatkan bahwa puasamu bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan seluruh anggota tubuh termasuk hati.

Salah satu yang paling berat dan telah dinobatkan sebagai sumber manfaat dan petaka adalah lisan. Mampukah puasamu menahan, mengunci, dan mengajarkan lisanmu di bulan suci ini. Terkait menjaga lisan ini Rasulullah juga memperingatkan dengan hadist yang hampir serupa dengan peringatan sebelumnya.

Rasulullah bersabda : Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari). Artinya, lisanmu juga bisa meruksa pahala puasamu. Orang yang hanya menahan tidak makan dan tidak minum, tetapi ia tidak mampu mengontrol lisannya untuk berdusta, memaki, mencaci dan memfitnah sesungguhnya ia seperti tidak berpuasa.

Baca Juga:  Arab Saudi Akan Umumkan Kepastian Haji Tahun Ini Akhir Ramadan?

Puasa juga mengajarkan manusia untuk selalu menjaga lisan dan omongannya. Berpuasa adalah melatih menahan kejelekan apapun yang timbul akibat anggota tubuh kita. Rasulullah lalu memberikan tujuan penting dari puasa :“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim).

Jika dalam puasamu masih pula tidak mampu mengontrol lisan dan tulisan di media sosial sesungguhnya kita bukan berpuasa. Kita hanya menahan lapar dan dahaga. Jika dalam puasamu kita masih sering berdusta dan mencaci yang lain, sesungguhnya kita hanya menahan lapar dan dahaga, bukan puasa yang sesungguhnya.

Jika puasa dimaknai dengan mendalam dan subtansial sesungguhnya akan membentuk pribadi muslim yang berkahlak mulia terutama akhlak untuk menjaga lisan. Jadikan lisan adalah sumber rahmat, bukan sumber laknat. Jadikan lisan menjadi ladang manfaat bukan mudharat.

Bagikan Artikel ini:

About Dhanar Fridayanti

Avatar of Dhanar Fridayanti
Penulis Aktif di Kompasiana sejak tahun 2014 dan Alumni Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo Semarang

Check Also

puasa memakai parfum

Ingin Tampil Prima dan Wangi di Bulan Suci, Bolehkah Berpuasa Memakai Parfum?

Menjalani puasa Ramadan dengan tetap beraktifitas di luar rumah bagi para pekerja tentu sebuah tantangan …

ramadan kareem

Keistimewaan Ramadan : Jika Pahala Dilipatgandakan, Bagaimana dengan Dosa?

Bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah dan ampunan. Di bulan ini pula umat Islam mendapatkan …