jangan takut berpuasa
jangan takut berpuasa

Jangan Takut Berpuasa, Karena Kekenyangan Ternyata Sumber Petaka

Sejengkal hari lagi umat Islam akan menjalankan kewajiban berpuasa di bulan Ramadan. Bagi yang tidak terbiasa, puasa sangat menyiksa. Beda halnya bagi orang yang terbiasa puasa sunnah, puasa justru terasa nikmat karena badan bugar dan sehat.

Pesan Nabi: “Makan di kala lapar berhenti sebelum kenyang” bukan tanpa makna. Banyak hikmah yang bisa diambil dari petuah Baginda Nabi tersebut.

Satu hal yang seringkali terabaikan dan luput dari perhatian kita selama ini, ternyata kekenyangan merupakan sumber petaka bagi kehidupan seseorang. Dalam kehidupan beragama pun, kekenyangan menjadi sumber dosa.

Ibnu Umar menceritakan: “Suatu ketika seseorang bersendawa di samping Baginda Nabi, beliau menegur: “Tahanlah sendawamu itu dihadapan kami, sesungguhnya orang yang paling lapar di antara kalian pada hari kiamat adalah orang yang sering kekenyangan ketika di dunia”. (HR. Ibnu Majah).

Perintah Nabi menahan sendawa dalam hadis ini bermakna perintah supaya tidak terlalu kenyang karena pada biasanya orang bersendawa karena terlalu kenyang. Makna ini seperti dijelaskan oleh Abu al Ula al Mubarakfuri dalam kitabnya Tuhfatu al Ahwadzi.

Imam Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin lebih lanjut menjelaskan tentang bahaya kekenyangan. Berkali-kali Nabi melarang makan terlalu kenyang. Hal ini, menurut al Ghazali, karena syahwat perut merupakan sumber segala bencana. Dari syahwat perut menjalar ke syahwat kemaluan. Dari syahwat ini seseorang menjadi rakus terhadap harta duniawi. Ia akan berusaha dengan segala cara untuk menumpuk harta.

Namun begitu, lanjut al Ghazali, bukan berarti harus kelaparan. Lapar yang diperintahkan adalah selama tidak menyebabkan lalai untuk ibadah. Karenanya, lapar yang dapat menyebabkan seseorang lalai melakukan kewajiban dilarang.

Perintah Nabi di atas bukan melarang seseorang untuk kenyang, tapi hanya melarang melampaui batas kenyang yang normal, yaitu makan berlebihan sehingga kekenyangan. Inilah yang menjadi sumber petaka bagi manusia.

Baca Juga:  Empat Hikmah Mengucap Hamdallah di Kala Bersin

Apabila syahwat perut dan syahwat kemaluan tidak bisa dikendalikan, sudah pasti seseorang akan terjerumus dalam perbuatan dosa. Berbuat zina dan menghalalkan segala cara untuk memenuhi syahwat perut dan syahwat kemaluannya. Segala cara untuk memperoleh harta duniawi akan dilakukan, haram bukan persoalan yang penting harta didapatkan.

Inilah bahaya perut kekenyangan. Karenanya, puasa Ramadan yang sebentar lagi akan kita jalankan salah satu tujuannya adalah meredan syahwat perut supaya tidak menjalar kepada syahwat yang lain.

Dengan kata lain, puasa Ramadan, di samping dijanjikan pahala berlipat, sejatinya ingin menyelamatkan manusia dari kubangan dosa akibat syahwat perut yang tak terkendali. Dan, supaya jasmani tetap sehat karena organ reproduksi bisa istirahat.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

keragaman

Dalil Toleransi Beragama dalam Al Qur’an : Kemajemukan adalah Kehendak Ilahi

Hari ini masyarakat terkadang begitu alergi dengan perbedaan. Politisasi identitas semakin menguat dan mudah menggolongkan …

ratu elizabeth

Ratu Elizabeth II Meninggal, Bolehkah Mendoakan dan Menghormati Jenazah Non Muslim?

Kepergian Ratu Elizabeth II menyisakan duka mendalam bagi rakyat Inggris. Jutaan rakyat Inggris larut dalam …