bertetangga dengan non muslim
etika bertetangga

Adab Bertetangga dengan Non Mislim

Kalau ada yang berbicara bahwa semua non muslim adalah musuh, pemahamannya tentang agama patut diragukan. Agama Islam tidak mengajarkan untuk memusuhinya orang yang beda agamanya, apalagi hanya beda madhabnya.

Agama Islam hanya mengajak dan menginformasikan kebenaran ajaran Islam terhadap non muslim, persoalan ia menerima atau menolaknya sepenuhnya hak prerogatif Tuhan.

Misi menyempurnakan akhlak manusia yang diembankan kepada Nabi bukan untuk menciptakan permusuhan antar manusia, tapi menciptakan kehidupan harmonis yang penuh keadaban dan menghormati nilai-nilai kemanusiaan. Penuh keadilan, persaudaraan dan keharmonisan. Salah satu yang sangat dipesankan oleh Nabi adalah menghormati dan tidak menyakiti tetangga non muslim.

Rasulullah bersabda: “Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman”. Salah seorang sahabat bertanya: “Siapa yang tidak beriman wahai Rasulullah”? Beliau menjawab: “Yang tetangganya tidak aman dari keburukannya”. (HR. Bukhari).

Dalam riwayat Imam Ahmad dan Imam Malik tertulis “Tidak akan masuk surga”.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan, yang dimaksudkan keburukan adalah kelicikan-kelicikan yang dapat merusak secara tiba-tiba.

Bagaimana dengan tetangga kita yang non muslim? Apakah harus dihormati juga?

Rasulullah bersabda: “Ada tiga kategori tetangga; pertama, tetangga yang mempunyai satu hak, yakni hak tetangga paling dasar. Kedua, tetangga yang memiliki dua hak, dan ketiga tetangga yang mempunyai tiga hak, yaitu tetangga yang memiliki hak paling utama. Tetangga yang mempunyai satu hak adalah non muslim yang bukan kerabat, ia hanya mendapatkan hak bertetangga saja. Yang memiliki dua hak adalah tetangga muslim, Ia mendapatkan hak tetangga dan hak sebagai muslim. Tetangga yang memiliki tiga hak adalah tetangga muslim yang masih kerabat; ia mendapatkan hak sebagai tetangga, sebagai muslim dan hak sebagai kerabat. Termasuk hak tetangga yang paling dasar adalah jangan sampai engkau menyakiti tetanggamu dengan bau harum pancimu kecuali engkau memberi sebagiannya”. (HR. Abu Nu’aim).

Baca Juga:  Jangan Putus Asa Ketika Berdosa, Berbaik Sangkalah Kepada Tuhan

Hadis ini menjelaskan hak dasar tetangga yang harus kita berikan. Tidak ada bedanya antara tetangga yang muslim dan non muslim. Hak dasar bertetangga adalah tidak menyakiti mereka. Nabi sampai memerintahkan untuk tidak menyakiti tetangga meskipun hanya dengan bau masakan kecuali kita memberi sebagiannya.

Kesimpulannya, adab bertetangga dengan non muslim adalah tidak menyakiti mereka dengan segala bentuk perbuatan yang berpotensi menyakiti. Perbedaan agama tidak bisa dijadikan alasan untuk membenci, memusuhi, dan apalagi menyakiti.

Bagikan Artikel ini:

About Nurfati Maulida

Avatar of Nurfati Maulida

Check Also

qorun

Kisah Qarun: Simbol Oligarki Finansial dalam Al Qur’an

Terlalu sederhana, hanya menceritakan Qarun sebagai pengusaha tamak sampai lupa perintah zakat. Hampir tidak ada …

haman

Haman: Kisah Politikus Rakus pada Zaman Fir’aun yang Diceritakan Al-Quran

Sebuah bangsa dibangun dengan hati penyair, namun hancur di tangan politikus Dr. Muhammad Iqbal Haman …