bertetangga dengan non muslim
etika bertetangga

Toleransi itu Sunnah (2) : Cara Bertetangga dengan Non Muslim

Suatu ketika Aisyah, istri tercinta Nabi, menyelenggarakan hajatan dengan menyembelih kambing. Setelah hidangan matang, Aisyah membagikan masakannya kepada tetangga sesuai anjuran Nabi ketika masak untuk membagikan kepada tetangga. Nabi berkata, : apakah si fulan juga telah dikirim masakan? “Belum, dia itu Yahudi dan saya tidak akan mengirimnya masakan” ujar Aisyah. Nabi tetap meminta : Kirimilah, walaupun Yahudi, ia adalah tetangga kita.

Salah satu akhlak Nabi sebagai bagian dari Sunnah yang layak diikuti oleh umat Islam adalah etika bertetangga dengan baik sekalipun dengan yang berbeda agama. Bertetangga yang baik adalah salah satu pesan Nabi sebagai bagian dari kesempurnaan iman. Nabi sangat menekankan pentingnya bertetangga yang baik.

Rasul bersabda, “Jibril tak henti-hentinya selalu berwasiat kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, hingga saya menyangka bahwa seorang tetangga akan mendapatkan warisan (dari tetangganya).” (HR. Ahmad).

Rasanya hari ini sudah teramat sulit untuk hidup tanpa kehadiran yang berbeda. Menutup diri bukan solusi yang baik. Tidak akan berpengaruh imanmu jika berbuat baik kepada yang berbeda. Justru iman akan semakin naik ketika melaksanakan kebaikan kepada yang lain, termasuk kepada tetangga yang non muslim.

Madinah menjadi tempat bernaung kelompok yang berbeda dalam jaminan keamanan dan kenyamanan Islam. Perjumpaan perbedaan adalah sebuah keniscayaan.Beberapa akhlak Nabi dalam membangun kerukunan bertetangga dengan non muslim adalah bagian dari cara hidup Rasulullah yang wajib diteladani. Bagaimana Rasulullah bertetangga?

  1. Berbagi Makanan dengan Tetangga Non Muslim

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia meriwayatkan bahwa dirinya memiliki seorang tetangga Yahudi. Kalau menyembelih kambing, dia memerintahkan: Bawalah sebagian daging kambing ini kepada tetangga kita. Karena aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jibril tidak bosan-bosannya mewasiatkan padaku untuk menghormati tetangga sehingga aku menduga seolah-olah tetangga itu berhak mendapatkan warisan.” (H.R. al-Baihaqi).

Baca Juga:  Benarkah Sistem Pemerintahan Indonesia Sesuai Syari’at Islam? (Bagian 2)

Ini adalah bentuk keteladanan sahabat dalam melaksanakan sunnah Nabi untuk berbuat baik kepada tangga sekalipun non muslim.

  1. Menghadiri Undangan Non Muslim

Dari Anas bin Malik RA, di berkata: “Seorang yahudi mengundang Nabi SAW untuk bersantap roti gandum dengan acara hangat, dan Nabi SAW pun memenuhi undangan tersebut.” (HR Imam Ahmad).

Rasulullah tidak anti perbedaan. Sebagai pemimpin yang mengayomi semua perbedaan Rasulullah kerap diundang dan dijamu. Dan Rasulullah memenuhi undangan yang sangat bersahaja tersebut.

  1. Menjenguk Tetangga Non Muslim yang Sakit

Dari Ibnu Abi Husain: “Rasulullah s.a.w. memiliki tetangga Yahudi yang akhlaknya cukup bagus. Suatu hari, ketika dia sakit, segera Rasulullah s.a.w. bersama para sahabat menjenguknya.” (H.R. ‘Abdur-Razzaq).

Dalam Riwayat yang lain dari Anas bin Malik yang berkata: “Ada seorang pemuda Yahudi yang menjadi pembantu Rasulullah s.a.w. Suatu hari dia sakit, dan Rasulullah s.a.w. pun membesuknya.” (H.R. Ibnu Abi Syaibah).

Beberapa teladan itu menunjukkan pentingnya menjaga hubungan tetangga yang harmonis walaupun berbeda agama. Rasulullah telah menunjukkan dirinya sebagai orang paling toleran dalam kehidupan sosial. Kenapa umatnya masih enggan untuk saling berbaur?

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Pertemuan Dir Cegah BNPT dengan LPOK

Ormas Islam dan Ormas Keagamaan Dukung Pengadaan Perppu Larangan Ideologi Selain Pancasila

Jakarta – Lembaga Persahabatan ormas Islam ( LPOI) dan Lembaga Persahabatan Ormas Keagamaan (LPOK) mendukung …

Tiga siswa terpaksa belajar di luar kelas akibat mengenakan hijab

Ogah Lepas Hijab, 2 Siswa di India Harus Belajar di Luar Kelas

Jakarta – Diskriminasi terhadap umat Muslim terus saja terjadi di India. Ketidakberpihakan pemerintah India dalam …