toleransi sunnah nabi
maulid

Refleksi Maulid Nabi : Toleransi itu Sunnah Rasulullah

Terkadang kita masih sangat alergi dengan istilah toleransi. Entah apapun redaksinya sejatinya menghormati yang berbeda dan menjalin hubungan dengan yang berbeda dalam ikatan yang harmonis adalah bagian dari akhlak Rasulullah. Kenapa hal itu tidak dianggap sunnah yang harus diteladani?

Dalam momentum Maulid Nabi ini, umat Islam bisa mengambil satu pelajaran penting dari cara Nabi berinteraksi. Akhlak yang ditunjukkan oleh Rasulullah sejatinya adalah sunnah yang perlu diteladani. Sayangnya, sunnah-sunnah Nabi tidak secara kaffah dipahami dengan baik. Akhirnya, istilah sunnah sempit sekali hanya persoalan terkait ibadah.

Kehidupan Nabi berinteraksi dengan yang berbeda terkadang dipotret ketika Nabi berhadap dengan yang berbeda yang menjadi musuh. Padahal, itu hanya bagian kecil dari pergaulan Nabi dengan yang berbeda. Dalam kasus yang lebih luas, justru Nabi banyak memberi contoh bagaimana menghormati dan bersikap baik kepada yang berbeda agama.

Suatu ketika Aisyah, istri tercinta Nabi, menyelenggarakan hajatan dengan menyembelih kambing. Setelah hidangan matang, Aisyah membagikan masakannya kepada tetangga sesuai anjuran Nabi ketika masak untuk membagikan kepada tetangga. Nabi berkata, : apakah si fulan juga telah dikirim masakan? “Belum, dia itu Yahudi dan saya tidak akan mengirimnya masakan” ujar Aisyah. Nabi tetap meminta : Kirimilah, walaupun Yahudi, ia adalah tetangga kita.

Tetangga adalah bagian dari saudara yang harus dimuliakan apapun agamanya. Bahkan menghormati tetangga adalah bagian dari kesempurnaan iman. Beginilah bagaimana Rasulullah mempraktekkan toleransi yang banyak umat muslim tidak ketahui. Sebagian mereka justru membangun tembok dan pagar yang tebal dalam berhubungan dengan tetangga yang berbeda keyakinan. Tetapi itu jelas bukan Sunnah Nabi.

Terkadang kita enggan berbaur dengan yang berbeda karena khawatir iman luntur. Kenapa persoalan interaksi sosial seolah akan merubah keyakinan. Lihatlah sunnah Rasul yang seringkali menerima banyak tamu dan berbincang hangat dengan rombongan lintas iman.

Baca Juga:  Inilah 7 Akhlak Mulia Nabi Kepada Non Muslim

Dalam sejarah, Nabi banyak menerima tamu dan kunjungan rombongan non muslim. Tidak hanya di Madinah ketika Nabi menjadi pemimpin, bahkan di Makkah Nabi biasa berinteraksi dan menerima tamu yang berbeda keyakinan. Al kisah, di Makkah Nabi pernah menerima rombongan tamu yang terdiri dari pendeta Nasrani Habasyah berjumlah 70 orang.

Di Makkah pula Nabi pernah menerima tamu dari kamu kafir Quraisy. Di Madinah pergaulan Nabi tambah luas dengan menerima banyak tamu yang beragam.  Akhlak Nabi jelas sesuai dengan apa yang beliau ajarkan: Artinya: “Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari).

Hadist ini jelas menegaskan siapapun tamumu adalah raja yang harus dihormati. Bahkan dalam suatu kisah Rasulullah pernahmengizinkan non muslim untuk menggunakan masjid sebagai tempat beribadah.

Jika kisah agung dan perangai mulia ini adalah bagian dari cara hidup Nabi dalam menghadapi perbedaan, kenapa kita umatnya begitu alergi dengan yang berbeda. Momen Maulid Nabi salah satunya memperingati bagaimana akhlak Rasulullah kepada yang berbeda keyakinan sebagai pedoman kita tidak gagap menghadapi keragaman ini.

Bagikan Artikel ini:

About Islam Kaffah

Check Also

shalat ghaib korban bencana

Shalat Ghaib untuk Korban Bencana

Pada tanggal 4 Desember 2021 telah terjadi peningkatan aktifitas vulkanik di gunung semeru. Hal itu …

amarah

Amarah yang Merusak dan Tips Menyembuhkan

Marah merupakan salah satu perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Orang yang tak …