image 2020 10 21 083112
image 2020 10 21 083112

Maulid Nabi SAW: Hukum dan Kitab Pertama tentang Maulid Nabi SAW

Alhamdulillah, hari ini kita masih dipertemukan oleh Allah dengan salah satu bulan mulia, yakni Rabi’ul Awwal. Ada dua momen besar yang menandai kelahiran Islam dan kematangannya. Momen itu adalah kelahiran nabi Muhammad SAW dan wafatnya beliau yang sama-sama terjadi pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal. 570 M adalah tahun kelahiran nabi SAW dan 633 M ialah tahun kewafatan beliau.

Betapapun sekarang di masa pandemi covid-19 yang masih mewabah, kita sebagai umatnya Muhammad selayaknya harus merayakan Maulid (kelahiran) nabi SAW. Kali ini mungkin tidak bisa sesemarak tahun-tahun sebelumnya, karena di beberapa daerah masih menerapkan social distancing dan protokol kesehatan. Namun hal itu bukan alasan untuk mengendorkan perayaan maulid nabi SAW yang dinilai oleh banyak ulama mengandung banyak sekali kebaikan dan keberkahan.

Saat ini, mungkin kita bisa memperbanyak bacaan sholawat, mengenang jasa-jasa beliau nabi, dan membacakan berbagai macam kitab maulid di majelis-majelis yang terbatas. Hal ini dilakukan agar kita tetap bisa mendapatkan 2 kebaikan secara bersamaan. Kebaikan terhindar dari wabah dan kebaikan merayakan maulid nabi SAW.

Perayaan maulid Nabi SAW adalah bid’ah khasanah

Membaca berbagai kitab maulid dalam perayaannya bukanlah tergolong perilaku bid’ah yang tercela, melainkan termasuk perilaku bid’ah hasanah. Imam Ibn Hajar pernah ditanyai perihal maulid. Momen ini terekam dalam kitab Husnu al-Maqshad fi ‘amali al-maulid. Beliau menjawab pertanyaan itu dengan, “Hukum dasar perayaan maulid memang bid’ah. Dan tidak pernah diamalkan ulama salaf sampai abad ke tiga hijriyah. Walaupun demikian, maulid diyakini mempunyai kebaikan-kebaikan. Barangsiapa yang memilih melakukan maulid dengan tujuan kebaikan-kebaikannya, maka itu termasuk amalan yang bid’ah hasanah.”

Salah seorang guru Imam Nawawi, yakni syaikh Abu Syâmah, juga menilai bahwa dalam merayakan maulid nabi SAW, tidak melulu hanya dengan membaca kitab-kitab sirah dan bershalawat kepada nabi SAW saja. Tetapi berbahagia dan bersedekah di tanggal dan bulan kelahiran nabi SAW, juga merupakan implementasi kecintaan kepada nabi dan meluapkan kegembiraan maulid nabi SAW.

Baca Juga:  Trend Hijrah dan Beragama yang Kaffah

Pendapat di atas tertulis dalam kitab al-Bâ’is ‘ala Inkâri Al-Bida’ wal Hawadis, “Sebagian di antara bid’ah hasanah di masa kita ialah apa yang biasanya dikerjakan setiap tahun, pada waktu yang bertepatan dengan hari kelahiran nabi seperti sedekah, berbuat baik, berhias, dan berbahagia. Perilaku-perilaku di atas, selain memiliki dampak baik bagi orang-orang faqir yang mendapatkannya, juga menandakan isyarat atas bukti kecintaan terhadap nabi, bukti mengagungkan nabi dihati, dan sebagai perwujudan rasa syukur kepada Allah atas salah satu karuniaNya, yakni mengutus seorang rasul. Rasul yang menjadi rahmat bagi semesta alam sepanjang masa.”

Sejarah Kitab Maulid Nabi SAW

Sejarah kitab-kitab maulid, itu tidak bisa lepas dari kitab Tanwîr: Fî Maulid Al-Sirâj Al-Munîr. Konon, kitab itu merupakan kitab maulid yang pertama kali ada. Menurut cerita, kitab itu khusus dihadiahkan kepada penguasa saat itu, Malik Mudhoffar Abu Sa’îd yang menguasai tanah Irbil (Sebuah kota yang berjarak 80 KM dari barat Mosul). Pengarangnya kitab itu adalah Al-Hafidz Ibn Dahiyyah. Seorang ulama yang hidup sekitar 850 tahun lalu.

Malik Mudhoffar memang semasa hidupnya sangat senang merayakan maulid nabi SAW. Apalagi setelah dihadiahi kitab yang dikarang oleh Ibn Dahiyyah itu. Sebelum penyerahan kitab itu, Ibn Dahiyyah terlebih dulu membacakannya di depan Malik Mudhoffar. Saking senangnya, Malik Mudhoffar lantas menghadiahkan untuk Ibn Dahiyyah uang sebesar seribu dinar. Jumlah yang begitu besarnya itu, menurut Musthafa bin Abdullah pengarang kitab Kasyf Dzunûn, tak pernah dihadiahkan oleh Malik Mudhoffar kepada siapapun kecuali Ibn Dahiyyah.

Setelah masa Ibn Dahiyyah, akhirnya banyak orang-orang mulai ramai-ramai menyusun kitab maulid. Ada yang tertulis dalam bentuk untaian nadzam maupun kalam natsar. Ada yang bentuknya panjang dan ada pula yang ringkas. Zaman dulu, mereka membacakan kitab-kitab maulid tersebut pada malam kelahiran nabi, tanggal 12 Rabi’ul Awwal.

Baca Juga:  Tafsir Surat At-Taubah 122 : Pentingnya Kaderisasi Ulama

Lalu, dalam kitab Kanzun Najah wa Surûr, diceritakan karena orang-orang mengharap berkah yang banyak, lama kelamaan kitab-kitab maulid nabi SAW dibaca tidak hanya pada malam maulid saja, tapi juga terus dibaca sepanjang bulan Rabi’ul Awwal. Bahkan ada yang membacanya sepanjang tahun, tanpa mengenal bulan.

Bagikan Artikel ini:

About M. Alfiyan Dzulfikar

Avatar of M. Alfiyan Dzulfikar

Check Also

ilustrasi masjid tempat ibadah umat

Bersemangatlah dalam Beribadah (2): Cara Menghindari Kemalasan

Dalam tulisan sebelumnya, sudah dijelaskan betapa Allah SWT menganugerahkan kemurahan dan kemudahan kepada kita untuk …

ibadah

Bersemangatlah Dalam Beribadah (1): Tiada Kesukaran dalam Agama

Allah memerintahkan kita beribadah, pastilah itu bermanfaat dan baik untuk kita sendiri. Tak mungkin ada …