meneladani nabi
Nabi Muhammad

Memperingati Maulid Nabi di Hari dan Bulan Lain Kelahirannya

Bulan Rabi’ al-Awwal lumrah disebut bulan maulid Nabi. Kenapa? Karena nyaris sebulan suntuk tidak pernah sunyi dari perayaan maulid nabi. Ada nuansa berbeda di bulan ini yang melingkupi umat Islam umumnya, kaum Nahdhiyyin, khususnya. Ialah nuansa pengentalan ekspresi kegembiraan memperingati kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallama yang masyhur diperingati tanggal 12 Rabi’ al-Awwal.

Namun apakah perayaan Maulid terbatas hanya di bulan ini, Rabi’ al-Awwal? Bagaimana seandainya dirayakan di bulan setelahnya, Rabi’ al-Tsani? bolehkah?!

Nabi bersabda :

حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ ، قَالَ : حَدَّثَنَا مُبَارَكٌ ، عَنْ الْحَسَنِ ، عَنْ سَعْدِ بْنِ هِشَامِ بْنِ عَامِرٍ ، قَالَ : أَتَيْتُ عَائِشَةَ ، فَقُلْتُ : يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ ، أَخْبِرِينِي بِخُلُقِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَتْ : كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

Menceritakan kepada kami Hasyim Ibn Qasim dari Mubarak dari Hasan dari Sa’ad Ibn Hisyam Ibn ‘Amir ia berkata: aku mendatangi ‘Aisyah. Lalu aku bertanya: wahai ummul mukminin (ibunda kaum yang beriman) beritahu aku tentang akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallama ! ‘Aisyah menjawab: akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an. HR. Ahmad:  25108

Al-Qur’an bukanlah ensiklopedi hukum. Ia berisi untaian kalimat yang membutuhkan penjelas (tafsir) agar gamblang dipahami. Oleh karena itu, al-Qur’an memiliki ratusan bahkan ribuan kitab tafsir, dari yang ma’tsur hingga yang ma’qul, menyajikan penafsiran yang beragam. Jika al-Qur’an melahirkan kitab tafsir yang jumlahnya hingga ribuan, maka mengungkap tuntas akhlak Rasulullah pastilah membutuhkan ratusan hari atau bahkan ribuan hari. Sepekan adalah waktu yang minim.

Sebulan adalah waktu yang terbatas. Jika spirit dari maulid adalah memperkenalkan akhlak Rasul nan agung, maka tentunya, maulid ini membutuhkan bukan hanya sebulan, dua bulan. Tetapi bisa saja setahun, mengingat akhlak Rasul yang menyamudera luasnya.

Abdul Hamid Ibn Muhammad Ali Ibn Abdul Qadir Quds al-Makki al-Syafi’iy memaparkan bahwa membaca sejarah kelahiran Nabi tidak cukup pada hari hari tertentu di bulan Rabi’ al-Awwal, tetapi sejarah itu juga harus dibaca pada hari hari diluar bulan Rabi’ al-Awwal. Artinya perayaan maulid Nabi bukan hanya terbatas pada bulan Rabi’ al-Awwal tetapi juga pada bulan lainnya selama setahun dan seterusnya. Kanzunnajah halaman 38 :

Jalaluddin al-Suyuthi mendukung penuh apa yang difatwakan oleh Abdul Hamid Ibn Muhammad Ali Ibn Abdul Qadir Quds al-Makki al-Syafi’iy, menurutnya, terbuka keleluasaan untuk mengadakan maulid Nabi pada bulan bulan di luar Rabi’ al-Awwal. Al-Hawi li al-Fataawi,1/188

Mencintai Rasulullah tidak seharusnya temporal, sekali dalam setahun.  melainkan harus tak lekang ditelam masa. Hendaknya, saban hari cinta kita kepada Rasul dipupuk dan disiram. Oleh karenanya, hukum memperingati maulid nabi di hari lain kelahirannya (tidak di bulan rabi’ul awwal) bukan masalah hukum yang amat serius. Dengan kata lain boleh hukumnya.

Hanya saja tanda kemeriahan yang lebih semarak dilakukan di hari dan bulan kelahiran Rasulullah. Inilah bentuk kecintaan luar biasa yang selayaknya terus dihadirkan di bulan-bulan berikutnya. Marilah merayakan karena semesta pun bershalawat untuk keagungan sang Rasul.

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo

Check Also

hewan yang haram

Fikih Hewan (1): Ciri Hewan yang Haram Dimakan

Soal halal-haram begitu sentral dan krusial dalam pandangan kaum muslimin. Halal-haram merupakan batas antara yang …

tradisi manaqib

Tradisi Membaca Manaqib, Adakah Anjurannya ?

Salah satu amaliyah Nahdhiyyah yang gencar dibid’ahkan, bahkan disyirikkan adalah manaqiban. Tak sekedar memiliki aspek …