tanah kelahiran
tanah kelahiran

Nabi Pun Sangat Mencintai Tanah Kelahirannya

Sebenarnya tidak ada orang yang tidak mencintai kampung halaman dan tanah kelahirannya. Kampung halaman adalah pekarangan yang menyimpan kenangan indah bersama keluarga dan orang yang dicintai. Tidak perlu dalil sebenarnya untuk menyatakan cinta kepada tanah air dan tanah kelahiran. Karena fitrah manusia adalah mencintai tanah kelahirannya.

Begitupun Rasulullah. Enam tahun telah berlalu sejak Nabi hijrah dari Makkah ke Madinah. Betapapun hijrah itu teramat bernilai bagi beliau untuk misi kerasulannya, tetap saja terbersit rindu kampung halaman dan tanah airnya. Begitu pun Madinah telah menjadi mercu suar peradaban Islam, tetapi Makkah adalah tanah kelahiran yang selalu dirindukan.

Begitu kuatnya kerinduan itu sampai kerinduan itu terbawa dalam mimpi. Dalam mimpi itu beliau melihat dirinya bersama sahabat-sahabatnya ada di Masjidil Haram melakukan tawaf, sa’I, lalu bertahallul.

Inilah keistimewaan Rasulullah yang selalu diberikan jawaban oleh Allah atas keinginanannya. Rupanya mimpi itu bukan hanya kembang tidur. Mimpi beliau dibenarkan oleh Allah dengan turunnya ayat:

“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa Sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil haram, insya Allah dalam Keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat”. (QS. al Fath; 27).

Begitulah, setelah turun ayat di atas, keinginan Rasulullah untuk mendatangi Makkah, tempat kelahirannya, bertambah menggebu. Hal ini dicatat dalam sejarah sebagai awal mula terjadinya perjanjian Hudaibiyah.

Menafsiri ayat tersebut, mayoritas ulama menerangkan, selang beberapa lama sebelum terjadi perdamaian Hudaibiyah Nabi Muhammad bermimpi bahwa beliau bersama para sahabatnya memasuki kota Mekah dan Masjidil Haram dalam Keadaan sebahagian mereka bercukur rambut.

Baca Juga:  Kisah Nabi Khidir dan Orang yang Dicintai Allah

Nabi mengatakan bahwa mimpi beliau itu akan terjadi nanti. Kemudian berita ini tersiar di kalangan kaum muslim, orang-orang munafik, orang-orang Yahudi dan Nasrani. Setelah terjadi perdamaian Hudaibiyah dan kaum muslimin waktu itu tidak sampai memasuki Mekkah, maka orang-orang munafik memperolok-olokkan Nabi dan menyatakan bahwa mimpi Nabi yang pasti akan terjadi itu adalah bohong belaka.

Maka turunlah ayat ini yang menyatakan bahwa mimpi Nabi itu pasti akan menjadi kenyataan di tahun yang akan datang. Dan sebelum itu dalam waktu yang dekat Nabi akan menaklukkan kota Khaibar. Andaikata pada tahun terjadinya perdamaian Hudaibiyah itu kaum Muslim memasuki kota Mekah, maka dikhawatirkan keselamatan orang-orang yang menyembunyikan imannya yang berada dalam kota Mekah waktu itu.

Pada akhirnya, Rasulullah bisa berkunjung ke rumah yang sangat dirindukannya Makkah. Dan pada akhirnya, bukan sekedar masuk secara leluasa ke Mekkah, Janji Allah kepada Nabi Muhammad bahkan mampu menaklukkan kota kelahirannya ini dengan penuh damai dan jalur rekonsiliasi seluruh penduduk Mekkah yang pernah memperlakukan buruk terhadap Nabi. Nabi tidak mengusir mereka, tetapi memilih untuk memaafkan.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

madzhab hanafi

Taliban Berpangku pada Madzhab Hanafi, Ini Karakteristik Pendiri dan Karakteristiknya

Taliban yang berhasil menguasai Afganistan kali ini sebenarnya dalam pemikiran mengikuti salah satu imam besar …

surat al jin

Tafsir Surat al Jin ayat 19: Nabi Dikerumuni oleh Jin?

Pelabelan “Dungu” sangat cocok disematkan kepada Muhammad Kece. Pastinya julukan ini akan diamini oleh semua …