orang tua rasulullah
orang tua rasulullah

Tidak Banyak Diungkap, Inilah Kisah Rumah Tangga Orang Tua Rasulullah

Abdullah merupakan putra dari Abdul Muthalib seorang tokoh yang cukup berpengaruh di kalangan kaum Quraisy. Saat itu usia Abdul Munthalib sudah hampir menginjak 70 tahun, di usianya yang cukup tua, beliau menginginkan seorang cucu. Namun, sayangnya kala itu Abdullah belum memiliki pendamping hidup.

Karena keinginannya tersebut, Abdul Muthalib meminta anaknya Abdullah yang sudah berumur 24 tahun untuk segera mempersunting seorang perempuan untuk dijadikan istri. Dengan berbekal kecintaannya kepada sang anak, akhirnya Abdul Muthalib pun mencarikan seorang istri yang berperanggai baik dan penyayang.

Ialah Sayyidah Aminah perempuan yang dipilihnya sebagai seorang menantu. Sayyidah Aminah bukanlah wanita sembarangan. Dia adalah wanita yang memimpin suku Zuhrah yang terkenal di kota Makkah. Nama Zuhrah sendiri diambil dari nama kakek tertua Aminah. Diketahui, kakek Zuhrah beserta kaumnya berada di kota Makkah sampai akhir hayat nanti.

Aminah bin Wahab gadis cantik, suci dan memiliki hati yang sangat mulia. Siti Aminah dilahirkan dari rahim yang memiliki kedudukan paling tinggi di kota Mekkah yaitu Barrah binti Abdul Uzza bin Utsman bin Abduddar bin Qushay.

Di Makkah Aminah dijuluki sebagai “Si Bunga Quraisy”, bunga yang paling indah di antara wanita-wanita lainnya. Meskipun banyak wanita lain yang juga cantik, tetapi Aminah sangat dijaga pergaulannya dan sangat terlindungi dari pergaulan bebas sehingga banyak sekali orang yang tidak tahu secara jelas bentuk fisik Aminah.

Di kala itu juga Abdullah merupakan laki-laki yang begitu tampan di Makkah. Beliau merupakan laki-laki yang paling memukau dan sangat terkenal di Makkah. Tak heran jika banyak sekali wanita yang ingin menjadi pendamping hidupnya. Sayangnya Abdullah sudah mendapatkan sang pujaan hati pilihan dari ayahnya dan ingin segera mempersuntingnya.

Beberapa saat kemudian Abdullah bersama ayahnya mengunjungi kediaman keluarga Siti Aminah. Beliau datang meminta izin dan meminta restu kepada keluarga Aminah. Dan saat itu Abdullah sudah sangat yakin kepada pilihan ayahnya bahwa Siti Aminah adalah perempuan yang tepat untuk dijadikan istri dan yakin terhadap Allah SWT bahwa beliau adalah jodoh yang sangat tepat.

Baca Juga:  Memahami Kecerdasan Strategi Perang Nabi Muhammad SAW dalam Perang Badar

Tak lama kemudian, tibalah hari di mana Siti Aminah dan Abdullah melangsungkan pernikahannya. Pernikahan yang dilaksanakan di kediaman Aminah berjalan dengan lancar dan hikmat dari dua keluarga yang terpandang. Pernikahan yang berlangsung secara sederhana itu membuat seluruh kaum Quraisy sangat berbahagia. Khususnya bagi kedua mempelai, terpancar dari wajahnya yang sangat berseri-seri dengan begitu banyak harapan atas pernikahan ini.

Tetapi di hari itu juga banyak sekali perempuan muda yang menyukai Abdullah pun merasakan patah hati karena tidak mereka pilihan yang dijadikan istri oleh seorang pemuda yang tampan dan menawan itu. Siapa sih yang tidak ingin dijadikan istri oleh beliau? Laki laki yang diidam-idamkan oleh banyak wanita, dan laki-laki yang memiliki sifat pekerja keras.

Di sisi lain, mereka juga merasakan kebahagian yang dirasakan oleh pengantin baru itu. Dengan banyak harapan yang diinginkan dari mereka atas dilangsungnya pernikahan ini. Semoga dengan adanya pernikahan ini banyak keberkahan yang diberikan Allah SWT kepada seluruh umat yang ada di muka bumi ini, khususnya bagi pengantin baru yang sedang berbahagia.

Keesokan harinya, Siti Aminah bangun dengan wajah yang bersei-seri dan beliau tidak menyangka bahwa beliau sudah sah menjadi seorang istri. Lalu dengan perasaan yang sangat bahagia itu beliau bergegas bangun dan menyiapkan sarapan untuk sang suami. Dengan wajah yang berbunga-bunga beliau sarapan bersama sang suami untuk pertama kalinya.

Tetapi, mereka masih tinggal di kediaman paman Aminah karena mereka harus tinggl di kediaman mempelai putri. Itu sudah menjadi tradisi masyarakat sekitar bahwa setelah menikah harus tinggal selama tiga hari setelah itu baru Abdullah bisa membawa Siti Aminah ke kediamannya.

Baca Juga:  Kisah Iblis Menipu Nabi Adam AS dengan Mengatasnamakan Tuhan

Setelah tiga hari di kediaman Aminah, akhirnya Abdullah membawa sang istri ke rumah yang kecil dan sederhana. Rumah itu di buat oleh Abdul Muthalib untuk diberikan kepada anak kesayangannya sebagai hadiah pernikahannya. Rumah sederhana yang ditempati Abdullah dan istrinya memiliki satu kamar dan serambi yang di dinding sebelah kanannya ada tempat kayu yang dipersiapkan untuk tempat duduk mempelai.

Aminah berjalan keluar menatap rumahnya dengan tatapan perpisahan. Dia merasa sedih karena harus meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan. Rumah yang dulunya ia dibesarkan dan dia harus segera meninggalkan rumah tersebut. Di sisi lain dia juga diliputi rasa bahagia karena akan memulai kehidupan dan lembaran baru bersama sang suami.

Lalu Aminah berangkat menuju rumah Abdullah dengan diantarkan oleh rombongannya dengan gaun pengantin yang terpakai di tubuhnya. Ia begitu cantik memakai gaun yang dipakainya itu.

Sampai di kediaman sang suami, Aminah menatap rumahnya dengan harapan kehidupan baru akan dimulai. Rombongan Aminah disambut dengan baik oleh keluarga Abdullah, lalu rombongan laki-laki memasuki serambi yang sudah disiapkan dan rombongan perempuan memasuki kamar pengantin.

Tak lama kemudian rombongan itu berpamitan semuanya dan tinggallah mereka berdua yang dipenuhi dengan rasa aman bahagia dan damai. Hari-hari mereka berdua pun sangat bahagia, dengan kesederhanaan Abdullah yang tidak bisa memberikan barang-barang mewah kepada Aminah, Aminah pun tidak merasa keberatan justru Aminah sangat beruntung bisa menikah dengan Abdullah karena kesederhanaannya, pekerja keras, bertanggung jawab dan tentunya patuh dan takut kepada Allah SWT.

Dikarenakan ada suatu urusan perdagangan, tak lama kemudian Abdullah pergi meninggalkan Aminah yang sedang mengandung anaknya. Dalam perjalanannya itu ia harus meninggalkan istrinya selama beberapa bulan. Kemudian dia singgah ke tempat saudara-saudara ibunya di Madinah sekadar beristirahat sesudah merasa lelah selama dalam perjalanan bersama teman-temannya. Akan tetapi, tak lama dari perjalanannya melakukan perdagangan itu ia menderita sakit di tempat saudara ibunya. Lalu teman-temannya meninggalkannya dan memberitahu Aminah bahwa suaminya sedang sakit di rumah saudara ibunya.

Baca Juga:  BJ. Habibie dan Islam

Setelah berita itu sampai ke istri dan ayahnya, akhirnya Abdul Muthalib mengutus anak sulungnya yang bernama Harith untuk membawa adiknya kembali jika sudah sembuh. Tetapi Allah lebih sayang Abdullah, sampainya Harith di Madinah ia mengetahui bahwa Abdullah sudah meninggal dan sudah dikuburkan. Sebulan setelah pemakaman akhirnya Harith pulang dengan perasaan yang pilu, Harith harus memberikan kabar ini kepada Siti Aminah dan Abdul Muthalib bahwa Abdullah sudah tidak ada.

Saat itu Aminah betul-betul tidak tahu harus apa, perasaannya campur aduk. Ia ingin sekali melihat Abdullah untuk terakhir kalinya, tapi sayangnya itu sudah tidak bisa. Abdul Muthalib mencoba menenangkan menantunya. Memberitahunya bahwa suaminya sudah berada di pangkuan Sang Ilahi.

Rasa duka dan sedih menimpa hati Abdul Muthalib dan Aminah, karena ia kehilangan seorang suami yang selama ini harapan kebahagiaan bagi hidupnya. Baginya kehilangan sang suami ia juga merasa kehilangan separuh kebahagiaannya yang ikut terkubur di dalam tanah.

Hari demi hari telah terlewatkan, Aminah ikhlas dengan kepergian suaminya di saat ia sedang hamil. Tetapi di sisilain juga ia harus semangat untuk menyambut kedatangan putra pertamanya itu. Ia menerima atas apa yang selama ini telah terjadi kepadanya. Selang beberapa bulan, tepat tanggal 12 rabiul awal tahun gajah lahir seorang rasul yang bernama Muhammad, beliau berupakan baginda rasul pembawa wahyu di yaumul akhir nanti.

Bagikan Artikel ini:

About Anggarwati

Avatar of Anggarwati