musik islam
musik islam

Musik dalam Peradaban dan Dakwah Islam

Musik adalah media universal yang hampir ada dalam peradaban manusia sepanjang zaman. Dengan ragam bentuk dan jenisnya musik menjadi salah satu budaya bahkan sarana dalam keagamaan. Tidak hanya dilihat dalam aspek hiburan semata, tetapi musik juga bisa menjadi sarana mendekatkan diri kepada hal spiritual.

Dalam Islam, musik memang dianggap kontroversial. Ada yang mengharamkan dan ada pula yang membolehkan. Beberapa ulama melandasi keharamannya dari hadist dari Imam Bukhari, “akan datang kepada umatku, mereka menghalalkan perzinahan, khamar (minuman keras), dan ma’dzib,”. Hadist ini sejatinya yang menghantarkan beberapa ulama mengharamkan musik.

Namun, tahukah kalian bahwa dalam sejarah Islam, musik berkembang sejalan dengan peradaban Islam. Di era kejayaan Islam, peradaban muslim tidak hanya mampu mencapai kemajuan dalam hal pemahaman keagamaan, tetapi juga dalam bidang pengetahuan, kebudayaan dan kesenian. Salah satunya adalah bidang seni musik. Buktinya, di Negara Timur Tengah musik dan puisi menjadi salah satu tradisi yang banyak dilakukan hingga kini.

Seni musik Islam mulai berkembang ketika memiliki wilayah kekuasaan yang semakin meluas. Ketika muslim mulai berbaur tentu saja semakin banyak tradisi, kebudayaan dan kesenian baru yang semakin tercampur. Bahkan Ibnu Khaldun yang dikenal sebagai bapak sosiologi juga ikut berperan dalam perkembangan musik. Beliau berucap bahwa vokalis musik merupakan mata air utama dalam sajian musik.

Tak hanya sampai di situ, kaum Muslim banyak yang mempelajari buku-buku musik yang diterjemahkan dari bahasa Yunani dan Hindia. Pada akhirnya, banyak umat Islam yang akhirnya memberikan sajian dan penyempurnaan dari beberapa alat music akustik di antaranya drum, flute, dan juga sistem hidrolok pada organ.

Pesatnya perkembangan musik pada waktu itu juga diikuti dengan menjamurnya sekolah-sekolah musik yang didirikan oleh pemerintahan Islam di berbagai kota dan daerah. Salah satu pengajarnya yang banyak dikenal adalah Safial al Din yang memiliki karya-karya yang hingga kini masih bisa dilacak dari berbagai sejarah peradaban.

Penyebaran Islam di indonesia pun juga memberikan sumbangan tentang dakwah yang menggunakan beberapa alat musik dalam penyebarannya. Seperti para Walisongo yang dikenal menggunakan gamelan dalam beberapa dakwahnya sebagai hiburan dan pada generasi tahun 60an banyak mengenal grub music seperti bimbo dengan icon musiknya yang islami sebagai usaha dakwahnya.

Generasi 90an mulai mengenal musik islami yang terkenal dengan aliran nasyid. Nasyid banyak berkembang dan menjamur di kalangan kampus. Perkembangan nasyid pertama kali cukup kental dirasakan dengan corak ideologi keislamannya yang cukup bersahaja. Setelah Nasyid, disusul dengan genre shalawat dengan penyanyi yang masih kita kenal hingga kini, yakni Hadad alwi dan Sulis dengan album Cinta Rasul yang mungkin beberapa dari generasi millennium banyak mengkoleksi album yang telah laris di pasaran ini.

Memasuki tahun 2006, grup band pop ramai-ramai membuat lagu-lagu Islami. Grup band Ungu dengan album Surgamu dan Gigi yang mengaransemen ulang lagu-lagu Nasida ria dengan versi Rock mengawali secara deklaratif music religi di pop dan rock walaupun sebelumnya ada single lagu yang sudah bernuansa religi. Berkembangnya music pop di era ini dengan memanfaatkan momentum Ramadhan untuk memasarkan karya-karya religi mereka semakin memberikan warna dalam musik islami.

Saat ini music religi tidak kalah bersaing dengan music lainnya. Tentu penyebuta music religi hanya pada sebatas konten dan penampilan sementara alat music dan genre pun masih sama dengan music lainnya. Tentu ini menjadi bagian dari strategi dakwah yang harus terus ditingkatkan. Asal, music religi tidak termakan komodifikasi yang lebih mengandalkan keuntungan dari pada aspek dakwahnya.

Kembali pada perdebatan mengenai haram maupun halalnya music dalam kaidah Islam harus dilihat dari berbagai aspek, mulai dari hukum menyenandungkan lagu, tempat, waktu, dan alat yang digunakan. Selama isinya tidak mengandung maksiat, Islam membolehkan seseorang menyenandungkan lagu.

Selain itu, dalam menyayikan sebuah lagu, penyanyi tidak boleh menggoyangkan tubuhnya yang pada akhirnya mampu menaikkan sahwat lawan jenis. Selain itu juga dipertimbangkan tempat dan juga waktu yang tepat saat bernyanyi atau bermusik.

Keharahaman music ketika ia menjadi alat perantara maksiat dan berfoya-foya dalam kemaksiatan. Music yang terkait dengan dua kata sebelumnya, yaitu perzinahan dan khamar adalah bentuk music haram. Alat musik yang biasa dimainkan bersamaan dengan tindakan perzinahan dan sambil mengkonsumsi minuman keras diharamkan. Dan tidak ada tolerir hukum dalam hal tersebut.

Waallahu ‘alam

 

 

Bagikan Artikel ini:

About Anggarwati

Avatar of Anggarwati

Check Also

euthanasia

Sengaja Mempercepat Kematian : Euthanasia dalam Pandangan Islam

Ketika penyakit sudah sangat parah dan dalam kacamata medis sudah tidak bisa disembuhkan terkadang ada …

mencintai dan dicintai rasulullah

Tidak Banyak Diungkap, Inilah Kisah Rumah Tangga Orang Tua Rasulullah

Abdullah merupakan putra dari Abdul Muthalib seorang tokoh yang cukup berpengaruh di kalangan kaum Quraisy. …