Ustad Maher
Ustad Maher

Jika Tidak Mau Menyusul Ustadz Maaher, Junjung Tinggi Etika Bermedia (Sosial)

Kamis (3/12/2020) dini hari sekitar pukul 04.00 WIB, Ustadz Maaher ditangkap polisi atas dugaan penyebaran informasi yang ditujukan untuk menimbulkan kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok tertentu berdasarkan SARA melalui media sosial. Seketika berita tersebut menyedot perhatian banyak kalangan. Beragam spekulasi dan komentar pun bertebaran di media sosial.

Terlepas dari motif di balik semua itu dan hasil penyelidikan polisi, yang jelas fenomena Ustadz Maaher At-Thuwailibi atau Soni Ernata  tersebut memberikan pelajaran berharga bagi seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali akan pentingnya bijak dan menunjung tinggi etika dalam menggunakan media (sosial).

Tanpa mengutip sebuah survei sekalipun, publik sudah mafhum bahwa angka pengguna media sosial di republik ini sangat besar. Begitu pula dengan intensitas penggunaannya. Animo masyarakat yang demikian deras terhadap media sosial bisa menjadi peluang bagi Indonesia dalam menyongsong kemajuan. Namun di sisi lain, media sosial justru menjadi petaka bagi negara republik Indonesia. Akibat konten yang tak bertanggung jawab, media sosial menjadi sumber permusuhan hingga memunculnya perpecahan.

Tentu saja media sosial yang menjadi penghalang terwujudnya tatanan yang tertib, beradab dan berkemajuan tidak kita inginkan berlangsung lama. Oleh karena itu, penting kiranya seluruh lapisan masyarakat Indonesia, lebih-lebih yang memiliki pengikut (followers) berjubel bak jamur di musim hujan, wajib hukumnya menerapkan prinsip-prinsip atau etika dalam bermedia (sosial).

Islam dan Etika Bermedia (Sosial)

Sesungguhnya, fenomena Ustadz yang tidak menjunjung tinggi etika bermedia, tidak hanya terjadi pada diri Maaher At-Thuwailibi saja. Dengan kata lain, masih banyak utadz, bahkan yang menyandang label sebagai ulama, tetapi tidak memperhatikan betul bagaimana sesungguhnya menggunakan media sosial dengan bijak.

Jika Anda tidak mau mengikuti jejak Ustadz Maaher, maka beretikalah dalam bermedia sosial. Berikut beberapa etika bermedia yang disarikan dari ajaran Islam. Uraian ini akan menjawab pertanyaan besar: bagaimana etika bermedia (sosial) sesuai dengan tuntutan Islam? Islam adalah agama kamil (sempurna) dan Syamil (menyeluruh) sehingga bermedia pun diatur oleh agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw ini.

Baca Juga:  Menyoroti Istilah Kafir dalam Kacamata “Fikih Kebangsaan” NU

Juminem dalam Adab Bermedia Sosial dalam Pandangan Islam (2019) menyebutkan beberapa tuntutan Islam dan menggunakan media sosial, diantaranya memberikan informasi valid dan terpercaya. Yang sering diabaikan oleh kebanyakan pengguna media sosial adalah menyebarkan berita bohong atau memberikan kesaksian yang dibuat-buat atau palsu kepada orang lain.

Padahal, kesaksian palsu termasuk dosa yang amat besar dalam pandangan Islam. Bahkan ini disepadankan dengan perilaku fitnah dan dosa orang yang berbuat syirik. Dalam QS. Al-Hajja ayat 30 misalnya, Allah memerintahkan kepada hamban-Nya untuk menghindari perilaku al-kizab atau qaul zur—perkataan palsu—yang beringingan dengan perilaku menyembah berhala. Lebih jauh lagi, dalam QS. Al-An’am ayat 112, Allah menetapkan orang yang suka berbohong sebagai musuh Allah dan para Nabi. Dari sini nilai yang dapat dipetik adalah, tidak boleh umat Islam memberikan infomasi yang tidak valid atau bohong kepada manusia lain.

Etika selanjutnya adalah menjauhi namimah atau adu domba. Memecah-belah bangsa dengan agitasi, fitnah dan adu domba sudah menjadi ‘penyakit’ akut orang Indonesia pada umumnya, bahkan tidak hanya ketika masa kampanye, melainkan juga terjadi hampir setiap hari. Tentu perilaku dan langkah demikian sangat jauh dari nilai-nilai atau etika Islam.

Dalam QS. An-Nahl: 92 dan Ali Imran: 105, dijelaskan bahwa agar manusia tidak suka berdebat, nyinyir dan berselisih pendapat di media sosial perihal perkara/informasi/berita yang belum tentu kebenarannya (abu-abu—perlu chek n richek atau tabayyun), karena hal tersebut dapat menimbulkan kegaduhan (namimah) dan fitnah yang dapat memecah belah keutuhan bangsa.

Dalam pandangan Islam, seorang komunikator—dalam hal ini bisa bermakna pengguna media sosial—haruslah berpegang pada prinsip Islam, diantaranya qawlan syadidan (kejujuran dalam menyampaikan kebenaran, qawlan balighan (perkataan yang menyentuh hati dan menyejukkan), qawlan layyinan (menjaga kesantunan dalam berkomunikasi dengan tidak menjatuhkan harga diri orang lain), dan qawlan ma’rufan (mengajak seseorang kepada kebaikan dengan elegan).

Baca Juga:  Kidung Rumekso Ing Wengi: Mantra Islami Sunan Kalijaga Pengusir Pandemi

Menghindari hal-hal yang negatif di media sosial juga termasuk etika yang dijelaskan oleh Islam. Hal ini berarti, tangan kita harus benar-benar dijaga agar tidak meng-upload dan men-share konten-konten negatif, menghina, mencaci-maki, melaknat dan yang melanggar SARA. Ingat, Allah dalam QS. AL-Qaf ayat 18 menegaskan bahwa segala sesuatu yang diucapkan oleh manusia, akan diawasi dan dicatat oleh malaikat. Untuk itu, jangan sekali-kali menyebar konten negatif di media sosial.

Demikianlah secarcik etika bermedia (sosial) dalam pandangan Islam. Sejatinya masih banyak etika-etika lain selain yang disebutkan dalam uraian di atas. Namun, poin-poin di atas sesungguhnya sudah memberikan gambaran utuh bagaimana cara menggunakan media sosial dengan bijak dan sesuai dengan ajaran Islam.

Sekilas terlihat enteng etika-etika bermedia dalam Islam. Namun, ketika sudah benar-benar berselancar di media sosial, rasanya untuk menerapkan etika tersebut terasa berat. Bahkan sekelas Maaher At-Thuwailibi yang menyandang Uztadz dan telah diundang ceramah hampir seluruh penjuru bumi Indonesia, ternyata belum bisa mengamalkannya dengan sepenuh hati. Dan ini menjadi pelajaran bagi kita semua supaya benar-benar bijak dalam menggunakan media dengan cara menjunjung tinggi etika bermedia.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir