Pemerintah Resmi Larang Fpi
Pemerintah Resmi Larang Fpi

Kembali Membubarkan Ormas Islam, Pemerintah Anti Islam ?

Setelah dulu Pemerintah melarang keberadaan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) muncul seolah-olah Islam telah didzalimi di Indonesia. Dengan narasi yang teramat anggung bahwa pemerintah Anti Islam dengan embel-embel pula pro komunis. Sangat indah narasi ini setiap ada kebijakan yang mengendalikan ormas tertentu.

Tentu saja dengan kabar pelarangan keberadaan Front Pembela Islam (FPI) ini akan muncul narasi yang sama bahwa seolah-olah masa depan ormas Islam di Indonesia sudah suram. Pemerintah telah melarang aktifitas umat Islam. Dan pada titik tertentu, Islam di Indonesia telah didzalimi.

Pertanyaannya, apakah ormas Islam yang sejak dulu memberikan sumbangsih besar pada negara ini juga dilarang? Apakah NU, Muhammadiyah, Persis, al-Wasliyah, NW, SI dan masih banyak yang lain juga mengalami nasib yang sama seperti HTI dan FPI? Jika tidak demikian, berarti kita perlu meluruskan narasi bahwa ormas Islam di Indonesia atau umat Islam di Indonesia didzalimi.

Sebutan Pemerintah anti Islam tentu saja tidak cukup mendeskripsikan bagaimana pemerintah pertama kali dalam sejarah republik ini telah mengakui eksistensi kelompok santri melalui Hari Santri Nasional. Rekognisi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari penghargaan terhadap Islam, tetapi juga penghargaan sejarah perjuangan kelompok santri dan umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan bangsa ini.

Umat Islam di Indonesia bebas menjalankan ibadahnya dengan tenang bahkan hampir setiap sudut kampung terdengar suara adzan sebagai bagian dari dakwah. Berdakwah di Indonesia tidak ada larangan bahkan stasiun televisi yang menjadi area publik berlomba-lomba menyiarkan dakwah dan tayangan islami. Apabila anda berjalan-jalan di area publik pasti ditemukan mushalla dan masjid bahkan sebagian area perkantoran perbelanjaan menyediakan tempat untuk shalat, bahkan ibadah shalat jumat.

Baca Juga:  Neraka: Tempat Bagi Orang Bunuh Diri dan Membunuh Orang Lain

Lalu, pertanyaannya apakah umat Islam terdzalimi? Sejatinya ini persoalan politik yang perlu diluruskan bagaimana umat Islam tertentu dengan perkumpulannya harus sejalan dengan visi kebangsaan dan kemasyarakatan. Jika Ormas Islam telah menjadi bagian dari sejarah bangsa ini tentu tidak akan mudah membuat kegaduhan ideologis dan arogansi mayoritas dengan memainkan politik identitas yang tidak produktif.

Jika kelompok selalu memainkan Islam dalam kancah politik yang terus dibenturkan dengan visi kebangsaan itulah yang menjadi persoalan. Islam menjadi modal politik kelompok untuk dijadikan mesin peraup simpati dan emosi politik. Dalam taraf tertentu Islam ditampakkan sebagai kekuatan politik arogan yang bisa menyingkirkan yang berbeda. Apakah itu Islam yang sebenarnya? Apakah itu umat Islam yang mewakili seluruh masyarkat muslim Indonesia?

Tentu tidak. Saya meyakini Islam yang rahmatan lil alamin adalah Islam yang mampu menjadi rahmat di situasi apapun dan di negara manapun. Islam menjadi rahmat yang selalu beradaptasi dengan kondisi dan situasi untuk mewujudkan kemashlahatan. Bukan Islam yang memaksa dan memangsa, tetapi Islam yang mengasihi dan merahmati.

Acapkali di Indonesia, setiap kejadian apapun yang menerpa sebagian umat Islam direkam dalam narasi yang membabi buta. Kejadian itu seolah menggambarkan betapa umat Islam sedang dalam situasi perang, genting dan darurat. Islam terdzalimi, ulama didzalimi, Islam terkepung dan Islam ditindas. Narasi-narasi ini dimunculkan seolah-olah Islam sedang kacau ditindas pemerintah.

Ada suatu kepentingan tertentu untuk menanamkan narasi yang begitu menyeramkan tersebut. Ada kepentingan untuk menanamkan kekhawatiran, ketakutan, kecemasan dan terakhir dendam untuk membangkitkan emosi umat. Umat Islam seolah dibentuk dalam mental yang terus menerus dalam peperangan dan kecemasan.

Saya menduga bukan pemerintah Anti Islam karena banyak ormas Islam tetap berkumpul, bersyarikat dan beraktfiitas dengan damai untuk kepentingan agama dan bangsanya. Kejadian sesungguhnya adalah ada Ormas Islam anti Indonesia yang perlu ditangani secara serius oleh negara.

Baca Juga:  Dua Konsep Dakwah Walisongo dalam Menyebarkan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin di Nusantara

Jika kejadian yang terjadi adalah ormas anti Indonesia tentu kita bijak harus belajar kepada ormas-ormas Islam yang begitu komitmen sejak dari zaman kemerdekaan hingga hari ini dengan tetapi mengawinkan keislamanan dan keindonesiaan. Jika tidak, jangan pernah ada lagi kalimat pemerintah anti Islam. Lebih tepatnya, Pemerintah Anti ormas Islam yang anti Indonesia.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Mawaddah Ni'mah

Avatar