Pesantren Majmaal Bahrain Shiddiqiyyah
Pesantren Majmaal Bahrain Shiddiqiyyah

Kemenag Anulir Keputusan Pencabutan Izin Pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah

Jakarta – Kementerian Agama ( Kemenag ) akhirnya menganulir keputusan pencabutan izin pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah yang berada di Jombang, Jawa Timur. Kini, pesantren yang akhir-akhir heboh akibat kasus kekerasan seksual oleh putra pimpinan pesantren tersebut.

Menteri Agama Ad Interm Muhadjir Effendy mengatakan alasan pembatalan tersebut karena kasus kekerasan seksual yang terjadi di lembaga pesantren itu bersifat personal. Adapun pelaku kasus dugaan pencabulan dan perundungan terhadap santri oleh anak kiai pesantren Shiddiqiyyah berinisial MSAT telah ditangkap oleh kepolisian.

“Dalam kasus yang terjadi tidak melibatkan lembaga ponpesnya, tetapi oknum dan oknumnya kan sudah menyerahkan diri. Begitu juga mereka yang telah menghalang-halangi petugas,” ujar Muhadjir dalam keterangan tertulisnya, Senin (11/7/2022).

Muhadjir berharap para santri tidak khawatir akan kepastian status yang tengah belajar di ponpes itu. “Sedang di ponpes itu ada ribuan santri yang perlu dijamin kelangsungan belajarnya. Saya berharap masyarakat dapat memahami keputusan tersebut,” tuturnya.

Dengan dipulihkannya izin Ponpes Majma’al Bahrain Shiddiqiyah, para santri dapat kembali belajar dengan tenang.

“Dengan demikian para orang tua santri mendapat kepastian status putra-putrinya yang sedang belajar di Ponpes tersebut. Begitu juga para santri bisa belajar dengan tenang,” terang tokoh yang juga menjabat sebagai Menko PMK itu.

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama (Kemenag) Waryono membenarkan keputusan penganuliran tersebut. Ia memastikan para santri masih bisa melanjutkan belajar di pesantren Majma’al Al Bahrain Shiddiqiyyah, Jombang usai izin pesantren dikembalikan.

Diketahui juga kondisi santri di Pesantren Shiddiqiyyah belum semuanya kembali ke rumah imbas polemik yang terjadi belakangan ini.

“Santri belum semuanya pulang, belum semuanya diambil orang tua, karena tak semua santri dari Jombang,” ungkap Waryono.

Sebelumnya, Kemenag pada Kamis (7/7) sempat membekukan izin operasional pesantren Shiddiqiyyah buntut kasus dugaan pencabulan anak kiai pemilik pesantren, MSAT atau Bechi. Pembekuan izin ini menyusul upaya penangkapan Bechi di Shiddiqiyyah yang berujung pengepungan di pondok pesantren tersebut.

Aparat mendapat perlawanan dari ratusan santri Shiddiqiyyah. Sebanyak 320 santri diamankan petugas, lima di antaranya ditetapkan sebagai tersangka karena dianggap menghambat penyidikan.

Tak hanya itu, Ayah Bechi, KH Muhammad Mukhtar Mu’thi, meminta kepolisian untuk segera meninggalkan pondok pesantren kala itu. Dia menjamin anaknya bakal menyerahkan diri ke kepolisian. Bechi pun lantas menyerahkan diri ke Polda Jatim, pada Kamis malam.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

lagi pembakaran al quran kembali terjadi di denmark

Kutuk Dan Protes Keras Atas Pembakaran Al-Quran, Turki Panggil Duta Besar Denmark

Ankara – Kecaman dan reaksi keras terus bermunculan dari berbagai penjuru dunia terhadap aksi provokasi …

sejarah maulid nabi

Yazir Hasan Ustad Wahabi Sebut Maulid berasal dari Yahudi, Mari Pelajari Selengkapnya

Kasus Ustaz Wahabi bernama Yazir Hasan Al-Idis yang membid’ahkan dan menyesatkan perasayaan Maulid Nabi tengah …

escortescort