f a d dedd
f a d dedd

Kenangan Marbot Masjid Nogotirto Tentang Ragam Teladan Buya Syafii Maarif

Solo – Buya Syafi’i Maarif, guru bangsa yang tiada pernah akan habis kalimat untuk menceritakannya, wafatnya beliau meninggalkan rasa kehilangan dari semua kalangan, mulai dari tokoh nasional, ulama hingga orang yang sehari-hari berinteraksi dengan beliau di Masjid ketika akan berjamaah. Fatah Saiful Anwar, Marbot Masjid Nogotirto menceritakan bagaimana kesannya terhadap Buya Syafi’i Maarif.

Dilansir dari laman detik.com, Sabtu (28/5/22). Fatah Saiful Anwar menceritakan kenanganya bersama Buya Syafi’i Maarif dalam tulisan.

Mendengar berita duka meninggalnya Buya Syafii Maarif, saya langsung bergegas siap-siap takziah untuk ikut melepas kepergian Buya yang terakhir kalinya. Banyak sekali jasa beliau pada kehidupanku.

Beliau di mata saya adalah sosok yang sangat sederhana. Banyak hal yang wajib diteladani dari kehidupan sehari-harinya. Empat tahun saya mengabdi di Masjid Nogotirto dekat kediaman beliau. Banyak sekali tindak-tanduk beliau yang membuat saya berkesan.

Teringat ketika pertama kali saya bertemu beliau dan karena saya tahu masjid yang akan saya jaga adalah berkultur Muhammadiyah maka saya langsung berkata kepada beliau, “saya NU buya!”

“sudah nggak papa, sama saja kan,” beliau menjawab dengan amat santai. Di situlah awal kekaguman saya.

Di sela kesibukannya, beliau amatlah rajin salat berjemaah lima waktu. Itu yang juga membuat saya merasa malu. Kaliber beliau dengan segala keilmuan yang dalam tidak lantas membuat Buya menganggap enteng hal-hal yang hanya bersifat anjuran dalam beragama. Tidak seperti kita yang baru mengerti sedikit tetapi tidak bisa mengamalkannya.

Ada beberapa kebiasaan lainnya dari beliau yang sangat berkesan bagi saya. Pertama, beliau seorang yang sangat ramah kepada siapa pun. Popularitas yang dimiliki sama sekali tidak membuatnya bersikap seperti orang yang anti terhadap masyarakat kecil.

Baca Juga:  27 & 28 Mei Matahari Kembali Melintas Tepat di Atas Ka’bah, Ayo Cek Arah Kiblat

Kebiasaan beliau di pagi hari adalah bersepeda keliling desa. Terkadang juga mampir di tempat-tempat pedagang kaki lima pinggir jalan. Saya juga seringkali diajak beliau jajan di beberapa tempat makan khas padang kesukaan Buya dengan motor butut milik saya. Pernah juga diajak pergi satu mobil dengan beliau dan istrinya.

Satu hal unik dari Buya yang membuat penulis tersenyum ketika membayangkannya ke mana-mana tidak pernah bawa dompet. Uangnya hanya dikaretin saja dalam saku beliau. Ini kenangan yang tak terlupakan dari Buya untuk penulis dan juga bukti nyata atas kesederhanaan beliau. Masihkah kita mau bergaya di atas keterbatasan kita? Sedangkan beliau memilih untuk kesederhanaan di atas segala popularitasnya?

Selain kesederhanaan beliau, Buya juga memiliki prinsip pantang merepotkan orang lain. Sekali pun itu hal yang sepele. Pernah ketika kursinya hendak saya siapkan beliau menolak untuk tidak usah repot-repot. Apa pun yang selama beliau bisa lakukan sendiri akan beliau lakukan sendiri.

Pengaruh yang Buya berikan kepada saya juga tidak hanya segi keteladanannya tetapi Buya juga membimbing saya untuk belajar terus jangan sampai puas dengan ilmu yang sudah dimiliki.

Beberapa pesan singkat Buya yang saya ingat seperti: “Jika kamu yakin akan suatu kebenaran maka jangan ragu untuk menyampaikan.”

Beliau juga sering mengutip kata-kata dari Sahabat Ali dalam kitab Nahjul Balaghohnya: “Khudzil hikmah walau min ahlinnifaq” Ambillah hikmah walau datang dari seorang munafik.

Kritik beliau atas kehidupan umat Islam amat tegas dan lugas, “Kita ini ‘khoiro ummat’ sebaik-baik umat tetapi apa yang terjadi? Kita selalu membuntut pada peradaban Barat. Kita terkapar di bawah kaki peradaban.” Demikian yang sering beliau ulang-ulang kepada siapa pun yang ditemuinya ketika membicarakan ilmu.

Baca Juga:  85 Tahun Buya Syafii Maarif: Bapak Bangsa Yang Tidak Pernah Lelah Sumbangkan Pikiran

Beberapa kali kami juga berdiskusi seputar pemikiran Islam, terutama tentang bagaimana pemikiran Fazlurrahman yang merupakan guru beliau. Hingga akhirnya ketika skripsi pun saya terinspirasi untuk menulis tentang pemikiran Islam Fazlur Rahman. Saya bayangkan sekarang beliau sudah bertemu guru idolanya itu.

Sebenarnya banyak sekali perhatian, kebaikan dan kehangatan beliau yang saya dapat namun tidak bisa saya tuliskan karena itu amat banyak. Sekarang Buya sudah ada di dimensi lain yang lebih nyata, dalam hati saya bergeming.

“Engkau tak akan gentar di hadapan malaikat munkar nakir, mereka juga malu mendiktemu Buya dengan pertanyaan kubur. Terlalu banyak amal yang kau bawa Buya”. Seperti halnya Gus Mus Sahabat beliau berkata: “Muslim sejati adalah manusia yang paham manusia dan yang paling memanusiakan manusia” salah satunya adalah engkau Buya.

Selamat jalan Buya Syafi’i Ma’arif. Semoga diriku bisa berjumpa kembali denganmu nanti.

Artikel kiriman Fatah Saiful Anwar, Marbot Masjid Nogotirto.
Masjid berada di kompleks perumahan lokasi kediaman Buya Syafii Maarif di Nogotirto, Gamping, Sleman, DIY. Artikel diedit seperlunya sesuai kebijakan redaksi.

 

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

PMII

ACT Terindikasi Pendanaan Terorisme, PMII Sarankan Kader Lebih Selektif Memilih Lembaga Filantropi

Jakarta —  Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan transaksi yang diduga berkaitan dengan …

menko pmk muhadjir effendy

Resmi Cabut Izin PUB ACT, Pemerintah Sisir Izin Lembaga Pengumpul Donasi Lain

Jakarta – Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) sedang dalam sorotan karena terindikasi menyelewengkan dana umat, …