Keteladan Nabi: Tidak Pernah Dendam Ketika Dakwah Ditolak

0
397
keteladanan nabi

Sepeninggal pamannya, Abu Thalib beserta bibinya, dan istri tercinta, Ummul Mukminin Khadijah r.a, ancaman serta penderitaan yang diterima Rasulullah dari kaum kafir Quraisy di kota Makkah semakin dahsyat. Mereka semakin berani dan secara terang-terangan menyakiti Beliau. Karena alasan tersebut, Rasulullah berencana melakukan perjalanan ke Thaif bersama dengan Zaid bin Haritshah.

Mayoritas penduduk Thalif adalah penyembah berhala. Jarak tempuh dari Makkah untuk sampai ke kota tersebut sekitar 80 kilometer atau memerlukan perjalanan 4 hari dengan berjalan kaki dari. Selain bertujuan untuk berdakwah,  mencari suaka dan perlindungan orang-orang Thaif dari gangguan kaum Quraisy adalah alasan Nabi pergi ke kota itu.

Derita di Kota Thaif

Sesampainya Nabi di kota Thaif, beliau langsung menemui tiga bersaudara yang merupakan kepala suku penduduk Thaif. Mereka adalah putra-putra dari Amru bin ‘Umair Ats-Tsaqafi yaitu Abdi Yalail, Mas’ud, dan Hubaib. Rasulullah  menghadap mereka dan mengajak mereka masuk Islam.

Berkatalah salah seorang dari mereka, “Dia akan menyobek-nyobek kain pakaian Ka’bah, seandainya benar Allah mengutus kamu.” Orang kedua berkata, “Apakah memang Allah tidak mendapatkan orang lain selain kamu.” Dan orang ketiga mengatakan, “Demi Allah, aku tidak akan berbicara denganmu. Karena sekiranya kamu sebagai Rasul, tentu kamu orang yang sangat berbahaya jika aku membantah ucapanmu.” Maka Rasulullah beranjak meninggalkan mereka seraya berpesan kepada mereka, “Jika kalian bersikap demikian, maka tolong rahasiakanlah keberadaanku disini oleh kaum Quraisy.”

Di hari lain di kota itu, Rasulullah  bertemu dengan para pemuka Thalif. Rasulullah mulai berdialog serta mengajak mereka bertaubat serta mengikuti ajaran Allah. Para pemuka kota Thalifpun menolak ajakan beliau serta marah dengan ajaran yang disampaikan kepada mereka. Merekapun berkata, “Keluarlah kamu dari negeri kami.” Karena rasa tidak sukanya mereka kepada Rasulullah maka mereka pun  mulai memprovokasi penduduk di sana.

Provokasi itu pun berhasil. Penduduk Thalif ikut marah serta ingin mengusir Nabi dengan cara yang kejam agar Beliau tidak kembali ke kota mereka lagi. Berkumpullah para penduduk Thaif, mereka berdiri berderet menghadap Nabi. Sungguh sadis, mereka melempari Nabi dengan batu besar dan keras ke tubuh dan kepala Rosul dan sahabatnya Zaid bin Haritsah hingga darah mengucur dari badannya. Meski Zaid bin Haritsah sudah berusaha melindungi beliau dengan tubuhnya, namun tetap saja tubuh Rasulullah masi terkena lemparan batu dari kaum tersebut.

Akibat derita itu, Rasul dan Zaid melarikan diri ke kebun milik `Utbah bin Ra bi’ah. Di sana mereka beristirahat dan mengobati luka. Di saat itu pria Kristen bernama Addas melihat Rasulullah yang sedang mengobati lukanya seraya memberikan anggur yang masih bergantungan di tangkainya.

Sebelum memakannya, Rasul mengucapkan bismillah. Mendengar kalimat tersebut, Addas berucap : Orang di sini tak pernah mengucapkan kalimat itu. Lalu Rasulpun bertanya berasal dari daerah mana Addas. Maka Addaspun menjawab bahwa iya berasal dari Mosul, Irak. Lalu Rasul juga menanyakan apa agamamu, maka Addas menjawab, dia mengikuti ajaran Nabi Yunus.

Lalu, Rasul menjelaskan Yunus adalah anak Matta, yang juga saudara Rasulullah. Seketika pria itupun mengetahui bahwa orang yang di depannya adalah utusan Allah. Hal itu mengantarkan Addas bersyahadat dan mengikuti ajaran yang diberikan oleh Rasulullah. Setelah itu Addaspun beranjak untuk kembali bekerja kembali di kebun tersebut.

Dakwah Butuh Kesabaran, Bukan Dendam

Rasul kembali mengobati luka. Ketika itu Rasulullah bermunajat kepada Allah SWT agar dirinya dikuatkan menghadapi cobaan yang begitu berat. Di saat itu pula Allahpun langsung menjawab doa Rasulullah, melalui Malaikat Jibril yang datang ke hadapan beliau seraya berkata, “Apakah engkau mau aku timpakan dua gunung kepada mereka (masyarakat Thaif)? Kalau itu kau inginkan maka akan Aku lakukan.”

Mendengar penawaran itu apa sikap Nabi? Rasul menolaknya, beliau berharap nantinya Allah akan menciptakan generasi bertakwa yang lahir dari tulang rusuk masyarakat negeri Thalif. (HR Bukhari nomor 3.231 dan Muslim nomor 1.795).

Rasa Optimis tinggi yang ditunjukkan Rasulallah memperlihatkan kesabaran Beliau yang luar biasa. Meski dicemooh serta dianiyaya, Rasulullah sama sekali tidak memiliki dendam untuk kaum Thalif. Oleh sebab itulah Beliau termasuk salah satu Rasul yang masuk dalam Rasul Ulul Azmi karena kesabarannya yang sungguh luar biasa. Maka dalam Al-Quran Allah berfirman:

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ ۚ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ ۚ بَلَاغٌ ۚ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ

Artinya: “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.” (QS al-Ahqaf: 35).

Keteladanan Nabi di atas menjadi salah satu contoh yang patut ditiru oleh para dakwah dan penceramah saat ini. Nabi tidak pernah kenal lelah dalam berdakwah. Sekalipun dicaci maki bahkan disakiti Nabi memilih bersabar. Bahkan Nabi mendoakan mereka yang menyakiti sebagai orang yang tidak paham agama.

Melaknat dan memohon adzab kepada mereka yang belum bisa menerima ajaran agama, bukan sikap juru dakwah. Para da’I harus melampaui egonya sendiri dengan selalu sabar dan memohon kepada Allah agar yang disampaikan memberikan manfaat bagi dirinya dan bagi orang lain.