cinta allah
cinta

Sering Gagal Cinta? Cinta kepada Allah Tidak Akan Pernah Ditolak, Ini Kuncinya!

Kita sebagai manusia dibekali Allah dengan perasaan cinta. Pada dasarnya cinta merupakan sebuah anugerah dan fitrah kemanusiaan. Cinta merupakan sebuah dorongan perasaan dan gejolak hati dari seseorang untuk menanggapi sesuatu dengan penuh kelembutan, kasih sayang dan gairah.

Meski cinta merupakan sebuah fitrah yang berwujud suci. Namun kerap kita jumpai cinta kepada  manusia justru menjadi sebuah boomerang, malapetaka dan kehancuran bagi seseorang. Karena itu, meski cinta merupakan sebuah fitrah namun cinta juga memerlukan akal sehat, karena belum tentu cinta yang kita rasakan juga dirasakan oleh orang yang kita cintai.

Gagal dalam pencarian cinta sudah biasa. Kecewa, frustasi dan seolah dunia sudah kiamat. Namun, beda halnya dengan mencintai Allah. Tidak akan pernah ada kegagalan dan bertepuk sebelah tangan. Cinta dengan makhluk, rasa cinta kepada Allah justru dijamin akan berbalas. Rasa cinta kepada Allah juga akan memicu manisnya rasa iman yang dimilikinya.

Nabi Muhammad pernah berkata, sebagaimana diriwayatkan Anas bin Malik, “Ada tiga perkara yang jika ketiganya dimiliki seseorang maka dia (dapat) merasakan manisnya iman. Yaitu orang yang hanya mencintai Allah dan RasulNya, orang yang hanya mencinta atau tidak mencinta karena Allah, dan orang yang enggan kembali dalam kekufuran setelah Allah menyelamatkannya dari kekufuran itu sebagaimana dia enggan dilemparkan ke dalam neraka,”.

Indikator Cinta yang Sejati

Cinta seorang hamba kepada Rasulnya juga termasuk mencintai Allah sebagai Tuhannya. Lantas apakah yang menjadi indikator rasa cinta kepada Allah?

Dalam surat Ali Imran Allah banyak menjelaskan tentang siapa saja golongan yang benar-benar mencintai dan dicintai Allah seperti yang terdapat pada Surat Ali Imran ayat 31, 76, dan 159.

Baca Juga:  Syarat yang Harus Dipenuhi Ketika Bertobat

Allah berfirman, Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran ayat 31).

Dalam surat di atas disebutkan bahwa indicator mencintai Allah adalah mengikuti peranggai Nabi Muhammad. Apa yang bisa ditiru dari Nabi ialah peranggainya atau akhlaknya, dan sifat asihnya, serta menjalankan sunnahnya dan memperbanyak shalawat untuknya. Balasan orang-orang yang mencintai Tuhan dan utusannya ialah pengampunan atas dosa-dosa ketika di hari akhir kelak, dan dipastikan ketika kita mengikuti sunnah Rasulullah, kita akan diberikan syafaatnya.

Lalu, jika kita sudah mencintai Allah dan mengikuti Rasulullah, tapi Allah belum juga membalas cinta kita bisa jadi cinta kita tidak tulus atau bahkan bisa dikatakan cinta kita palsu. Orang yang mencintai Allah juga tampak dari perilakunya. Salah satu perilaku yang dicintai Allah adalah tawakkal.

 

Dan Allah berfirman dalam surat Ali Imran 159, “…Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Allah menyukai orang-orang yang bertawakal, bukan orang-orang yang mudah menggerutu dan berputus asa. Tawakal ialah sikap yang menyerahkan apa yang telah dilakukan kepada Allah. Sikap ini muncul karena keyakinan bahwa apa saja yang diperbuat manusia, hasilnya tidak bisa dipastikan.

Balasan dari cinta kita kepada Allah denga sikap tawakal kita ialah dengan cara Allah akan memberi ketenangan dari ketakutan duniawi, Allah akan membuatnya nyaman dan tenang dari sesuatu yang telah ia takuti dan khawatirkan, dan Allah akan memberi kepadanya segala macam kebutuhan yang bermanfaat bagi dirinya.

Dan bagi kita yang mengaku cinta Allah tetapi masih senang dengan maksiat, tenang, Allah juga masih menyisakan cinta untuk kalian yang memilih bertaubat dari kemaksiatan yang telah dia lakukan, dalam surat al-Baqarah ayat 222 di jelaskan, “…Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

Maka bertaubatlah kalian supaya kalian bisa dicintai Allah dan mendapatkan berkah dari kecintaan Allah kepada kalian yang mencintai-Nya. Mulai dari mencintai pecinta-Nya yang sejati dan mulai membenahi diri untuk melakukan apa yang Allah sukai dari umatnya.

Baca Juga:  Mengapa Rasulullah Berpoligami?

 

Bagikan Artikel ini:

About Puji Rahayu Ningsih

Avatar of Puji Rahayu Ningsih

Check Also

10 hari terakhir ramadhan

Anjuran dan Cara Rasulullah Menghidupkan 10 Hari Terakhir Ramadan

Ramadan kini telah memasuki fase 10 hari terakhir. Di fase ini ada waktu yang banyak …

beda nuzulul quran dan lailatul qadar

Sama-sama Terjadi di Bulan Ramadan, Apa Beda Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar?

Nuzulul Quran dan lailatul Qadar merupakan dua peristiwa bersejarah yang terjadi di bulan Ramadan. Dua …