perayaan idul adha
perayaan idul adha

Khutbah Idul Adha – Belajar Ikhlas Dan Tidak Egois Dari Nabiyullah Ibrahim dan Nabi Ismail

Khutbah I

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاَتُهُ

 (3ء) اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ للهِ الْقَائِلِ (وَللهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً)، وَأَشْهَدُ أّنْ لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

(أَمَّا بَعْدُ).

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَأَحَثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia

Kalimat takbir dan tahmid berkumadang menandakan datangnya hari Idul Adha, hari yang dinantikan dan menjadi kegembiraan umat muslim diseluruh dunia, hari yang dilalui dengan keceriaan dari umat muslim tanpa melihat status sosial. Namun demikian, hampir dua tahun ini pandemi Covid-19 masih melanda seluruh negeri bahkan dunia, kegembiraan yang mungkin tidak sepenuhnya, karena dalam hari – hari tahun ini dipenuhi dengan berbagai duka dan sakit yang datang silih berganti. Maka melalui momentum Idul Adha sekang inilah patut kembali kita renungkan bagaimana seorang Nabiyullah Ibrahim dan putra tercinta Nabi Ismail harus melaksanakan perintah Allah SWT. Perintah yang datang tiba-tiba dan tidak disangka harus mengorbankan putra semata wayang yang paling dikasihi dan diharap-harapkan menjadi generasi penerus perjuangan menyebarkan agama Allah. Dalam Al- Quran gambaran peristiwa yang sangat jelas sehingga kita dapat mengambil hikmahnya, terutama dimasa pandemi sekarang ini, bagaimana keikhlasan seorang ayah dan anak dalam melaksanakan perintah Allah SWT. Seperti terekam dalam surah As Shaffat ayat 102 : 

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. As Shaffat : 102)

Baca Juga:  Khutbah Jumat - Hamba Beriman, Sedih Berpisah Dengan Ramadhan

Gambaran keihlasan Nabi Ibrahim dan Putranya terekam dengan jelas dalam surah tersebut, maka tentu dalam menghadapi wabah Covid- 19 perlu kita belajar dari sikap Nabi Ibrahim dan Ismail. Memang sudah pasti kita bukanlah seorang Nabi, namun kehidupan Nabi dapat kita jadikan satu pegangan untuk menuju kepada Takwa kepada Allah SWT, sehingga kita tidak menggampangkan satu persoalan, terutama menyangkut keselamatan dan keimanan. Kita berharap dengan meniru sikap Nabi Ibrahim dan Ismail. Cobaan berupa Covid- 19 akan segera berlalu dan digantikan dengan kebahagiaan oleh Allah SWT sebagaimana Nabi Ismail yang kemudian diganti dengan domba, hal ini terekam pula dalam surah As Shaffat : 

قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (QS. As Shaffat : 105-107)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Peristiwa tersebut mengajarkan kepada kita sekalian untuk selalu berserah diri kepada Allah SWT dan melalui perintah kurban tersebut selanjutnya kita juga setiap tahun melaksanakan kurban bagi yang mampu sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah SWT. Kurban berupa domba maupun sapi yang kita sembelih kemudian dibagikan kepada golongan orang yang kurang mampu yaitu fakir miskin sebagai sebuah bentuk kepedulian serta memberikan sebagian harta yang kita miliki kepada sesama terutama bagi yang membutuhkan, dari hal inilah kemudian kita semua belajar tentang bagaimana mengimplementasikan ketakwaan kepada Allah SWT, kita juga belajar tentang kesetaraan dihadapan Allah tanpa memandang status sosial, ibadah kurban juga memberikan pesan akan pentingnya empati terhadap orang lain, serta menyembelih ego pribadi untuk kemanfaatan bersama, pesan lainya yaitu pentingnya memperkuat persaudaraan umat muslim, persaudaraan sebangsa dan persaudaraan sesama umat manusia bagi keutuhan NKRI yang kita cintai.

Hadirin yang berbahagia,

Baca Juga:  Makna Qurban: Bagaimana Korbankan Ego Untuk Kepentingan Bersama

Melalui momentum Idul Adha dan semangat berkurban, marilah jangan sampai kita hanya semangat berkurban menyembelih hewan saja, namun lebih dari itu marilah bersama-sama kita niatkan menyembelih sifat dengki, hasut, iri, dendam, intoleransi sehingga dimasa yang serba sulit ini kepekaan sosial kita akan semakin tinggi dan tidak lagi mementingkan kepentingan pribadi, namun menumbuhkan rasa sayang dan empati terhadap sesama, terutama kepada saudara kita yang sedang terkena sakit atau sedang melakukan isolasi mandiri, sebisa mungkin kita berperan dalam membantu saudara-saudara kita dengan kemampuan kita masing-masing.Setelah tertanam rasa kasih sayang terhadap sesama, selanjutnya yang juga penting adalah sifat berbagi karena sesuai dengan sabda Nabi Muhammad bahwa  berbagai merupakan ajaran Islam yang baik, sifat ini tertuang dalam hadist yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr r.a. bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW: “Ajaran Islam apakah yang baik?” Nabi SAW menjawab, 

تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ 

(رواه البخاري ومسلم)

“Memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan kepada orang yang tidak kamu kenal.” (HR. Bukhari, No: 28, Muslim, No: 126).

Rizki yang kita peroleh semuanya dari Allah SWT, maka sebagai seorang muslim yang baik tentu akan mengetahui bahwa untuk meraih keberkahan wajib berbagi terutama bersama orang-orang yang kurang mampu, karena keberkahan bukanlah dari banyaknya harta atau rizki yang didapat melainkan dari seberapa kita berbagi terhadap sesama. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, Nabi SAW bersabda: 

طَعَامُ الِاثْنَيْنِ كَافِي الثَّلاَثَةِ، وَطَعَامُ الثَّلاَثَةِ كَافِي الأَرْبَعَةِ (رواه البخاري ومسلم)

“Makanan satu orang cukup untuk dua orang, dan makanan dua orang cukup untuk empat orang”. (HR. Bukhari, No: 5392, Muslim, No: 2058).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Dengan demikian, esensi dari hari raya Idul Adha dimasa pandemi adalah bagaimana kita menyadari bahwa kasih sayang terhadap sesama adalah dengan saling menjaga yaitu menerapkan prokes dan melaksanakan anjuran kesehatan yang dituntunkan oleh ulil amri dan ulama. Selain itu, adalah bagaimana kita menjadi seorang hamba yang mampu menjaga tali persaudaraan antar sesama manusia serta mampu mengimplementasikan ketakwaan kepada Allah SWT melalui berbagi kebahagiaan serta solidaritas sesama anak bangsa. Sedangkan daging kurbannya adalah diperuntukkan bagi yang berhak. Tidaklah akan sampai kepada Allah darah dan daging kurban itu, yang sampai kepada Allah adalah ketakwaan dari mereka yang melakukan kurban tersebut.

Baca Juga:  Khutbah Jum’at - Meningkatkan Ibadah Di 10 hari Kedua Ramadhan

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah Telah menundukkannya untukmu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepadamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Haj, 22:37).

عِبَادَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فِي هذَا الْعِيْدِ السَّعِيْدِ وَأَحَثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ، فَمَنْ أَطَاعَهُ فَهُوَ السَّعِيْدُ وَمَنْ أَعْرَضَ وَتَوَلَّى فَهُوَ فِي الضَّلاَلِ الْبَعِيْدِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

 (7x) اَللهُ أَكْبَرُ

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. اَللّهُمَّ ارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، اَللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلًا وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَتَوْبَةً نَصُوْحًا، اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمْسُلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، اَللّهُمَّ أَصْلِحِ الرُعَاةَ وَالرَّعِيَّةَ وَاجْعَلْ إِنْدُوْنِيْسِيَّا وَدِيَارَ الْمُسْلِمِيْنَ آمِنَةً رَخِيَّةً، رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فىِ السِّرِّ وَالْعَلَنِ وَجَانِبُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

KH Cholil Nafis

Kiai Cholil: Khotbah Yang Baik Tak Terlalu Panjang dan Salatnya Yang Lebih Lama

Jakarta – Wadah Silaturrahmi Khatib Indonesia (Wasathi) mewacanakan usulan khotbah di masjid-masjid di seluruh Indonesia …

Rashad Hussain

Rashad Hussain, Muslim Pertama Yang Dinominasikan Presiden Biden Jadi Dubes Amerika Untuk Kebebasan Beragama

Washington DC – Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menominasikan Rashad Hussain sebagai Duta Besar …