Kiayi Subkhi
Kiayi Subkhi

Kiayi Subkhi : Bambu Runcing yang Didoakan Menjadi Senjata Perjuangan

Kiai Haji Subkhi, atau yang dikenal dengan julukan “kiai bambu runcing” merupakan salah satu ulama yang sekaligus pejuang kemerdekaan bangsa. Beliau juga dikenal sebagai guru dari Presiden Soekarno. Di kalangan Nahdliyin, Kiai Subkhi merupakan salah satu kiai pendiri NU yang juga mampu menjadi sumber spirit dan penyemangat para pejuang Hizbullah dan Sabilillah di garis depan perlawanan terhadap agresor Belanda.

Kiai Subkhi lahir di Parakan, Kauman, Temanggung sekitar tahun 1850. Kiai Subkhi adalah putra sulung KH. Harun Rasyid, seorang penghulu masjid di desanya. Julukan dari kiai bambu runcing beliau dapatkan karena, doa yang diucapkan oleh Kiai Subchi untuk menyepuh ribuan bambu runcing yang akan digunakan melawan belanda kala itu.

Sebelum ke medan perang, setiap malam diadakan mujahadah di kalangan para anggota laskar dan para kiai di Langgar Wali, kauman, Parakan. Siang harinya mereka puasa mutih dan malamnya shalat hajat, shalat tahajud, membaca wirid-wirid termasuk Hizbun Nasr dan Hizbul Bahri, serta bacaan Shalawat Nariyah sebnayak 4.444 kali dengan berjamaah dan bacaan Shalawat Munjiyat sebanyak seribu kali.

Kiai Subkhi diminta untuk menyepuh senjata bambu runcing yang nantinya dibawa para pejuang. Penyepuhan dilakukan dengan membasuh senjata tersebut dengan air suci lalu memberinya doa-doa dan wirid tertentu agar efektif untuk membela diri maupun untuk menyerang musuh.

Selama proses pengisian doa-doa pada senjata para pejuang, beliaupun menjalankan puasa dan menghafal doa-doa disertai latihan pengisian tenaga dalam. Proses penyepuhan itu disebut juga menyuwuk, dari kata isuwuk, yakni memberi doa-doa di bagian ujung bambu runcing.

Kisah penyepuhan bambu runcing yang dilakukan oleh Kiai Subchi ketika terjadi perlawanan dari laskar santri dan rakyat Indonesia di Surabaya pada 10 November 1945, rakyat Semarang mengadakan perlawanan yang sama ketika tentara sekutu juga mendarat Surabaya.

Baca Juga:  Tajin Suro di Muharram : Antara Tradisi dan Ajaran

Kabar pecahnya peperangan di sejumlah daerah tersebut juga tersiar ke daerah Parakan. Dengan niat jihad fi sabilillah untuk memperoleh kemerdekaan dan menghentikan ketidakperikemanusiaan penjajah, Laskar Hizbullah dan Sabilillah Parakan ikut bergabung bersama pasukan lain dari seluruh daerah Kedu.

Dari semangat jihad yang ditularkan oleh fatwa resolusinya Kiai Hasyim Asy’ari, para laskar yang terdiri dari santri dan masyarakat bahu membahu berjuang agar dapat terlepas dari belenggu penjajah. Oleh karena itu, Kiai Subchi memberikan bekal berupa doa kepada barisan Hizbullah dan Sabilillah.

Tentara Indonesia berbaris dengan bambu runcingnya yang telah disepuh oleh Kiai Subchi di tangan mereka. Jiwa nasionalisme Kiai Subchi tertanam atas dasar agama dan bangsa Indonesia. Bukan hanya Kiai Subkhi yang memiliki rasa nasionalisme seprti ini. Beliau juga berjuang melawan penjajah dengan gabungan pejuang dari berbagai etnis dan agama yang berbeda.

Peran Kiai Subkhi yang banyak berpengaruh menjadikan beliau incaran Belanda. Dalam agresi militer kedua yang dilancarkan Belanda pada Desember 1948, mereka mendobrak rumah beliau, namun ternyata Kiai Subkhi telah melarikan diri keluar kota bersama beberapa kiai lainnya.

Namun sayangnya putra beliau, Kiai Abdurrahman tertembak oleh pasukan Belanda setelah berupaya melakukan perlawanan. Beliau merupakan syuhada pertama sejak Gerakan Bambu Runcing dari Kauman Parakan digelar. 

Kiai Subkhi wafat di umur 109 tahun pada tanggal 6 april 1959 dan dikebumikan di pemakaman Sekucen, Parakan Kauman, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Atas jasa-jasa beliau, masyarakat sekitar memberikan nama pada jalan di daerah Parakan dengan nama Beliau.

Senjata Bambu Runcing dan foto beliau dipajang di Museum Monumen Yogya Kembali di Yogyakata. Apapun yang dilakukan oleh Kiai Subkhi dilakukan semata-mata karena kecintaannya terhadap Indonesia merdeka dan untuk masa depan bangsa.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Imam Santoso

Avatar