Screen Shot at PM
Screen Shot at PM

Kisah Cinta Donna Dan Eks Mentri Abdul Latief Yang Membawanya Pada Islam

Jakarta – Hidayah Islam kerap kali hadir tanpa disangka-sangka, seperti yang terjadi pada Donna Latief. Iya Hidayah datang melalui suaminya yang merupakan mantan pejabat pada zaman Soeharto yaitu mantan Menaker (menteri Tenaga Kerja) Abdul Latief.

Donna merupakan seorang yang mempunyai latar belakang Katolik dan berpendidikan tinggi, sebelum hidayah itu datang, Donna sempat menjadi anchor di stasiun televisi Lativi. Ternyata melalui stasiun inilah Donna mendapatkan hidayah Islam.

Pemilik nama asli Donna Louisa Maria yang kini berganti menjadi Ainahaq Donna Abdul Latief itu dahulu dibesarkan di keluarga Katolik. Sejak muda hingga ambil S2 pun memiliki background Katolik dan aktif di kegiatan agama di lingkungannya.

“Saya dibesarkan di keluarga Katolik, dari kecil, saya ambil S2 pun saya semuanya itu background-nya semua Katolik,” ungkapnya, dilansir YouTube Venna Melinda Channel. Dan dikutip dari laman haibundacom. Minggu (04/07/21).

Cita-citanya saat itu sederhana, ia ingin menjadi jurnalis. Seperti ditakdirkan untuk bertemu sang suami, ia bergabung menjadi anchor dalam stasiun tv milik suaminya itu yaitu Lativi.

Saat itu, Donna mengaku sangat mengagumi Abdul Latief meski tak kenal secara langsung. Begitu pindah posisi kerja menjadi PR di perusahaan milik Abdul Latief, tanpa disangka, ia dikenal lalu dilamar oleh sang bos. Dengan background agama yang kuat, Abdul Latief meyakinkan Donna untuk masuk Islam.

Dari pengakuannya, Donna sepertinya melihat semua agama itu baik. Namun, ia mengaku satu hal yang menjadi syarat menikahinya adalah suami punya agama yang kuat, apapun agamanya itu. Perbedaan usia hingga 35 tahun pun tak menjadi penghalang untuk mantap menerima pinangan Abdul Latief di tahun 2003.

Syarat pentingnya itu ternyata ada pada Abdul Latief. Hidayah Islam Donna tak disangka-sangka datang dari calon suaminya kala itu.

Baca Juga:  Solidaritas Terhadap Umat Muslim, Perempuan Selandia Baru Ikuti Jumat Berjilbab

“Saya memang cari suami yang penting tuh agamanya kuat, memang cari yang itu. Dan memang ini juga jalannya, menjawab hidayah saya jauh sebelum bertemu dengan Pak Latief,” katanya.

“Jadi, ketika mendapat panggilan ini, bertemu dengan beliau. Beliau membimbing saya untuk Islam saya. Dan Alhamdulillah.. itu lah.. amazing aja gitu.”

Tak sampai situ, Donna Latief semangat belajar tentang Islam dan membuka komunitas kajian studi Islam.

Setelah masuk Islam lewat bimbingan suami, Donna Latief mendirikan Maha Indonesia bersama sahabatnya Dr. Mari Mulyani di 2014. Sahabatnya itu merupakan pengajar di Oxford University.

Donna dan sahabatnya itu sepakat membuat komunitas kecil itu untuk memperdalam agama Islam. Di Oxford sendiri, kata Donna, ada pusat studi agama Islam.

“Dan saya menemukan pelajaran gama Islam yang berbeda yang saya pelajari di Indonesia. Kemudian kita buat, setelah saya aktif membuat kajian, kebetulan ada Masjid Al Latief,” kata Donna Latief.

Keinginannya mendirikan komunitas karena ia ingin ada wadah, dan kebetulan animonya disambut dengan baik, serta ia juga punya koneksi berbagai ulama, Bunda. Visi misi komunitasnya yaitu fokus pada Islam, beragama, dan bersedekah. Kini komunitas tersebut sudah menyebar ke Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan.

Menjadi mualaf, Donna menegaskan pentingnya seseorang untuk istiqomah dalam agamanya. Baca kelanjutannya di halaman berikut.

Setelah kurang lebih 18 tahun menikah dan menjadi mualaf, Donna Latief menegaskan pentingnya seseorang untuk istiqomah dalam agamanya.

“Saya benar-benar mendalami sampai insyaAllah saya fasih baca kaligrafinya itu. Karena saya memang senang saja,” ucapnya.

 “Iman naik turun itu wajar karena ada godaan kan. Nah, itu harus istiqomah. Kenapa menjaga mata hati kita terdengar lebih baik karena kita istiqomah,” katanya.

Baca Juga:  Peran Strategis Ormas dan Tokoh Agama Harus Dimaksimalkan Untuk Tangkal Radikalisme

Ia kemudian mengambil contoh simpel yaitu dengan ibadah salat dhuha. “Contohnya, kita kan Islam, apabila kita melakukan salat dua rakaat dhuha. Contoh, yang enteng aja dulu deh, semampu kita enggak usah 4 enggak usah 8 [rakaat], dua dulu deh,” tuturnya.

Dengan melakukannya secara rutin, kontinyu, menurut Donna, dari situlah nanti seseorang akan dapat hidayah dan akan dijaga mata hatinya, Bunda.

“Dan apabila ingin melakukan hal yang tidak baik, itu ada pagar pasti. Itu lah menjaga. Pagar itu lah yang dari kita ritualkan tiap hari, yang malaikat juga. Saya percaya apa yang dari kitab suci itu kan. Itu menjaga kita, karena keistiqomahan kita,” ujar Donna Latief.

Saat disinggung soal baca Alquran, Donna bersyukur ia bisa baca kaligrafi atau tulisan Arab hanya dalam waktu 6 bulan, Bunda. “Saya akhirnya baca bisa kaligrafi Arab karena saya belajar enam bulan, intens sih,” katanya.

“Saya juga sudah khatam, tapi saya juga khatam [tulisan] Arabnya. Tapi benar deh Venna, jangan baca latinnya harus baca Arabnya. Beda rasanya, beneran deh. Aku juga belajar itu, fokus itu. Tapi aku bahagia akhirnya aku bisa khatam dengan bahasa Arab. Aku pengen terusan, aku juga ambil kajian studi Islam.”

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

pasukan pemerintah melintasi masjid di marawi city filipina selatan

Masjid Agung Marawi City Kembali Dibuka Setelah Direnovasi Pasca Pengepungan Kelompok Teroris Daes

MARAWI—Marawi, Filipina sempat mejadi daerah yang sangat berbahaya, daerah yang dikepung oleh pasukan teroris yang …

makanan maulid

Ini 7 Makanan Khas Yang Selalu Hadir Pada Bulan Maulid Nabi di Berbagai Daerah yang Rasanya Enak

Jakarta – Masyarakat Indonesia mempunyai cara yang khas dalam menyambut dan merayakan Maulid Nabi Muhammad …