perbedaan para sahabat
kisah sahabat

Kisah dan Hikmah Perbedaan Pendapat Para Sahabat

Berislam secara Kaffah adalah menjalankan ajaran Islam secara totalitas. Sebuah praktik beragama Islam paling ideal. Ini, hanya dimiliki oleh generasi terbaik umat Islam. Siapa lagi kalau bukan para sahabat.

Dengan demikian, pengetahuan Islam kita hari ini tidak akan se-Kaffah pengetahuan para sahabat. Kedekatan dengan Nabi merupakan faktor utama kesempurnaan pengetahuan agama Islam para sahabat. Dan, hal ini juga dipertegas sendiri oleh Nabi, bahwa umat Islam terbaik adalah umat yang hidup semasa dengan beliau.

Satu hal yang sering luput dari pengamatan kita, meskipun para sahabat disebut sebagai umat terbaik dan hidup satu zaman dengan Nabi, namun perbedaan yang terjadi dikalangan mereka justru lebih tajam dari perbedaan kita saat ini.

Namun demikian, sekalipun perbedaan pendapat terjadi begitu tajam, tapi tidak mempertajam permusuhan karena perbedaan pendapat tersebut. Mereka tetap saling menghormati dan menghargai. Beda dengan kita sekarang, perbedaan pendapat justru dianggap sebagai ancaman. Konsekuensinya, setiap yang berbeda harus dilenyapkan.

Salah satu bukti bahwa perbedaan pendapat terjadi di antara kalangan sahabat adalah ungkapan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang dikutip dalam kitab Al Inabah al Kubra dan Faidh al Qadir.

“Aku tidak gembira seandainya sahabat Nabi tidak berbeda pendapat, sebab jika tidak ada perbedaan pendapat di antara mereka, maka tidak akan ada rukhshah (keringanan)”.

Selain sebagai bukti adanya perbedaan pendapat di kalangan para sahabat, apa yang dikatakan oleh Umar bin Abdul Aziz juga sebagai penanda adanya hikmah-hikmah di balik perbedaan yang melingkupi sahabat Nabi.

Bagi mereka perbedaan adalah rahmat, sesuatu yang niscaya dan telah digariskan oleh Allah. Setajam apapun perbedaan pendapat yang terjadi di antara mereka, mereka tetap mengedepankan akhlakul karimah; adab dan sopan santun.

Sikap sopan dan santun para sahabat Nabi ketika berada pendapat dikatakan oleh Imam Malik dalam kitabnya Al Muwaththa’.

Tulisnya, “Apabila para sahabat mengalami masalah yang berat, mereka tidak akan langsung menjawab. Tetapi, menunggu jawaban sahabat yang lain”.

Artinya, para sahabat tidak pernah melakukan klaim kebenaran tunggal, tidak ngotot tentang tafsir siapa yang paling benar di antara mereka.

Berbeda dengan kita saat ini, sedikit saja berbeda tuduhan sesat, bid’ah bahkan kafir melayang. Alangkah jauh adab kita dengan adab para sahabat. Padahal, perbedaan umat Islam, utamanya dalam fikih, hanya turunan dari perbedaan para sahabat.

Perbedaan yang ada saat ini sudah terjadi pada masa para sahabat, dan mereka sangat bijaksana menyikapi perbedaan tersebut. Tetapi, kita, saat ini, justru memandang perbedaan perbedaan sebagai suatu ancaman, bukan sebagai rahmat.

Untuk itu, patut kita renungkan perkataan Anas bin Malik, “Umat generasi akhir hanya akan menjadi baik dengan apa yang membuat generasi awal baik”.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo dan Bendahara Umum divisi Politik, Hukum dan Advokasi di PC Fatayat NU KKR

Check Also

gempa masa nabi

Gempa Masa Nabi dan Umar bin Khattab, Apakah karena Tidak Menerapkan Sistem Khilafah?

“NKRI diadzab dengan bencana (gempa) karena anti khilafah”, “khilafah adalah solusi segala problem umat dan …

istri

Fikih Politik Perempuan (3): Haruskah Istri Menaati Suami dalam Pilihan Politik?

Harus diakui, perempuan masih menjadi kelompok rentan di negeri ini dalam segala bidang, tak terkecuali …