nwkupy
nwkupy

Ketua PP Muhammadiyah: Tidak Semua yang Tidak sama dengan Nabi itu Dianggap tidak Sunnah atau Bid’ah

Jakarta – Nabi Muhammad Saw selain sebagai Rasulullah yang menyampaikan wahyu kepada umat manusia, juga merupakan suri tauladan, semua perkataan dan perbuatan rasulullah merupakan sunnah yang harus diikuti oleh seorang muslim, namun demikian tidak semua yang digunakan oleh rasulullah menjadi wajib untuk diikuti seperti makanan pokok atau cara berpakaian, namun substansi dari berpakaian adalah menutup aurat, inilah yang wajib untuk diikuti.

Dalam urusan model busana yang dikenakan Nabi Muhammad SAW bukan suatu yang harus diikuti, karena bukan dalam bagian ibadah khusus. Namun menurut Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, dr. Agus Taufiqurrahman, substansi dari cara berbusana Nabi Muhammad, yaitu menutup aurat harus diikuti.

Dokter Agus seperti dinukil dari web Muhammadiyah.or.id dan republika.co.id Sabtu, (20/8/22). Menjelaskan, warga Muhammadiyah sami’na wa atho’na dengan ibadah-ibadah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, tidak menambahkan dan mengurangi ajaran Nabi. “Orang Muhammadiyah itu juga mengaji, mana yang mahdhah dan ghairu mahdhah. Yang mahdhah itu mutlak harus seperti Kanjeng Nabi, contohnya sholat karena sholat harus seperti yang dilakukan oleh Kanjeng Nabi Muhammad,” kata dr Agus di acara Bakti Sosial di Karimunjawa, Jepara yang diadakan oleh Karyawan Kantor PP Muhammadiyah di Yogyakarta.

Namun, kata dr Agus, model busana yang dikenakan Rasulullah bukan bagian dari ibadah khusus. “Prinsipnya adalah menutup aurat,” kata dia.

“Karena itu, orang Islam bisa memakai batik, lurik, maupun baju koko yang penting adalah menutup aurat bukan modelnya.”

Akan tetapi di sisi lain yang dilarang adalah pakaian ketat atau berpakaian namun tetap memperlihatkan lekuk tubuhnya. Selain dalam urusan cara berpakaian, dalam Islam yang sifatnya dinamis yaitu makanan. Sebab akan berbeda makanan pokok antara bangsa dari Jazirah Arab dengan bangsa yang berasal dari sekitar garis khatulistiwa.

Dokter spesialis saraf RS PKU Muhammadiyah Kota Jogja ini menjelaskan yang substansi dari makanan adalah halalan toyyiban atau makanan yang halal dan baik. Konsep thayyib dalam konteks makanan adalah yang juga menyehatkan dan dapat diterima dengan baik oleh tubuh.

Dokter Agus juga mengingatkan warga Muhammadiyah dalam menempatkan sunnah. Sebab tidak semua yang tidak sama dengan Nabi Muhammad itu dianggap tidak sunnah atau bid’ah. Dia menekankan supaya Warga Muhammadiyah bisa membedakan mana yang budaya Arab dan syariat.

 

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Check Also

amalan bulan rajab

Khutbah Jumat: Keberkahan Di Bulan Rajab

Khutbah I الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانَ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضُ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ …

ivan gunawan 6 43

Ivan Gunawan Sisihkan Sebagian Rizkinya Untuk Pembangunan Masjid di Uganda

Jakarta – Ivan Gunawan, artis multi telanta yang juga merupakan seorang disainer terkenal mempunyai perhatian …

escortescort