maulid nabi
nabi

Ketika Al Qur’an Berbicara Maulid Nabi, Masihkah Dianggap Bid’ah?

Sejengkal hari lagi bulan Rabiul Awal tiba. Bulan yang disepakati oleh mayoritas ulama sebagai bulan kelahiran Nabi. Dialah satu-satunya manusia yang paling sempurna dan paling mulia yang padanya manusia mengharap syafa’at.

Hari kelahirannya diperingati dengan meriah sebagai bukti kecintaan umat Islam. Di Indonesia, perayaan maulid Nabi diisi dengan pembacaan shalawat dan berbagi sedekah makanan. Membaca shalawat merupakan anjuran Allah kepada umat Islam.

Allah saja bershalawat kepada Nabi, demikian juga para malaikat, apalagi umat Nabi Muhammad yang pasti membutuhkan syafa’at beliau. Memang, anjuran bershalawat tidak terikat oleh waktu, kapan saja umat Islam boleh membacanya. Namun membaca shalawat sambil memperingati hari kelahiran beliau terasa lebih khidmat.

Sedangkan shadaqah telah sangat jelas diperintahkan. Shadaqah disamping bernilai ibadah, juga sarana berbagi dan mempererat tali silaturahmi.

Dengan demikian, memperingati hari kelahiran Nabi disertai berbagi sedekah makanan menjadi sarana untuk membaca shalawat secara bersama-sama (berjamaah) dan terjalinnya ukhuwah sesama umat Islam.

Sampai disini, seandainya pun tidak disebutkan dalil-dalil yang menjadi hujjah perayaan maulid Nabi, akal sehat tidak akan mengatakan perayaan maulid Nabi sebagai suatu ritual keagamaan terlarang. Maka, menjadi pertanyaan besar ketika sebagian umat Islam menayatkan maulid sebagai bid’ah alias terlarang.

Dalil Maulid Nabi dalam al Qur’an

Allah berfirman, “Katakanlah, dengan anugerah Allah dan rahmat-Nya (Nabi Muhammad) hendaklah mereka menyambut dengan senang gembira”. (QS. Yunus (10): 58).

Ayat di atas berisi anjuran supaya umat Islam menyambut dengan gembira anugerah dan rahmat Allah. Ulama berbeda pendapat, apa yang dimaksud anugerah dan rahmat?

Shihabuddin al Alusi dalam Tafsirnya Ruhul Ma’ani menjelaskan, sebagian ulama menafsirkan, keduanya adalah al Qur’an. Sementara yang lain menafsirkan anugerah (al fadhl) adalah ilmu, sedangkan rahmat adalah Nabi Muhammad.

Baca Juga:  Bagaimana Muslim Menyikapi isu Komunsime di Bulan September

Penafsiran kedua, yang menyatakan bahwa yang dimaksud rahmat adalah Nabi Muhammad, berdasarkan  pada isyarat ayat al Qur’an, “Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta”. (QS. al Ambiya (21): 107).

Oleh karena itu, menurut Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani dalam Ikhraj wa Ta’liq fi Mukhtashar Sirah al Nabawiyah menjelaskan, bergembira dengan adanya Nabi Muhammad adalah anjuran Allah. Sebagaimana ditegaskan oleh ayat al Qur’an di atas. (QS. Yunus (10): 58).

Bergembira dengan adanya Nabi Muhammad prakteknya bisa beragam. Salah satunya adalah bergembira dengan merayakan hari kelahiran Baginda Nabi. Disamping itu, merayakan maulid Nabi menumbuhkan semangat untuk meneladani uswah beliau.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Standarisasi Dai MUI ke

Dai Harus Siap Hadapi Fenomena Dakwah

Jakarta – Para dai harus siap menghadapi fenomena dalam berdakwah. Salah satu fenomena dalam berdakwah …

Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf

R20 Rekonsiliasikan Hindu-Islam di India

Jakarta – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menggelar Religion 20 (R20) di Bali, 2-3 …