Taubat Nabi Adam
Taubat Nabi Adam

Masihkah Menolak Tawassul? Inilah Kisah Nabi Adam Bertawassul sehingga Taubatnya Diterima

Menjadi orang baik atau orang jahat, masing-masing memiliki konsekuensi. Memilih melanggar perintah konsekuensinya menjadi orang bersalah serta berdosa, sedangkan memilih melaksanakan perintah konsekuensinya menjadi orang baik. Termasuk konsekuensi tentang Nabi Adam yang turun ke bumi atas apa yang ia perbuat.

Nabi Adam dan Ibu Hawa sampai tergoda untuk mengambil dan memakan buah Khuldi, adalah bagian dari grand setting besar Ilahi. Boleh jadi dosa yang dilakukan oleh Nabi Adam dan Ibu Hawa itu, menjadi skenario supaya Nabi Adam lebih mengenal Tuhan.

Selain itu, Tuhan hendak memberikan pelajaran kepada manusia bagaimana cara bertaubat dari kesalahan. Salah satu yang bisa dipetik dari kejadian yang menimpa Nabi Adam, adalah cara ia bertaubat.

Di dalam al Qur’an dikatakan: “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya”. (QS. al Baqarah: 37).

Setelah melakukan dosa itu, kemudian menyesali perbuatannya, Adam mulai menemukan keluasan asma Allah. Ia juga tahu bahwa Allah juga memiliki asma bahwa Allah Maha Penerima Taubat, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang dan sifat welas asih yang lain. Pada saat itu, Adam merasakan begitu purnanya asma Allah di hadapan manusia yang lemah.

Nabi Adam Bertawassul Kepada Nabi Muhammad

Menafsirkan ayat di atas, Jalaluddin al Suyuthi dalam al Durrul Mantsur menulis, Ibnu Abbas bertanya kepada Nabi tentang kalimat-kalimat yang diterima oleh Adam dari Tuhannya, lalu Dia menerima taubatnya. Jawaban Nabi: “Adam memohon kepada Allah dengan hak Muhammad dan keluarganya, kemudian Allah menerima taubat Nabi Adam.

Setelah melakukan kesalahan, kemudia Adam dikeluarkan dari surga dan diturunkan ke bumi, ia mengangis dengan tangisan penyesalan. Kemudian Allah mengutus Jibril menyampaikan firman: “Wahai Adam, bukankah Aku menciptakanmu dengan tanganKu? Bukankah Aku meniupkan ruh Ku ke dalam dirimu? Bukankah Malaikat Ku telah sujud kepadamu? Dan, bukankah Aku menjadikan Hawa sebagai istrimu?”.

Adam menjawab: “Benar”. “Lalu kenapa kamu menangis?”, kata Allah. Adam menjawab, “Bagaimana tidak, sementara aku dikeluarkan dari sisi yang Maha Pengasih”.

Kemudian Allah mengajarkan suatu doa kepada Nabi Adam sebagai media bertaubat kepada Allah. Doa tersebut diawali dengan kalimat tawassul “Ya Allah, aku memohon kepadamu dengan hak Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad”.

Inilah bentuk tawassul yang diajarkan oleh Allah kepada Nabi Adam. Bertawassul dengan perantara Nabi Muhammad beserta keluarga beliau. Ini pula yang hendak diajarkan oleh Allah kepada umat Islam. Supaya umat Islam selalu bertaubat dari kesalahannya. Berproses; dari buruk menjadi baik, dan dari baik menjadi lebih baik. Proses itu dilakukan dengan tawassul kepada Baginda Nabi Muhammad dan keluarganya.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo dan Bendahara Umum divisi Politik, Hukum dan Advokasi di PC Fatayat NU KKR

Check Also

fatwa

Fikih Politik (9): Beda Hukum Fatwa Politik dan Fatwa Politis

Tahun 2023 disebut tahun politik. Suhu politik menjadi lebih panas di tahun. Kontestasi politik meningkat …

rajab

Jawaban Bid’ah Amalan Rajab Menurut Alhafidz Ibnu Hajar al ‘Asqalani

Para ulama telah membicarakan keutamaan bulan Rajab. Ada banyak doa dan amalan yang dianjurkan dilakukan …

escortescort