masjid nusantara
masjid nusantara

Dalil Amaliyah Mayoritas Masjid di Indonesia yang Dianggap Bid’ah

Masjid merupakan tempat berkumpulnya umat Islam untuk melaksanakan amaliyah ibadah. Berbicara mengenai masjid di Indonesia tentu tiap masjid memiliki gaya arsitektur, cara pengelolaannya dan amaliyah para jama’ah di masjid yang berbeda-beda. Tergantung sejarah, lingkungan daerah, sumber daya manusia dan kelompok Islam yang memegangnya

Dalam tulisan ini, penulis tak akan membahas perbedaan-perbedaan gaya arsitektur masjid dan cara pengelolaannya. Namun kali ini akan membahas mengenai amaliyah-amaliyah para jama’ah mayoritas masjid di Indonesia yang dianggap bid’ah. Hal ini penting untuk dibahas, supaya tak ada lagi perseteruan yang disebabkan amaliyah jama’ah yang ada di suatu masjid yang dianggap bid’ah.

Sudah tak asing lagi suara-suara tuduhan amaliyah mayoritas masjid di Indonesia yang dianggap bid’ah oleh suatu kelompok. Amaliyah semisal berdzikir setalah shalat wajib, puji-pujian dan shalawat sebelum shalat, tahlilan dan yasinan yang dilakukan oleh jama’ah dianggap bid’ah yang sesat. Tak ada tuntunannya dari nabi SAW. Apakah demikian?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, pertama-tama kita harus mengingat kembali sabda nabi SAW: “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan, maka ikutilah kelompok mayoritas atau Sawadul A’zham”. Dari hadist itu saja sudah terlihat jelas bahwa tak mungkin para jama’ah di mayoritas masjid di Indonesia melakukan bid’ah yang sesat.

Bagaimanapun mayoritas masjid yang amaliyahnya dianggap bid’ah oleh suatu kelompok itu awalnya didirikan oleh tokoh Islam/kiai/ustadz. Tentu tokoh tersebut berguru kepada kiai yang sanad keilmuannya sampai kepada nabi SAW. Maka dari itu amaliyah-amaliyah yang diajarkan dan kemudian ditradisikan di lingkungan masjid sesungguhnya otomatis sesuai dengan ajaran nabi SAW.     

Jika masih belum yakin atas salahnya anggapan amaliyah mayoritas masjid di Indonesia itu bid’ah, maka di bawah ini akan dikutipkan dalil-dalilnya. Pembahasan mengenai hal ini sebenarnya sudah sering dilakukan. Maka biar lebih jelas kali ini penulis akan merangkum dalil-dalil amaliyah mayoritas masjid di Indonesia yang terutama ditulis oleh ketua komisi fatwa MUI Jatim, KH. Ma’ruf Khozin di bawah ini:

Baca Juga:  Pelajaran Penting dari Kisah Lupanya Nabi Musa Berdo’a Kepada Allah

1. Dzikir Suara Keras Setelah Salat

Riwayat bersumber dari Ibnu Abbas:

اِنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوْا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ

”Sebenarnya mengeraskan (bacaan) dzikir sesudah para sahabat selesai melaksanakan shalat wajib itu telah ada semenjak kurun Nabi SAW.” Ibnu Abbas berkata: “Saya mengerti yang demikian itu setelah mereka melaksanakan shalat wajib dan saya mendengarnya” (HR Bukhari)

2. Pujian Salawat dan Doa Antara Azan dan Iqamah

Fatwa ulama dari Ulama Al-Azhar, yaitu Syeikh Sulaiman Al-Jamal:

ﻭﺃﻣﺎ ﻗﺒﻞ اﻹﻗﺎﻣﺔ ﻓﻬﻞ ﻳﺴﻦ ﺃﻳﻀﺎ ﺃﻭ ﻻ ﺃﻓﺘﻰ ﺷﻴﺨﻨﺎ اﻟﺸﻮﺑﺮﻱ ﺣﻴﻦ ﺳﺌﻞ ﻋﻤﺎ ﻳﻔﻌﻞ ﻣﻦ اﻟﺼﻼﺓ ﻭاﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ اﻟﻨﺒﻲ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻗﺒﻞ اﻹﻗﺎﻣﺔ ﻫﻞ ﻫﻮ ﺳﻨﺔ ﺃﻭ ﺑﺪﻋﺔ ﺑﺄﻧﻪ ﺳﻨﺔ ﺛﻢ ﺭﺃﻳﺖ ﺫﻟﻚ ﻣﻨﻘﻮﻻ ﻋﻦ ﺟﻤﺎﻋﺎﺕ ﻣﻦ ﻣﺤﻘﻘﻲ اﻟﻌﻠﻤﺎء.

“Shalawat sebelum Iqamah apakah dianjurkan atau tidak? Guru kami Syaubari saat ditanya mengenai bacaan shalawat dan salam kepada Nabi SAW sebelum Iqamah apakah sunah /bidah? Beliau berfatwa Sunah. Saya lihat hal itu dirujuk dari beberapa kelompok ulama. (Hasyiatul Jamal 1/310)

Fatwa Syekh Syaubari ini memiliki tujukan dalil hadist:

ﺇﺫا ﺳﻤﻌﺘﻢ اﻟﻤﺆﺫﻥ، ﻓﻘﻮﻟﻮا ﻣﺜﻞ ﻣﺎ ﻳﻘﻮﻝ ﺛﻢ ﺻﻠﻮا ﻋﻠﻲ

“Jika kalian mendengar orang adzan maka jawablah sebagaimana apa yang diucapkan muadzin, kemudian bershalawat kalian kepadaku” (HR Muslim)

3. Dzikir Bersama dengan Dipimpin Imam

ﻭﻋﻦ ﻳﻌﻠﻰ ﺑﻦ ﺷﺪاﺩ ﻗﺎﻝ: ﺣﺪﺛﻨﻲ ﺃﺑﻲ ﺷﺪاﺩ – ﻭﻋﺒﺎﺩﺓ ﺑﻦ اﻟﺼﺎﻣﺖ ﺣﺎﺿﺮ ﻳﺼﺪﻗﻪ – ﻗﺎﻝ: «ﻛﻨﺎ ﻋﻨﺪ اﻟﻨﺒﻲ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻓﻘﺎﻝ: ” ﻫﻞ ﻓﻴﻜﻢ ﻏﺮﻳﺐ؟ ” – ﻳﻌﻨﻲ ﺃﻫﻞ اﻟﻜﺘﺎﺏ -. ﻗﻠﻨﺎ: ﻻ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ. ﻓﺄﻣﺮ ﺑﻐﻠﻖ اﻟﺒﺎﺏ ﻭﻗﺎﻝ: ” اﺭﻓﻌﻮا ﺃﻳﺪﻳﻜﻢ ﻭﻗﻮﻟﻮا: ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ “، ﻓﺮﻓﻌﻨﺎ ﺃﻳﺪﻳﻨﺎ ﺳﺎﻋﺔ

Baca Juga:  Cara Imam Syafii Mengajarkan Murid Slow Learner

Dari Ya’la bin Syadad bahwa Ayahnya Syaddad berkisah dan Ubadah bin Shamit hadir membenarkan bahwa: “Kami berada bersama Nabi SAW, Nabi bertanya: “Apakah di sisi kalian ada orang asing?” -maksudnya adalah ahli kitab- Kami menjawab: “Tidak ada, Wahai Rasulullah”. Nabi lalu memerintahkan untuk menutup pintu dan bersabda: “Angkatlah tangan kalian dan ucapkan Laa ilaaha illa Allah”. Kemudian kami mengangkat tangan kami sejenak”.  Al-Hafidz Al-Haitsami berkata: HR Ahmad, Thabrani dan Bazzar ini dengan para perawin yang dinilai terpercaya.

4. Mengaminkan Doa

ﺧﺮﺝ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺣﺘﻰ ﺟﻠﺲ ﺇﻟﻴﻨﺎ، ﻗﺎﻝ: ﻓﺠﻠﺲ ﻭﺳﻜﺘﻨﺎ، ﻓﻘﺎﻝ: «ﻋﻮﺩﻭا ﻟﻠﺬﻱ ﻛﻨﺘﻢ ﻓﻴﻪ»

Zaid bin Tsabit berkata: Rasulullah SAW mendatangi kami hingga duduk bersama kami dan kami diam. Nabi bersabda: “Lanjutkan  apa yang kalian kerjakan”

ﻗﺎﻝ ﺯﻳﺪ: ﻓﺪﻋﻮﺕ ﺃﻧﺎ ﻭﺻﺎﺣﺒﻲ ﻗﺒﻞ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ، ﻭﺟﻌﻞ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﺆﻣﻦ ﻋﻠﻰ ﺩﻋﺎﺋﻨﺎ

Zaid berkata: “Saya dan sahabat saya berdoa sebelum Abu Hurairah dan Rasulullah SAW mengamini doa kami”

ﻗﺎﻝ: ﺛﻢ ﺩﻋﺎ ﺃﺑﻮ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻓﻘﺎﻝ: اﻟﻠﻬﻢ ﺇﻧﻲ ﺃﺳﺄﻟﻚ ﻣﺜﻞ اﻟﺬﻱ ﺳﺄﻟﻚ ﺻﺎﺣﺒﺎﻱ ﻫﺬاﻥ، ﻭﺃﺳﺄﻟﻚ ﻋﻠﻤﺎ ﻻ ﻳﻨﺴﻰ، ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «ﺁﻣﻴﻦ»

Kemudian Abu Hurairah berdoa: “Ya Allah aku mohon kepada Mu sesuai apa yang dimohonkan kedua sahabat saya. Dan aku berharap ilmu yang tidak mudah lupa”. Rasulullah SAW membacakan Amin. (HR An-Nasa’i)

5. Tahlilan dan Yasinan di Masjid

Menurut Fatwa Syekh Asy-Syaukani: “Tradisi yang berlangsung di sebagian negara yakni berkumpul di masjid untuk membaca al-Quran yang dihadiahkan kepada orang-orang yang telah wafat, begitu juga perkumpulan di rumah-rumah, maupun majelis lainnya yang tidak ada dalam syariah, maka tidak diragukan lagi jika perkumpulan itu tidak mengandung maksiat dan kemungkaran itu hukumnya adalah boleh. Karena pada dasarnya perkumpulannya sendiri tidak diharamkan. Pasalnya itu dilakukan untuk ibadah seperti membaca al-Quran dan sebagainya. Dan tak dilarang menjadikan bacaan al-Quran itu untuk orang yang mati. Sebab membaca al-Quran secara berjamaah ada rukukannya sebagaimana hadis: Bacalah Yasin pada orang-orang yang mati. Ini adalah hadis shahih. Dan tidak ada bedanya antara membaca Yasin berjamaah di depan mayit atau di kuburannya, membaca seluruh al-Quran atau sebagiannya, untuk mayit di masjid atau di rumahnya” (Rasail al-Salafiyah, Syaikh Ali bin Muhammad as Syaukani, 46)

Bagikan Artikel ini:

About M. Alfiyan Dzulfikar

Avatar of M. Alfiyan Dzulfikar

Check Also

lelah

Jangan Khawatir, 7 Lelah Inilah yang Disukai Allah

Pasti kita sudah familiar dengan kalimat “biar lelah asal lillah” atau “semoga lelah ini membawa …

penyebaran hoax

Tafsir Surat An-Nur Ayat 15 : 3 Cara Penyebaran Hoax yang Wajib Diwaspadai

Mudahnya mendapatkan berita atau informasi dewasa ini selain berdampak baik bagi kehidupan bermasyarakat, juga diketahui …