Inilah salah satu kisah dramatis penuh emosi dendam yang dibalut dengan kelicikan dan pengkhianatan. Perang menyebabkan jiwa terluka bahkan pikiran pun menjadi buta.


Dalam perang pasti ada menang dan kalah, mati dan terluka, dan suka dan duka. Mereka yang hilang dalam perang kadang mengikhlaskan, tetapi ada juga yang masih memupuk dendam. Inilah salah satu kisah dendam di balik perang Uhud.

Adalah Ashim bin Tsabit bin Aqlah seorang sahabat yang dipuji oleh Rasulullah karena karena keberanian dan cara berperangnya. Beliau juga mengikuti beberapa perang bersama Rasulullah di antaranya yakni, perang Badar dan Perang Uhud.

Dalam perang Badar yang sangat istimewa, umat Islam telah membalikkan hitungan manusia dengan memakai pertolongan Allah. Betapa tidak, umat Islam yang kalah jauh dari segi jumlah dapat melumpuhkan kafir quraisy.

Kemenangan kaum muslimin dalam perang Badar membuat kaum Quraisy bernafsu untuk membalas dendam kepada kaum muslimin.  Mereka menantang para kaum Muslimin untuk berperang kembali dalam perang Uhud. Sejak awal, perang Uhud memang diproyeksikan sebagai perang balas dendam terhadap kekalahan perang Badar.

Saking dendam kesumat, tidak hanya laki-laki yang turut serta dalam peperangan tersebut, kaum wanita dari kafir quraisy turun memberikan semangat dalam peperangan ini. Para wanita memposisikan diri mereka berada di pinggir medan pertempuran.

Memang dalam sejarah pun dicatat, kemenangan dalam perang Uhud berada di pihak Quraisy karena ketidaktaatan sebagian pasukan Islam terhadap perintah Nabi. Setelah pertempuran usai, para wanita melompat kegirangan menuju arena pertempuran. Mereka bersorak-sorai dengan riang.

Para perempuan itu mulai menumpahkan rasa dendamnya atas kematian suami dan anaknya di perang Badar. Sungguh sadis, dendam mereka bahkan menghilangkan rasa kemanusiaan. Korban umat Islam yang sudah meninggal disayat-sayat dan dibelah. Sunggung mengerikan.  

Di saat perempuan lain bersorak dan ceria, ada perempuan Quraisy yang justru gelisah. Diraut mukanya ia seperti kebingungan mencari sesuatu di antara tumpukan mayat-mayat korban perang itu.

Dialah Sulafah binti Sa’ad yang sedang mencari keluarganya yang ikut berperan dalam perang Uhud. Namun, ia tidak menemukan suami dan ketiga anaknya. Ia mulai memeriksa arena pertempuran. Diperiksalah satu persatu wajah-wajah yang sudah tak bernyawa.

Hancur perasaan Sulafah ketika mendapati suaminya sudah terbaring tak bernyawa dengan berlumuran darah, dicarinya kembali ketiga anaknya berharap menemukan mereka dalam keadaan bernyawa. Namun takdir berkata lain, dia mendapati dua anaknya Musafi’ dan Kilab sudah tak bernyawa.

Sungguh merasa sedikit lega melihat ketika dia melihat anak yang ketiga, Jallas masih dalam keadaan bernyawa meskipun memiliki luka yang cukup serius. Ia peluk tubuh anaknya dia angkat dipangkuannya. Sullafah berkata, “Siapa yang telah berbuat seperti ini wahai anakku?”.

Dengan nafas yang terputus putus, Jallas menjawab, “’Ashim bin Tsabit al Anshori, dia pula yang juga membunuh Musafi’ dan…” Belum selesai dia bicara ajal telah menjemputnya.

Dalam kesedihannya yang mendalam Sullafah binti Sa’ad bersumpah akan membalaskan dendamnya kepada Ashim bin Tsabit dan menjadikan tumpurung kepalanya sebagai mangkok tempat meminum Khamar.

Di tengah emosinya ia pun mengumumkan sayembara dan menjanjikan 100 ekor unta kepada siapapun yang berhasil membawakan batok kepala Ashim bin Tsabit kepadanya.

Di sisi lain, umat Islam jelas dirundung kesedihan dengan banyaknya mujahid yang berguguran di medan perang. Namun, dari kekalahan tersebut, Ashim berhasil membunuh tiga bersodara laki-laki sekaligus (Musafi’, Kilab, Jallas). Mereka merupakan putra dari Thalhah dan Sulafah binti Sa’ad adalah salah seorang pemuka Quraisy. Para Muslimin menyebut Ahsim sebagai pahlawan yang gagah. Mereka kagum bagaimana Ashim mampu merobohkan tiga bersaudara sekaligus.

Tampillah Sofyan bin Kholid, seorang laki-laki dari kaum Quraisy yang ingin mencoba peruntungan atas sayembara yang diadakan untuk membunuh Ashim. Sofyan memutuskan untuk meminta bantuan dari suku Adhul untuk berpura-pura masuk Islam dan pergi ke Madinah untuk menemui Rasulullah, untuk meminta guru yang mampu membimbing mereka dalam mempelajari Islam salah satu guru yang mereka minta ialah Ashim bin Tsabit.

Permintaan itu diterima dan berangkatlah rombongan Ashim bin Tsabit tanpa menaruh curiga sedikitpun. Ketika di tengah perjalanan, sekelompok kaum Hudzail melihat kedatangan mereka. Kelompok itu segera mengepung mereka dengan ketat. Mereka berkata bahwa mereka tidak ingin melukai, namun hanya ingin menukar kaum muslimin dengan harta.

Ashim merasa dirinya telah dikhianati. Diapun berseru kepada muslim yang lainnya supaya tidak mempercayai omongan mereka. Akan lebih baik jika mereka mati dalam keadaan syahid, mati dalam keadaan membela Islam. Namun karena jumlah kaum Hudzail terlampau banyak, akhirnya tumbanglah semua kaum muslimin di medan tempur tersebut.

Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya Ashim berdoa, “Yaa Allah, sampaikan berita ini kepada Rasul-Mu, Yaa Allah aku telah mengorbankan diriku di jalan agama-Mu yang benar, selamatkan diriku (kepalaku) dari tangan tangan kotor Musuh-Mu.”

Allahpun mengabulkan doa Ashim, dengan cara mendatangkan lebah-lebah untuk melindungi jenazah Ashim supaya tidak dapat di sentuh oleh para kaum Hudzail. Merekapun memutuskan untuk menunggu malam berharap lebah-lebah tersebut sudah pergi dan mereka bisa memenggal kepala Ashim.

Namun, harapan itu juga sirna. Di malam itu, Allah kembali menolong hambanya dengan menurunkan hujan yang sangat lebat sehingga banjirpun datang membuat jenazah Ashimpun terhanyut tak bisa di temukan.

Keikhlasan serta kepatuhan akan ajaran Allah membuat Ashim bin Tsabit bin Aqlah menjadi sahabat Rasulullah yang juga disayangi oleh Allah. Allah melindungi mayat Ashim yang suci, dari tangan-tangan kotor orang-orang musyrik penentang ajaran Allah yang ingin mempermalukan dan menyoyak-ngoyak jasadnya.

Kecewalah perasaan Sulafah binti Sa’ad. Pada akhirnya pun ia tidak berhasil untuk membalaskan dendam untuk kematian suami dan ketiga anaknya. Yang hanya bisa ia lakukan hanyalah meratapi kepergian keluarganya dan menangis sedih atas semuanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.