Puasa Para Nabi

Kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan bagi umat muslim sesungguhnya memiliki sejarah dan latar belakang yang amat panjang. Tidak hanya dilakukan oleh Rasulullah Muhammad saw, melainkan para Nabi sebelum beliau.

Pada Mulanya Puasa Adam

Perintah puasa yang pertama kali diberikan Allah kepada manusia adalah melalui Nabi Adam setelah beliau diusir dari surga. Karena bisikan sang iblis, Nabi Adam memakan buah khuldi yang terlarang sehingga Allah menghukumnya. Nabi Adam di turunkan Allah ke bumi dan terpisah dengan sang istri, Siti Hawa.

Dikisahkan bahwa nabi Adam turun ke bumi dalam keadaan gosong sebagai pertanda bahwa beliau telah dihukum oleh Allah. Menyadari kesalahannya, Nabi Adam kemudian bertaubat dengan melafalkan do’a yang termaktub dalam QS. Al-A’raf: 23

Ya Tuhan kami, telah kami aniaya diri kami sendiri, dan jika tidak engkau ampuni kami dan tidak engkau beri rahmat bagi kami, niscaya pastilah kami masuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi.”

Meski Allah telah menerima taubat Nabi Adam. Namun, bekas luka gosongnya tidak lantas menghilang. Sebab itulah, Allah memerintahkan Nabi Adam untuk berpuasa sejak terbit subuh hingga terbenamnya matahari. Nabi Adam pun menjalankan perintah Allah. Ia berpuasa hingga kemudian badannya kembali seperti semula. Namun, untuk mengembalikan badannya secara normal sepenuhnya, Nabi Adam diperintahkan oleh Allah untuk kembali berpuasa selama dua hari lagi.

Nabi Adam pun melaksanakan perintah tersebut hingga pada akhirnya tubuhnya kembali normal seperti sedia kala. Puasa Nabi Adam tersebut yang di kemudian hari di sebut sebagai puasa ayyamul bidh, yakni setiap tanggal 13, 14, 15 saat purnama, waktu dimana pertama kali Nabi Adam menjalani puasa di bumi.

Puasa Idris untuk Suhuf, Ibrahim untuk Melawan Namrud

Nabi Idris, sebagai keturunan keenam Nabi Adam pun diriwayatkan menjalankan laku puasa. Suatu ketika, Nabi Idris menerima suhuf dari Allah. Di dalamnya tertulis bahwa akan datang suatu masa dimana akan terlahir seorang nabi terakhir yang kelak akan bertemu dan berdialog langsung dengan Allah, yakni dia Sang Muhammad saw.

Mengetahui hal tersebut, Nabi Idris pun menginginkan keistimewaan yang serupa. Maka kemudian Allah pun memerintahkannya untuk berpuasa. Setelah usai menjalankan puasa, Nabi Idris pun diangkat oleh Allah ke surga lapisan pertama. Allah berfirman dalam QS. Maryam: 57 bahwa Dia telah mengangkat martabat Nabi Idris ke tempat yang teramat tinggi.

Nabi Ibrahim, bapak dari agama-agama langit juga diperintahkan oleh Allah untuk berpuasa. Diceritakan dalam QS. Al-Baqarah: 258 ketika Nabi Ibrahim berdebat dengan Namrud, sang Raja Babilonia yang terkenal dengan kegemarannya menyembah berhala. Karena kesal sebab 72 berhalanya dihancurkan oleh Nabi Ibrahim, Namrudz pun membakar Ibrahim. Namun, karena Ibrahim berpuasa sebagaimana perintah Allah, ia selamat dari kepungan api.

Puasa Musa dan Isa

Perintah Allah untuk berpuasa juga dilakukan oleh Nabi Musa.  Karena menyandang gelar Kalimullah (Yang diajak bicara langsung oleh Allah) Nabi Musa menerima wahyu dari Allah tanpa perantara malaikat Jibril. Sebelum Nabi Musa menerima wahyu Kitab Taurat, ia juga menjalankan puasa selama 40 hari 40 malam di bukit Sinai (Tursina).

Dalam kitab Mukasyafatul Qulub, Imam Al-Ghazali menuliskan dialog Nabi Musa dengan Allah. Ketika itu bertanyalah Nabi Musa kepada Allah;

Apakah puasaku wahai Allah?” Tanya Musa kepada Allah

Puasa yang kamu lakukan itu hanyalah untukmu saja. Sebab, puasa melatih diri dan mengekang hawa nafsu yang ada pada dirimu.” Jawab Allah kepada Musa

Nabi Isa adalah selanjutnya yang menjalankan puasa sebagaimana perintah Allah. Dalam sebuah perjamuan bersama para muridnya, Nabi Isa disebut sedang berpuasa. Nabi Isa sengaja mengulur waktu agar dapat minum ketika waktu magrib telah tiba.

Puasa Rasulullah Sebelum Kewajiban Ramadhan

Meski perintah puasa Ramadhan disyariatkan pada tahun ke-2 Hijriah (623 Masehi), Nabi Muhammad sesungguhnya telah jauh lebih dulu rajin menjalankan ibadah puasa. Bahkan, sebelum Nabi Muhammad menerima wahyu, selama 4 bulan berpuasa ketika berada di Gua Hira.

Ketekunan puasa Rasulullah saw dalam berpuasa itu membuat para kaum Quraisy merasa takut sehingga tidak ada keingginan terhadap mereka untuk menyakiti Rasulullah saw.

Aku melihat wajah Muhammad seperti ketika Musa berpuasa, seperti juga ketika Ibrahim berpuasa.” Kata Muta’ali ketika menirukan ucapan kaum Quraisy Makkah. “Salah satu ciri para Nabi terdahulu adalah mereka yang jarang didapati mengunyah ketika siang hari.” Tambah Muta’ali.

Puasa Rasulullah saw adalah salah satu alasan yang saat itu membuat para tokoh seperti Abu Bakar, Utsman bin ‘Affan, para ahli kitab, para konglomerat, dan para pengusaha akhirnya mengikuti Rasulullah saw untuk masuk Islam.

Pada periode dakwah di Makkah, Rasulullah saw lebih menekankan dakwahnya pada prinsip-prinsip keadilan dan nilai-nilai ketuhanan. Sebab, pada saat itu perbudakan di Arab adalah suatu hal yang lumrah. “Keadilan yang hakiki sesungguhnya hanya datang dari Allah.” Kata Rasulullah di hadapan kaum Quraisy. Pada periode penyebaran Islam ini, pemeluk terbanyak adalah dari kalangan menengah ke bawah, para budak seperti Zaid bin Haritsah dan Bilal bin Rabah.

Karena tidak suka dengan cara Rasulullah yang membebaskan dan mengajak para budak masuk Islam, kaum Quraisy yang saat itu menyembah berhala mengancam dan berlaku kejam dengan para pengikut Islam. Hingga pada akhirnya turunlah perintah Allah kepada Rasulullah saw untuk berhijrah.

Pada Akhirnya Ramadhan

Rasulullah saw dan para pengikutnya kemudian berpindah ke Yasrib, Madinah yang terletak 320 kilometer di utara Makkah. Di sinilah kemudian Rasulullah lebih banyak mengenalkan syariat Islam dalam setiap dakwahnya. Syariat yang diajarkan salah satunya adalah berpuasa sebulan penuh selama bulan Ramadhan. Rasulullah bersabda;

Puasa merupakan setengah dari kesabaran. Dan kesabaran adalah setengah dari iman.”

Sabda Rasulullah ini juga tertulis dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali. Imam Ghazali menuliskan bahwa kedudukan ibadah puasa merupakan seperempat dari keimanan seseorang.

Rasulullah saw yang wafat pada 11 Hijriyah terhitung setidaknya menjalankan puasa di bulan Ramadhan sebanyak 9 kali semasa hidup. Perintah berpuasa juga termaktub dalam QS. Al-Baqarah: 183 yang memerintahkan setiap umat manusia agar berpuasa dan beriman sebagaimana umat terdahulu.

Kees Wagtendonk dalam bukunya Fasting in The Koran menyebutkan bahwa syariat Islam tentang ajaran puasa di bulan Ramadhan yang termaktub dalam Al-Qur’an merupakan wujud dari rasa syukur dan bentuk pujian hamba terhadap Tuhannya. Wagtendonk juga berpendapat bahwa puasa yang dijalankan umat muslim lebih sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukur. Berbeda dengan puasa yang dijalankan umat Kristen, dimana puasa dimaknai sebagai upaya penebusan dosa.