Kepercayaan masyarakat Jawa pra Islam pada abad ke- 14 sampai awal abad ke-16 sangat lekat dengan ajaran Hindu, Budha, animisme dan dinamisme. Ajaran-ajaran tersebut sangat kental dengan aspek-aspek esoterik atau spiritualitas.

Namun, spiritualitas masyarakat Jawa pra Islam cenderung terjebak pada aspek mistis seperti pemujaan kepada para dewa, makhluk-makhluk ghaib dan kesaktian-kesaktian. Meski demikian, penelitian Ricklefs menyatakan dengan kuat bahwa ajaran-ajaran masyarakat pra Islam mengandung sikap toleransi yang tinggi antar para penganut kepercayaan lainnya bahkan sitem kepercayaan mereka tidak bersifat ortodoks yang ekslusif.

Setiap pemujaan yang dilakukan oleh masyarakat berada dalam pengawasan kelompok elite, yakni keluarga para raja dan abdi-abdi kerajaan. Itu sebabnya banyak sumber-sumber/dokumentasi tentang praktik dan ajaran kepercayaan masa itu diperoleh dari keluarga kerajaan. Kultur politik Jawa inilah yang setidaknya membantu eksistensi dakwah yang dilakukan oleh Walisongo. Sebab, keberadaan dan posisi para anggota Walisongo berasal dari kalangan bangsawan keluarga kerajaan yang memiliki peranan strategis dalam memberikan pengaruh dan membentuk masyarakat Jawa saat itu.

Sunan Kalijaga misalnya, salah satu wali yang teguh dalam mengakulturasikan budaya Jawa dari hasil ajaran-ajaran terdahulu dengan budaya Islam sebagai media dakwah. Caranya berdakwah ini mendapat dukungan kuat para Wali yang juga merupakan gurunya seperti Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, juga Sunan Muria.

Karena keteguhan caranya dalam berdakwah, Sunan Kalijaga dikenal sebagai sosok ulama sekaligus tokoh yang memiliki kemampuan mengakomodir kearifan lokal dengan narasi-narasi besar. Dan oleh narasi-narasinya tersebut ia mampu membuat rumusan baru dari nilai kebudayaan Jawa yang dipadukan dengan Sufisme Islam.

Penyimpangan ajaran yang terjadi pada masyarakat pra Islam disebabkan karena mereka terjebak pada aspek-aspek mistis saja. Hal inilah yang kemudian didekonstruksi oleh Sunan Kalijaga. Ajaran-ajaran yang hidup di masyarakat pra Islam oleh Sunan Kalijaga diselaraskan dengan ajaran tauhid, syariat, dan akhlak sehingga kemudian lahirlah ajaran tasawuf yang khas dalam masyarakat Jawa. Ajaran tasawuf yang dikembangkan oleh Sunan Kalijaga berasal dari integrasi ajaran tasawuf Islam sebagaimana yang diajarkan oleh para sufi di dunia Islam dipadu dengan budaya Jawa yang termuat dalam Suluk Linglung.

Pencarian Hakikat

Suluk sendiri secara harfiah bermakna menempuh (jalan). Dalam terminologi Al-Qur’an, Suluk sama halnya dngan fasluki yang penjelasannya terdapat dalam surah an-Nahl: 69 “fasluki subula rabbiki dzululan” yang berarti tempuhlah jalan menuju Rabbmu yang telah dimudahkan bagimu.

Suluk Linglung berisi tentang perjalanan sufi Sunan Kalijaga dalam upaya-upayanya mendekatkan diri kepada Allah. Di dalam Suluk Linglung juga tertulis berbagai hal perkara mediasi dan dzikir-dzikir yang dilakukan Sunan Kalijaga sepanjang perjalanan hidupnya dalam memahami hakikat kehidupan.

Di dalam Suluk Linglung dikatakan bahwa selain berguru dengan Sunan Bonang, secara batiniyah Sunan Kalijaga juga berguru langsung dengan Nabi Khidzir. Selama fase menempuh dan bertemu dengan para gurunya, Sunan Kalijaga mengalami beberapa fase kehidupan yang dalam Suluk Linglung dibagi menjadi beberapa bagian.

Fase pertama adalah kebingungan atau linglung. Fase ini terjadi ketika Sunan Kalijaga berusaha memperoleh petunjuk mengenai apa sebenarnya hakikat hidup manusia. Sunan Kalijaga telah membulatkan tekad dan berusaha menahan segala nafsu diri agar dapat menuju penyerahan diri kepada Allah. Namun, Sunan Kalijaga merasa usahanya tidak mendapatkan apa yang ia cari, ia merasa usahanya nihil.

Perjalanan ini tertulis dalam Suluk Linglung pupuh I bait 3; “Ling lang ling lung sinambi angabdi, saking datan amawi sabala, kabeka dene nepsune, marmannya datan kerup, denya amrih wekasih urip, dadya napsu ingobat, kabanjur kalantur, eca dhahar lawan nedra, saking tyas awon perang lan nepsu neki, sumendhe kersaning Hyang.”

Ling lang ling lung (hati bimbang pikiran bigung) masih tetap mengabdi, walaupun tanpa ada yang membantu, selalu tergoda oleh nafsu, karena tidak mampu mengatasinya, berbagai usaha telah ditempuh agar akhir hidup nanti, mampu mengatasi dan mengobati nafsu, jangan sampai terlanjur terjadi, puas makan dan tidur, sebab hati akan kalah perang dengan nafsu, hanya Allah tempat berserah diri.

Ketika perjalanan Sunan Kalijaga mencari hakikat hidup selalu dipenuhi kegundahan, mengalami gejolak dalam hatinya, dan nafsu-nafsu yang sulit ia padamkan membuatnya semakin linglung. Dalam perjalannya kemudian Sunan Kalijaga bertemu dengan Sunan Bonang yang memberinya semangat. Sunan Kalijaga begitu bahagia karena mendapatkan guru Sunan Bonang yang dapat ia jadikan sandaran dalam segala kondisi kebingungannya.

Pada pupuh I bait 7 dalam Suluk Linglung dikatakan; “Ling lang ling lung tan olih, anenagih ngejeg, tanpo potang, kang tinagih meneng bae, pan nyata nora nyambung, kang anagih awira wiri, tan ana beda nira, Syeh Melaya iku, wit pahurita atapa, mring Jeng Sunan Bonang kinen tengga kang cis, tan Kenya yen kesana.”

Ling lang ling lung meminta upah tiada hasil, menagih tak henti-hentinya tanpa piutang, yang ditagih diam saja, sebab kenyataannya tiada hutang, yang menagih datang lalu pergi, semua itu tiada beda dengan Syeh Melaya sendiri, saat ia mulai berguru dan bertapa, kepada Kanjeng Sunan Bonang diperintahkan menunggui tongkat dan dilarang meninggalkan tempat.

Sebagai bagian dari perjalanan hidup Sunan Kalijaga adalah lahirnya ajaran tasawuf yang lebih menekankan pada pentingnya kualitas makrifat daripada aqidah. Sebab, makrifat bukan semata-mata ilmu pengetahuan melainkan juga pengahayatan dan pengalaman.

Nilai-nilai dalam Suluk Linglung lah yang mengejawantahkan bagaimana tasawuf Sunan Kalijaga diajarkan. Aspek-aspek yang terkandung dalam Suluk Linglung melalui beberapa tahapan seperti tahapan pertama yang diawali dengan kebingungan (linglung) tentang segala sesuatu sampai akhirnya bertemu dengan para gurunya, kemudian dilanjutkan dengan pencarian tentang kebenaran untuk mencari makna hidup yang hakiki.

Pencarian itu terus mengalami kelanjutan fase sampai pada puncaknya yakni insan kamil. Tahapan insan kamil dicirikan dengan seseorang yang berpengetahuan akan hakikat makna hidup sehingga ia akan lebih bijaksana, tidak ekstrem dalam bersikap, dan selalu menjaga harmoni dunia. Semuanya itu diperoleh karena seseorang telah melewati beberapa fase yakni fase linglung, fase pancamaya, dan fase memperoleh ilmu hidayat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.