Sebagian besar pembaca yang concern dalam kajian keislaman tentu mengetahui bahwa pada permulaan abad ke-16 Banjarmasin pernah menjadi pusat dakwah Islam sebagai bagian dari islamisasi Nusantara. Namun, belum banyak generasi muslim terutama kalangan muda yang mengetahui bahwa ulama-ulama besar dengan seluruh karya-karyanya yang menjadi banyak rujukan ulama lintas negara juga lahir di Nusantara.

Pada abad ke-18 kemudian di Banjarmasin lahirlah seorang bocah di wilayah Martapura yang kemudian menjadi ulama termasyhur di kota Banjarmasin tersebut. Dialah Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812). Para ulama terdahulu memperoleh gelar di belakang namanya sesuai dengan daerah asalnya, sebagaimana Syeikh Muhammad Arsyad yang memperoleh gelar di belakang namanya dari Kesultanan Banjar saat itu.

Dalam The Biographical Encyclopedia of Islamic Philosophy (2015) Zaid Ahmad menceritakan riwayat hidup Syeikh Arsyad yang hidup dalam keluarga Alawiyyin dengan pendidikan Islam yang kuat karena masih memiliki silsilah yang merujuk sampai ke Rasulullah saw. Selain Syeikh Arsyad kecil yang rajin mengaji al-Qur’an juga memiliki hobi membuat kaligrafi.

Suatu hari ketika umur Syeikh Arsyad belum genap tujuh tahun, Sultan Tahlilullah sang penguasa Banjar memanggilnya untuk menghadap. Kekaguman sang Sultan terhadap kaligrafi Syeikh Arsyad membuatnya meminta Syeikh Arsyad untuk tinggal dan mengabdi di Istana pada usia yang masih sangat belia. Hingga kemudian Kesultanan Banjar banyak memberikan kemudahan kepada Syeikh Arsyad dalam mengasah jiwa seni dan kewajiban menuntut ilmunya.

Menimba Ilmu ke Tanah Suci

Keinginan Syeikh Arsyad untuk belajar pun semakin besar. Pada usia 30 tahun setelah menikah dan didukung penuh oleh Kesultanan, Syeikh Arsyad melanjutkan keinginannya untuk menuntut ilmu ke Tanah Suci dan bermukim di Haramain selama 30 tahun lamanya. Di Masjid al-haram lah kemudian Syeikh Arsyad bertemu dan belajar dengan para gurunya antara lain; Syeikh Ahmad bin Abdul Mun’im ad-Damanhuri, Syeikh Muhammad Murtadha bin Muhammad az-Zabidi, Syeikh Hasan bin Ahmad al-Yamani, Syeikh Salim bin Abdullah al-Bashri, Syeikh Shiddiq bin Umar Khan, Syeikh Abdullah bin Hijazi asy-Syarqawy, Syeikh Abdul Gani bin Muhammad Hilal, Syeikh Abis as-Sandy, Syeikh Abdul Wahab at-Thantawy, dan Syeikh Abdullah Mirghani.

Selain guru-gurunya tersebut, Syeikh Arsyad juga mendalami tasawuf melalui gurunya Syeikh Muhammad Abdul Karim Samman al-Qadiri al-Khalwati al-Madani yang merupakan pendiri tarekat Sammanityah. Dan dalam mendalami fiqih mazhab Syafi’I, Syeikh Arsyad mempelajarinya melalui Syeikh Athaillah bin Ahmad al-Mishri dan Syeikh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi.

Selama menempuh ilmu di Haramain, Syeikh Arsyad juga berkawan dengan para ulama Nusantara yang di kemudian hari terkenal sebagai “Empat Serangkai Ulama Jawi” yang juga masyhur di tanah Nusantara, mereka diantaranya adalah Abdul Shomad al-Palimbani, Daud al-Fatani, Abdul Wahab al-Makassari, dan Abdul Rahman al-Batawi.

Kembali ke Tanah Banjar

Ketika Kesultanan Banjar telah berganti pemimpin pada tahun 1772, Syeikh Arsyad akhirnya kembali ke Banjar. Sultan Tahlilullah II yang menggantikan Sultan Tahlilullah karena telah wafat pun menggelar perayaan di sepanjang wilayah ibu kota kerajaan untuk menyambut kedatangan Syeikh Arsyad. Sesampainya di istana, Syeikh Arsyad pun diberi kedudukan oleh Sulan Tahlilullah II untuk menjadi kadi negeri atau penasihat raja.

Namun, Syeikh Arsyad memilih untuk diizinkan agar tinggal di luar istana dan mendirikan pondok pesantren. Keinginan Syeikh Arsyad pun dipenuhi dan didukung oleh sang Sultan dan dihadiahi tanah yang kemudian dipergunakan untuk membangun Pondok Pesantren Dalam Pagar.

Selain kecerdasan dan jiwa seni yang begitu kental dalam diri Syeikh Arsyad, menulis juga menjadi hobinya. Banyak karya-karya Syeikh Arsyad yang menerangkan bab fiqih mazhab Syafi’i dan persoalan-persoalan tentang upaya memahami tasawuf. Seperti Sabi al-Muhtadin li at-Tafaqquh fi Amriddin, Kitab Kanz al-Makrifah, Kitab Ushuluddin, Kitab Nuqtatul Ajlan, Tuhfat al-Raghibin, Luqtat al-‘Ijlan fi Bayan al-Haid wa Istihada wa Nifas al-Niswan, al-Qawl al-Mukhtasar, dan Kitab Fara’id yang kerap diulas secara mendalam dan banyak di syarah oleh para ulama dan murid-muridnya serta digunakan oleh sejumlah lembaga pendidikan baik di dalam maupun di luar negeri.

Sebagai ulama pelopor dakwah Islam di Kalimantan, Malaysia, dan Brunei Darussalam, Syeikh Arsyad dianugerahi umur panjang melampaui satu abad. Selama hidup 108 tahun hidup dengan perjalanan dakwahnya yang panjang, Syeikh Arsyad pun wafat pada tahun 1812 dengan meninggalkan banyak karya, peradaban serta ajaran yang terus hidup sampai sekarang.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.