Tembang lir-ilir yang dikira banyak kalangan merupakan tembang dolanan asal Jawa Tengah, ternyata merupakan salah salah satu tembang keagamaan. Itulah tembang dakwah yang digubah oleh penyiar Islam di Jawa yang menggunakan pendekatan kebudayaan dalam menyebarkan Islam.

Dialah Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga merupakan salah satu dari sembilan Wali (wali sanga) yang tersebar di Indonesia dalam menyebarkan agama Islam. Selain di kenal sebagai penyebar Islam, Sunan Kalijaga juga dikenal sebagai budayawan yang sangat cakap dalam kebudayaan Jawa.

Dengan menciptakan tembang dolanan sebagai media penyebar dakwahnya di kalangan anak-anak, maka metode ini mudah di terima oleh masyarakat Indonesia yang di kenal memiliki banyak tradisi dan keanekaragamannya. Sunan Kalijaga memilih budaya dan kesenian sebagai media mengenalkan Islam.

Islam bukan Barang Asing

Mengenalkan Islam dengan budaya tidak hanya untuk mempermudah Islam diterima oleh masyarakat Jawa. Selain itu, Islam dianggap bukan barang “asing” yang dapat merusak tatanan budaya dan tradisi yang ada.

Dengan menggunakan media kesenian yang sudah lekat dalam hati orang Jawa Islam menjadi bagian dari ruh kultur dan tradisi. Islam pada akhirnya bukan sekedar ajaran ritual, tetapi sebagai ruh budaya masyarakat.

Berbekal kekreatifan serta ilmu yang Beliau miliki, Sunan Kalijaga mampu menciptakan sebuah lirik yang memiliki makna yang dalam namun mudah dicerna. Dan tanpa disangka, tembang yang dulu dipakai untuk menemani bermain anak-anak, sampai saat inipun masih banyak dilantunkan.

Meski tembang ini berbahasa jawa, namun nyatanya banyak rakyat Indonesia di berbagai penjuru yang mengenal lagi ini. Semua ini dikarenakan isi dari tembang tersebut sarat akan makna filosofi bagi kehidupan manusia menuju kepada Sang Penciptanya.

Lir-ilir, lir-ilir…

Tandure wis sumilir…

Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar…

Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi…

Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro…

Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir…

Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore…

Mumpung padhang rembulane,

mumpung jembar kalangane…

Yo surako… surak iyo…

Terjemahan Bahasa Indonesia

Bangunlah, bangunlah

Tanaman sudah bersemi

Demikian menghijau bagaikan pengantin baru

Anak gembala, anak gembala panjatlah

(pohon) belimbing itu

Biar licin dan susah tetaplah kau panjat

untuk membasuh pakaianmu

Pakaianmu, pakaianmu terkoyak-koyak di bagian samping

Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore

Mumpung bulan bersinar terang,mumpung banyak waktu luang

Ayo bersoraklah dengan sorakan iya

Tembang diatas memiliki pesan kita sebagai umat Islam harus sadar dan mulai bangun dari keterpurukan, bangun dari sifat malas dan lebih mempertebal keimanan yang telah ditetapkan oleh Allah.

Pesan untuk Pendakwah

Barangkali teladan dakwah ini patut menjadi teladan bagi pendakwah saat ini. Dengan mayoritas penduduk Indonesia yang sudah memeluk Islam dakwah tidak harus mencerabut masyarakat dari akar budaya dan tradisinya.

Pendakwah harus mengenalkan Islam bukan sebagai barang asing. Apalagi Islam selalu dihadapkan secara garang untuk merusak kebudayaan yang ada. Islam tidak harus ditanamkan sebagai barang baru, tetapi dimasukkan sebagai bagian dari ruh kebudayaan dan kebutuhan masyarakat.

Bukan seorang dai handal yang bisa menghipnotis massa kemudian setelah jamaah kembali ke rumahnya ajaran dan ceramah itu sudah hilang. Ceramah hanya menjadi ajang gelak tawa dan selanjutnya sirna. Islam tidak melekat menjadi bagian keyakinan dan gaya hidup masyarakat.

Pendakwah harus mampu membumikan Islam tidak hanya sebagai ritual, tetapi pandangan hidup yang bisa menjadi pedoman yang selaras dengan kehidupan masyarakat. Sunan Kalijaga dan juga para Wali penyebar Islam dahulu kala sangat arif menjadikan Islam sebagai bagian dari ruh masyarakat yang tidak mudah goyah dan tercerabut. Kenapa? Karena Islam dimasukkan sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat.

1 KOMENTAR

  1. […] Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya, namun ada makna filosofis yang berbaur dengan nilai keislamannya yang mungkin banyak masyarakat yang tidak mengetahuinya. Ketupat sendiri banyak yang disebutkan “kupat” oleh masyarakat Jawa memiliki arti ngaku lepat atau bahasa Indonesianya berarti mengakui kesalahan.  […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.