Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati

Wali dan Raja : Sosok Sunan Gunung Jati yang Mengenalkan Islam dengan Memikat Hati Umat

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah merupakan sosok ulama besar yang menyebarkan agama Islam di tanah pasundan. Beliau adalah salah satu dari Wali Songo yang memiliki pengaruh besar dalam penyebaran Islam di tanah Jawa. Secara garis silsilah, Beliau adalah Cucu dari Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran.

Sunan Gunung Jati sebagaimana Walisongo mempunyai cara yang unik dalam menyebarkan Islam. Penyebaran Islam dibawanya dengan rasionalitas yang dimilikinya dan pengembangan dakwah dengan metode akulturasi budaya yang melekat dalam masyarakat Cirebon.

Sunan Gunung Jati menyebarkan Islam tidak dengan kental dengan budaya Arab, tetapi justru mengadaptasi adat dan budaya lokal melalui kesenian daerah yang banyak diminati oleh kalangan masyarakat setempat. Metode itu terbukti efektif, beliau mengislamkan masyarakat di sana secara sukarela dan damai, bukan dengan kekuasaan dan paksaan.

Salah satu sarana kebudayaan penting yang digunakan adalah gamelan Sekaten. Metode ini merupakan salah satu alat penyebaran yang dilakukan oleh Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati hanya dua kali dalam setahun menabuh Gamelan Sekaten ini, yakni ditabuh pada hari raya Idul Fitri dan juga hari raya Idul Adha.

Saat itu, banyak warga yang datang untuk menikmati alunan musik Gamelan Sekaten. Dan Sunan Gunung Jati pun meminta upah dari warga yang berbondong-bondong menyaksikan penabuhan gamelan itu. Namun, bukan upah berupa uang, namun bagi warga yang menyaksikan pertunjukan Gamelan Sekaten harus membayarnya dengan dua kalimat syahadat yang harus diucapkan warga saat menonton Gamelan Sekaten.

Ini alasan mengapa gamelan itu disebut gamelan sekaten. Ia berasal dari kata syahadatain (dua kalimat syahadat). Kini Gamelan Sekaten menjadi benda pusaka yang disimpan di keratin kasepuhan kota Cirebon.

Baca Juga:  Jihad Menegakkan Kemerdekaan bukan Merusak Kemerdekaan

Karena merupakan salah satu keturunan dari Prabu Siliwangi, Sunan Gunung Jati juga berkesempatan menjabat sebagai seorang raja yang mendapat gelar “Ingkang Sinuhun Kanjeng Susun an Jati Purba Wisesa “.  Dahulu wilayah kekuasaan Kesultanan Cirebon meliputi seluruh bagian Jawa Barat, Jakarta, dan Banten.

Dalam menjalankan pemerintahannya, Sunan Gunung Jati selalu mementingkan kepentingan umum dibandingkan kepentingan pribadinya. Beliau sangat menjujung nilai keadilan. Beliau memerintah sebagai seorang raja dan juga sebagai seorang ulama. Beliau memberdayakan rakyat dengan memberikan keterampilan pembuatan kerajinan untuk meningkat kan ekonomi rakyat.

Sunan Gunung Djati mengubah aturan bulu bekti (pajak) menjadi atur bekti (zakat, infak dan sedekah). Ini bertujuan untuk menghentikan pengiriman garam dan terasi sebagai upeti. Jadi pada masa pemerintahannya, para pembesar yang berada di bawah perlindungan kerajaan Cirebon, dengan sukarela memberikan hasil panen atau hasil tangkapan ikannya kepada negara setahun sekali tanpa ditentukan jumlahnya.

Di bawah kepemimpinan Sunan Gunung Jati, tata pemerintahan diubah dengan metode keIslaman. Meski demikian, Sunan Gunung Jati tetap membiarkan berbagai kebudayaan yang ada di daerah tersebut. Dan adanya budaya Paksinagaliman, yang merupakan perpaduan antara Timur Tengah (Islam), Cina (Kong Hucu, Budha) dan India (Hindu).

Bagikan Artikel

About Ernawati

Avatar