“Orang-orang yang berkata bahwa Ramadhan kali ini adalah Ramadhan terburuk yang akan dilalui umat ini. sungguh kalimat tersebut mencerminkan buruknya adab kepada Allah SWT, bahkan bisa jadi justru ini adalah umat terburuk yang pernah melalui bulan Ramadhan”

(Grand Syaikh Al-Azhar, Prof.Dr. Ahmad Tayyeb) 

Ramadhan 1441H  merupakan kesempatan bagi umat muslim dunia menjalankan aktifitas ibadah dengan khusyu’. Di tengah wabah yang menjalar ber-skala internasional yang mengakibatkan lumpuhnya perputaran ekonomi dunia merembet ke sektor lainnya, utamanya pendidikan dan diplomasi global, keduanya menjadi obyek refleksi kita bersama.

Pada taraf ini, diperlukan kesadaran kolektif tentang mengapa musibah ini menimpa dunia hingga sulit dikendalikan. Inilah menjadi momentum penting mengenai spirit umat Islam dunia menjadikan Ramadhan sebagai evaluasi dan revitalisasi di tengah pandemi. Sisi yang menjadi pusat spirit umat Islam ialah kebersamaan, kekompakan, persatuan umat Islam di dunia sebagai jawaban atas ketidakadilan global.

Timur Tengah sebagai pusat peradaban Islam telah terpecah-belah atas ego sektoralnya masing-masing. Akibatnya, representasi persatuan Islam yang  modernis, ideal, progresif dan harmonis adalah cita-cita umat Islam yang sudah saatnya diwujudkan.

Lembaga-lembaga pendidikan yang besar seperti Al-Azhar yang mumpuni sebagai barometer pendidikan dunia dari segi keilmuan, metodologi, sejarah, dan pengalaman tidak bisa sendirian dalam memproduksi atau melahirkan jawaban-jawaban akhir atas problematika kekinian. Sehingga tujuan syariat dapat terealisasikan serta mewujudkan kemakmuran manusia dan membahagiakan mereka dunia dan akhirat.

Generasi-generasi sebelumnya telah berijtihad untuk menunaikan kewajiban menjawab problematika yang ada di era mereka, kini umat islam diarahkan untuk mengingat kembali ke-Esaan Allah, terhadap apa yang telah ditetapkan serta merekontruksi pikiran kita, sebagaimana era keemasan Islam dibawah pemerintahan Harun Al Rasyid dan Al Ma’mun di mana periode tersebut dunia Arab secara politis bersatu, serta mengalami kemajuan ilmu pengetahuan, sains, dan budaya.

Di balik musibah pandemi ini tentu ada suatu peringatan kecil dari Allah SWT, ini berkaitan dengan cinta dan kedekatan kepada dzat yang menciptakan alam semesta. Meminjam dawuh Kiai Asrori; “Dunia itu segala sesuatu yang memalingkan kita dari Allah, sedangkan akhirat itu adalah segala sesuatu yang membuat kita menuju Allah’’.

Dalam konteks ini, baju kebesaran atas nama Islam harus ditampakkan agar tidak dimanfaatkan oleh kekuatan lain dibelakangnya. Krisis epistemologi mendasari umat Islam terbelenggu hegemoni luar, sehingga kita tersingkir dari percaturan pengetahuan dan kepentingan kekuatan elit Internasional.

Allah menurunkan bala’ salah satunya karena banyaknya kemaksiatan yang tidak bisa dibantah, judi, gay, narkoba, korupsi, minuman keras, pelacuran, dan masih banyak kedazliman-kedzaliman lain merupakan realitas modern yang hadir di tengah peradaban umat Islam saat ini. Pengaruh budaya Eropa yang mudah sekali diakses perlahan menggerus tradisi bangsa kita puluhan tahun. Di situ proses asimilasi ditandai dari perlahan-lahan mengurangi batas perbedaan antarindividu kemudian ciri budaya yang asli yang kita miliki perlahan meredup.

 Melalui momentum Nuzulul Qur’an dan lailatul qadar suatu bukti kasih sayang Allah kepada manusia. Diturunkan dari lauhul mahfudz (kitab tempat Allah menuliskan segala seluruh catatan kejadian di alam semesta)  ke baitul izzah (langit di dunia) sebagai petunjuk untuk umat manusia.

فصل القران من الذكر[1]فوضع في بيت العزة من السماء الدنيا, فجعل جبريل عليه السلام ينزل به على النبي صلى الله عليه وسلم.[2]

Sesuai prinsip turunnya al qur’an sebagai الذكر  atau pengingat, sudah saatnya panji-panji Islam tergerak mewarnai peradaban dunia, sehingga kita bisa membela Islam dengan cara elegan. Salah satu langkahnya adalah dengan cara menegakkan perintah amar ma’ruf nahi munkar. Dalam hal iniimam Ghazali mendefinisikan di dalam Ihya’ Ulumuddin القطب الأعظم فى الدين  atau poros terbesar dalam beragama.

Parameter ber- amar ma’ruf nahi munkar ialah melalui membentuk peradaban dimulai dari sisi sumber daya manusia, seorang yang berilmu pun belum tentu mendalami karakteristik antarindividu sehingga diperlukan strategi yang humanis dan persuasif.

Strategi humanis dan persuasif akan sulit jika kita kehilangan nilai-nilai pluralitas. Allah berfirman; “”وكذلك جعلناكم أمة وسط  premis أمة وسط dijadikan landasan kita untuk berpikir wasathi (jalan tengah), moderat, dinamis, namun tidak mengabaikan perspektif manhaj (aturan spesifik agama) agar terhindar dari perbuatan ekstrim. Artinya al manhaj fi fahmi an-nusus (metode pemahaman nash) tidak tekstualis dan tidak terlalu berlebihan ataupun terlalu kekiri-kirian yang cenderung sekuler, materialistis hingga mengabaikan nilai-nilai agama.     

Dengan demikian, jika spirit beribadah di bulan Ramadhan di tengah pandemi ini kita jadikan kesempatan untuk taqorub kita kepada Illahi, melalui membaca Al Qur’an, shalat tarawih, shalat sunnah, puasa, zakat fitrah, terlebih di bulan Ramadhan terdapat waktu-waktu istimewa seperti nuzulul qur’an dan lailatul qodar sebagai wahana kontemplasi diri.

Wallahu a’lam..


[1] لوح المحفوظ

[2] HR.Hakim, al Mustadrak 2/223

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.