sirah sahabat
sirah sahabat

Kisah Ibnu Abbas Menyadarkan Kelompok Radikal

Kisah ini terjadi pada masa Kekhalifahan sahabat Ali bin Abi Thalib, sepupu dan menantu Nabi. Pada saat itu kaum Haruriyyah (Khawarij) akan berontak. Mereka telah memobilisasi massa dan berkumpul di suatu tempat. Jumlah cukup besar, mencapai enam ribu orang. Dan mereka telah siap angkat senjata memerangi Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Suasana panas mencekam dan mendebarkan jantung. Bukan karena pasukan Islam pimpinan Khalifah Ali gentar, melainkan karena kelompok Khawarij adalah saudara seiman. Mereka tergelincir karena keliru memahami ajaran agama, salah menafsiri al Qur’an dan dangkal pemahamannya tentang hadis Nabi.

Di tengah situasi seperti itu, Ibnu Abbas meminta kepada Sayyidina Ali untuk menunda shalat dhuhur sejenak sampai suasana alam sejuk. Ibnu Abbas bermaksud menemui kelompok Khawarij.

Awalnya, Sayyidina Ali tidak setuju karena khawatir terhadap keselamatan Ibnu Abbas. Namun setelah meyakinkan Khalifah dan semua akan baik-baik saja, Ibnu Abbas diizinkan untuk menemui kaum Khawarij yang akan memberontak tersebut.

Ibnu Abbas lalu keluar memakai pakaian yang sangat indah bersulam perhiasan terbaik dari Yaman. Dengan tenang beliau berjalan menuju kemah-kemah kaum Khawarij yang telah siap sepenuhnya untuk perang. Setiba di sana, Kelompok Khawarij tercengang melihat siapa yang datang. Lebih heran lagi dengan pakaian yang dikenakan. Tapi mereka tetap menyambut Ibnu Abbas dengan baik.

Ibnu Abbas melihat gelagat tersebut dan bertanya, “apakah kalian tidak menyukai pakaian yang indah seperti ini”? Bukankah Rasulullah suri teladan yang paling layak ditiru. Dan bukankah Allah berfirman, “Katakanlah, siapa yang mengharamkan perhiasan Allah yang diperuntukkan untuk hamba-Nya”.

Salah seorang dari kelompok Khawarij bertanya prihal apa yang mendorong Ibnu Abbas menemui mereka. Beliau menjawab, “Aku datang sebagai utusan yang mewakili Sayyidina Ali, sahabat Muhajirin dan sahabat Anshar, karena aku melihat kalian bukan sahabat Nabi dan bukan bagian dari mereka. Al Qur’an turun kepada mereka. Dan, tentu mereka lebih paham tafsirnya dari kalian. Aku kesini untuk menyampaikan apa yang mereka katakan, dan yang jadi ganjalan kalian juga akan aku sampaikan pada mereka”.

Baca Juga:  Alasan Abu Bakar Tidak Mengangkat Pahlawan Badar Menjadi Pejabat

Cara Mematahkan Argumen Tafsir Kelompok Khawarij

Ibnu Abbas bertanya, “apa yang kalian persoalkan dari Sayyidina Ali?

Mereka menjawab, “ada tiga pokok masalah. Pertama, karena Ali telah menyerahkan kepada orang lain untuk memutuskan hukum. Kedua, karena Ali telah berperang namun tidak berkenan menjadikan musuh yang menyerah sebagai tawanan dan tidak pula mengambil harta rampasan perang. Ketiga, karena Sayyidina Ali telah menghapus gelarnya sebagai Khalifah dalam perjanjiannya dengan Mu’awiyah. Karena itu, kalau ia bukan Amirul Mukminin berarti ia adalah Amirul Musyrikin”.

Ibnu Abbas berkata, “Jika aku menyampaikan dalil al Qur’an dan hadis sebagai dasar dari apa yang dilakukan oleh Sayyidina Ali, apakah kalian mau menerimanya”?

Mereka menjawab, “Tentu saja”.

Baik, kata Ibnu Abbas. Untuk menjawab masalah yang pertama, bukankah Allah berfirman, “Hal itu akan diputuskan oleh dua orang yang adil di antara kalian”.

Ibnu Abbas lalu melanjutkan dengan menjelaskan sebab nuzulnya ayat dan tafsirnya secara lengkap. Kemudian membacakan firman Allah yang lain, “Dan jika kamu khawatirkan ada perselisihan antara keduanya, kirimkan seorang penengah dari keluarga laki-laki dan dari keluarga perempuan”.

Ibnu Abbas kembali menerangkan tafsir dari ayat ini. Mereka menerima sebab awalnya mereka memang tidak mengerti secara tuntas.

Ibnu Abbas melanjutkan, untuk masalah poin dua, bukankah Allah berfirman, “Istri-istri Nabi adalah ibu-ibu mereka”. Bukankah yang berperang dengan Ali adalah Sayyidah Aisyah? Dengan demikian, jika kalian tidak menganggap Sayyidah Aisyah sebagai ibu kalian berarti kalian telah kafir”?

Kaum Khawarij juga menerima dan bisa memahami penjelasan ini, mereka sadar selama ini memang tidak memahaminya.

Lanjut Ibnu Abbas, untuk masalah poin ketiga, apakah kalian lupa atau pura-pura lupa saat perjanjian Hudaibiyah saat Nabi menghapus gelarnya dan menyuruh Sayyidina Ali untuk menulis, “Ini adalah piagam perdamaian antara Muhammad bin Abdullah dengan Suhail bin Amr”, bukankah seperti itu, dan bukankah penghapusan gelar Rasulullah tidak menghapus kenabian dan kerasulan beliau?

Baca Juga:  Tafsir Atsari as-Sujud Bukanlah Jidat Hitam

Kembali kaum Khawarij termangu-mangu mendengar penjelasan Ibnu Abbas. Mereka sadar selama ini sampai bertindak cukup jauh karena kesalahan memahami ayat-ayat suci dan hadis. Beruntung Ibnu Abbas masih bermurah hati mengingatkan mereka.

Walaupun tidak semua legowo menerima dan sadar akan kesalahannya, dalam riwayat Nasa’i ada 2000 kaum khawarij yang bergabung dengan barisan Sayyidina Ali. Selebihnya, karena tetap ngotot memberontak, diperangi oleh pasukan kaum muslimin.

Apa yang bisa kita ambil sebagai hikmah?. Karena pemberontakan Khawarij ini mirip dengan gerakan radikal terorisme saat ini, maka hikmah yang dipetik adalah terorisme yang terjadi di belahan dunia yang dilakukan oleh umat Islam karena kedangkalan dan kurang mengerti terhadap tafsir al Qur’an maupun hadist.

Dengan demikian, perlu upaya serius untuk memberikan penyadaran dan pembelajaran terhadap mereka. Sebab memang sejatinya kaum teroris kebanyakan karena memakan mentah-mentah doktrin terorisme. Tindakan tidak manusiawi yang dianggap jihad adalah sebab dangkalnya penguasaan ilmu agama. Tegas kata, mereka ditipu oleh doktrin yang dipoles dengan jihad.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

shalat jenazah

Makmum Masbuk dalam Shalat Jenazah

Salah satu kewajiban kolektif (fardhu kifayah) kalau ada salah seorang muslim yang meninggal adalah menshalati …

kisah nabi

Ketika Nabi Melunakkan Hati Sahabat yang Cemburu karena Merasa Paling Islami

Alkisah, penaklukan Makkah atau lebih tren disebut “Fathu Mekah” berjalan tanpa aral lintang, nyaris tanpa …