kitab sabilul muhtadin
kitab sabilul muhtadin

Fikih Nusantara (9): Kitab Sabil al Muhtadin Karya Syaikh Arsyad al-Banjari

Ditulis oleh ulama asal Martapura, Banjar, Kalimantan Selatan. Lahir di Lok Gambang 15 Shafar tahun 1122 H dan wafat tahun 1227 H. Produktif menulis kitab. Diantara karyanya, Tuhfatu al Raghibin, al Qaulu al Mukhtashar, Hasyiah Fathu al Jawwad, Kanzu al Ma’rifat dan lain-lain.

Sabil al Muhtadin merupakan karya beliau yang paling monumental. Kitab ini pada abad ke 20 dan awal abad 21 telah termasyhur tidak saja di pulau Borneo Kalimat dan Nusantara, tapi juga sampai ke Malaysia, Brunei, Pattani (Thailand Selatan), dan bahkan di Timur Tengah dan menjadi bahan ajar di Masjidil Haram.

Ditulis dengan aksara Arab Pegon berbahasa Melayu. Kitab kedua berbahasa Melayu setelah sebelumnya Syaikh Nuruddin al Raniri dari Aceh menulis kitab Al Shirath al Mustaqim dengan aksara dan bahasa yang sama.

Proyek besar amal jariyah ini mulai ditulis pada 1193 H/1779 M. Tuntas seluruhnya pada 1195 H/1781 M.

Kitab ini mengacu pada kitab-kitab ulama madhab Syafi’i generasi terakhir. Fathu al Wahhab Syarah Minhaj al Thullab karya Syaikh Abi Yahya Zakaria al Anshari, Mughni al Muhtaj yang ditulis Syaikh Khatib al Syarbini, Tuhfatu al Muhtaj karya Ibnu Hajar al Haitami dan kitab Nihayatu al Muhtaj  karya Imam Ramli adalah referensi utamanya.

Selama satu abad setelah kitab ini selesai ditulis, naskah diperbanyak dengan cara disalin atau ditulis ulang dari satu ulama ke ulama yang lain. Belum dicetak dan diterbitkan secara massal seperti sekarang. Kitab asli tetap dipegang Syaikh Arsyad al Banjari dan para ulama yang lain menyalinnya dengan cara ditulis.

Baru pada tahun 1882 M, atas inisiatif dan biaya dari Syaikh Ahmad bin Muhammad al Pattani, seorang ulama besar dari Pattani Thailand kitab ini dicetak dan diperbanyak di Makkah. Untuk kedua kalinya kitab ini dicetak lagi di Konstantinopel pada tahun 1302 H, dan dicetak lagi di Mesir pada tahun 1307 H.

Baca Juga:  Jejak Ulama Nusantara (3) : Mbah Maksum dan Rahasia Amalan Shalawat Nariyah

Dalam karyanya ini, Syaikh Arsyad al Banjari banyak memotret kearifan lokal penduduk Banjar dan Kalimantan Selatan secara umum. Ada banyak kebiasaan masyarakat lokal yang disorot dengan fikih. Seperti kebiasaan memakan anak Wanyi (anak lebah, baik yang masih berbentuk ulat maupun telah berbentuk anak lebah).

Di Kalimantan, bahkan penulis sendiri di waktu kecil pernah mengkonsumsi, anak Wanyi menjadi makanan favorit, lumrah dikonsumsi karena potensi lebahnya memang luar biasa karena lingkungan yang sebagian besar terdiri dari hutan perawan. Lebah sangat mudah dijumpai. Diambil madunya dan dikonsumsi anak Wanyinya.

Dalam cetakan Darr al Fikr, Beirut, anak Wanyi dibahas pada halaman 38 jilid 1. Beliau menulis, “Maka nyatalah bahwa dari pada yang disebut itu bahwasannya barang yang diadatkan oleh setengah dari pada orang awam dari pada memakan ulat yang jadi ia dari pada telor-telor wanyi dan memakan anak wanyi yang jadi ia dari pada ulat itu maka yaitu khata’ yang besar lagi munkar wajib mencegah akan dia atas barangsiapa yang kuasa atasnya”.

Bahasa fikihnya, anak Wanyi yang disebut khata’ lagi munkar oleh Syaikh Arsyad al Banjari hukumnya haram. Tidak boleh dimakan. Inilah satu keistimewaan kitab Sabil al Muhtadin. Banyak mengulas masalah-masalah yang terjadi di masyarakat.

Begitulah ulama Nusantara dulu, banyak menulis karya, kiprahnya luar biasa, pengayom dan penyayang. Sayang kalau di rumah kita tidak tersimpan kitab yang judul lengkapnya Sabil al Muhtadin li al Tafaqquh fi Amri al Din karya Syaikh Arsyad al Banjari yang oleh penduduk Banjar Kalimantan Selatan akrab disapa Datuk Kalampayan.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Sada'i

Avatar of Ahmad Sada'i

Check Also

kitab al nadlhah al hasaniyah

Fikih Nusantara (31): Kitab Al Nadhah al Hasaniyah Karya Sayyid Muhsin Ali al Musawa al Falimbani

Semakin kita membuka dan membaca karya-karya ulama Nusantara, semakin kita paham bahwa mereka telah berusaha …

sullam al munajah

Fikih Nusantara (29): Kitab Sullam al Munajah Karya Sywikh Nawawi al Bantani

Pada bagian terdahulu telah dimuat satu karya Imam Nawawi al Bantani yang memiliki nama lengkap …