Hanya Melafalkan Shalawat Ketika Thawaf
Hanya Melafalkan Shalawat Ketika Thawaf

Kita ketahui bersama bahwa Thawaf adalah salah satu dari rukun haji. Secara berurutan rukun haji ada lima, yakni Ihram atau niat berhaji, Wukuf di Arafah, Thawaf atau mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran yang dimulai dari tempatnya Hajar Aswad lalu jam’ah haji jalan kaki berputar berlawanan arah jarum jam, Sa’I atau berjalan kaki bolak-balik tujuh kali dari bukit Shafa ke bukit Marwa, dan yang terakhir Tahallul atau mencukur rambut kepala.

Sedangkan wajib haji ada 6 yaitu Mabit di Muzdalifah, lempar jumrah aqabah tujuh kali, lempar tiga jumrah di hari tasyriq (11, 12, dan 13 Zulhijjah), Mabit pada malam tasyriq, Ihram dari miqat dan Thawaf wada. Perbedaan rukun haji dengan wajib haji adalah jika rukun haji menjadi bagian inti ibadah haji yang menentukan ke-sah-an ibadah haji. Kalau wajib haji tidak berpengaruh dalam ke-sah-an ibadah haji. Rukun haji tidak dapat digantikan dengan denda atau dam dan lainnya. Sedangkan wajib haji, ketika orang yang meninggalkannya tanpa uzur terkena dosa atas kelalaiannya dan diwajibkan membayar dam atau denda.

Berbicara mengenai Thawaf yang menjadi rukun haji, Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an surat al-Hajj ayat 29 yang berbunyi:

 وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

Artinya, “Hendaknya mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)”

Macam-macam dan syarat Thawaf

 Imam Ghazali berpendapat dalam kitabnya Asrâr al-Hajj, Orang yang sedang thawaf memutari Ka’bah diserupakan dengan malaikat muqarrabîn yang tawaf mengelilingi ’arsy. Sesuai dengan hadist, man tashabbaha biqaumin  fahuwa minhum (siapa saja yang menyerupai suatu kaum, dia termasuk bagian dari mereka). Sedangkan thawaf yang bagus, kata Imam al-Ghazali, yakni yang dilakukan dengan raga sekaligus jiwa yang mengingat Sang Maha Kuasa pemilik alam semesta sehingga yang thawaf bukan sekedar ibadah badaniyah saja.

Syeikh Nawawi al-Bantani dalam kitabnya al-Tsimar al-Yani’ah Syarh Riyadl al-Badi’ah, hal.128-129, menerangkan tentang macam-macam dan syarat-syarat Thawaf. Thawaf ada lima macam, yakni thawaf ifadlah (termasuk rukun haji), thawaf qudum (hukumnya sunnah), thawaf wada’ (termasuk wajib), thawaf sunnah (hukumnya sunnah bagi orang yang memasuki masjidil haram) dan thawaf umrah (termasuk rukun umrah). Dalam pelaksanaannya, thawaf harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Pertama, suci dari najis dan hadats (kecil maupun besar). Kedua, menutup aurat. Ketiga, memulai thawaf dari hajar aswad. Keempat, menyejajarkan pundak kiri dengan hajar aswad di awal dan akhir putaran. Kelima, menjadikan posisi Ka’bah di sebelah kirinya. Keenam, semua anggota badan dan pakaian berada di luar bangunan Ka’bah, Ketujuh, thawaf sebanyak tujuh kali putaran. Kedelapan, tidak bertujuan selain tawaf saat berputar. Kesembilan, berada di dalam Masjidil Haram.

Cerita sebab orang yang hanya bershalawat saat Thawaf

Dalam prosesi Thawaf, jama’ah haji dianjurkan untuk melafalkan dzikir berupa kalimat talbiyah, tasbih, tahlil dan shalawat. Selain berdzikir, para jama’ah haji juga dianjurkan berdoa yang secara umum untuk memohon ampunan, perlindungan, terkabulnya hajat dan ungkapan rasa syukur kepada Allah. Dalam kitab Tanbih al-Ghofilin, ada sebuah kisah yang dialami oleh al-Imam Sufyan ats-Tsauri, beliau mendapati seseorang ketika Thawaf hanya melafalkan kalimat shalawat terus menerus dengan meninggalkan bacaan dan doa lainnya. Lantas beliau bertanya kepada orang itu, yang kemudian dijawab oleh orang tersebut dengan menceritakan sebab ia melakukan itu.

Ketika al-Imam Sufyan Ats-Tsauri sedang Thawaf mengelilingi Ka’bah dia melihat seseorang yang setiap kali ia mengangkat kakinya saat melangkah senantiasa membaca shalawat atas Nabi Muhammad SAW.

Karena penasaran, beliau kemudian menyempatkan diri untuk bertanya:

“Sejak awal engkau telah meninggalkan bacaan tasbih dan tahlil lalu menggantinya dengan  hanya mengucapankan shalawat atas Nabi. Adakah alasan khusus bagimu dalam mengamalnya?”

Lantas orang itu balik bertanya: “Siapakah engkau? Semoga Allah mengampunimu.”

Sufyan Ats-Tsauri menjawab: “Aku adalah Sufyan Ats-Tsauri.”

Orang itu berkata : “Sungguh seandainya jika bukan karena engkau orang yang sangat istimewa, niscaya aku tidak akan memberitahukan rahasia kejadianku ini padamu.”

Berceritalah ia, “Berawal ketika aku melaksanakan ibadah Haji bersama ayahku, tiba-tiba saja ayahku meninggal dunia dan kulihat wajahnya tampak menjadi hitam kelam. Dalam keadaan penuh duka dan kaget, aku mengucapkan “Innalillah wainna ilaihi raji’un” lalu ku tutup wajahnya dengan kain.

Setelah itu, aku mandikan dan ku shalati jenazah ayahku. Karena terasa letih, aku sempat tertidur. kemudian aku bermimpi melihat sesorang yang wajahnya sangat tampan, wangi dan bercahaya sangat bersih bersinar. Aku melihat orang itu tiba-tiba mengusap wajah ayahku dengan tangannya yang penuh cahaya, lalu kulihat wajah ayahku langsung serta merta berubah menjadi putih bercahaya.

Saat orang yang tampan itu hendak pergi, lalu dengan spontan aku memegang pakaiannya sembari bertanya padanya:

“Wahai hamba Allah, siapakah engkau ini? Mengapa wajah ayahku berubah menjadi putih bercahaya seperti ini setelah sebelumnya hitam kelam ?”

Orang itu menjawab: “Apakah kau tidak mengenalku? Aku adalah Rasulullah SAW yang mempunyai mukjizat Al-Qur’an. Sesungguhnya ayahmu itu termasuk orang yang telah melampaui batas, banyak berbuat dosa dan maksiat semasa hidupnya. Walaupun begitu, karena ia sering bershalawat padaku, disaat sakaratul mautnya, aku datang untuk memberi syafaat padanya.”

Setelah aku terbangun dari tidurku dan kulihat wajah ayahku benar-benar berubah menjadi putih bercahaya seperti yang kulihat dalam mimpi.”

Shalawat: syafaat, perintah dan bentuk syukur kepada Nabi SAW

Shalawat adalah salah satu amalan yang sangat mudah dikerjakan dan ganjarannya bernilai tinggi. Mengetahui kisah di atas, kita seharusnya bertambah yakin bahwa Rasulullah akan senantiasa memberikan syafa’at kepada orang yang bershalawat kepadanya. Walaupun orang yang bershalawat adalah orang yang selalu melakukan keburukan dan kemaksiatan. Maka kita sebagai umat Nabi Muhammad, jangan sampai putus asa untuk meminta syafaat nabi SAW dan ridho Allah SWT lewat bacaan shalawat.

Kita perlu ingat bahwa setiap kebaikan yang diperoleh seorang hamba dalam urusan agama adalah berkat jasa nabi Muhammad. Beliau telah berjuang dengan sungguh-sungguh untuk mendakwahkan dan menyebarkan Islam. Berkat kerja keras beliau, Islam bisa sampai kepada kita. Maka bershalawat adalah bentuk syukur dan terima kasih kita kepada nabi SAW. Dalam Al-Qur’an surat al-Ahzab ayat 56, Allah perintahkan bershalawat untuk Nabi Muhammad SAW.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-nya bershalawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. “