presenter olahraga jason mohammad meraih rekor sebagai muslim berpenghasilan
presenter olahraga jason mohammad meraih rekor sebagai muslim berpenghasilan

Kisan Inspiratif Jason Mohammad, Presenter Olahraga Muslim Pertama

JAKARTA – Menjadi seorang muslim dilingkungan yang sama sekali tidak ada komunitas menjadi sangat berat, bahkan kerap kali pelecehan, serta perlakuan tidak menyenangkan datang secara tiba-tiba. Akibatnya beberapa orang menyembunyikan keyakinannya agar dapat bertahan, meski harus menanggung luka sekian tahun.

Islamofobia menjadi satu hal yang kerap terjadi pada keluarga minoritas, terlebih dengan tidak adanya literasi tentang Islam diwilayah tersebut, sehingga menjadikannya semakin asing. Apa yang dialami oleh seorang pria bernama Jason Muhammad dapat menjadi inspirasi bahwa pelecehan, rasis dan islamofobia tidak membuatnya surut dalam menggapai cita-cta menjadi seorang jurnalis tenar.

Jason Mohammad, seorang presenter BBC dan acara Match of The Day 2, bicara banyak soal agama, ras, dan identitas. Dia adalah putra dari ayah Pakistan dan ibu Welsh. Ia dibesarkan sebagai seorang Muslim yang taat di Ely, secara resmi pinggiran kota Cardiff yang paling miskin.

 Pada 1980-an, hidupnya sangat sulit dan ini tantangan yang tidak hanya harus dihadapi Mohammad untuk mencapai mimpinya menjadi seorang jurnalis tetapi juga yang membuatnya menekan keyakinannya. Ada kebanggaan yang tak tergoyahkan, namun ada ketakutan, keengganan, dan, pada akhirnya, luka emosional yang dalam.

“Orang-orang berpikir Islamofobia adalah hal baru, tetapi saya dilecehkan karena menjadi seorang Muslim ketika saya berusia tujuh tahun. Saya dipanggil ‘Muzzie’ dan suatu hari ketika berjalan pulang dari sekolah, seorang anak meludahi saya tanpa alasan,” kata dia dilansir dari laman Guardian dan republika.co.id Jumat (30/7).

Di sekolah itu, di Cardiff, Mohammad menjadi satu-satunya Muslim. Di sana adalah tempat yang sulit di mana ada banyak rasis di sekitarnya. Dia terus-menerus dibuat sadar bahwa dirinya berbeda.

Baca Juga:  MUI dan Tokoh lintas Agama Sepakat Terorisme Bukan Jalan Jihad Tapi Sebuah Kejahatan

“Ketika Anda sadar bahwa Anda berbeda, Anda merasa itu (pelecehan rasis) dapat terjadi kapan saja. Hal semacam itu melekat pada Anda dan dapat merusak Anda di masa dewasa. Itu benar-benar terjadi pada saya, maka saya merasa tidak mampu dan tidak mau berbicara tentang iman saya selama bertahun-tahun,” tuturnya.

Titik balik terjadi pada 2009 ketika Mohammad berziarah ke Mekkah sebagai bagian dari serial dokumenter untuk saluran TV berbahasa Welsh S4C. Bagi Mohammad, pengalaman itu sedalam yang dia harapkan. Dia menggambarkan perjalanan itu sebagai kebangkitan spiritual, dan memberinya kepercayaan diri dan keinginan untuk terbuka tentang siapa dia dan apa yang dia yakini.

Reaksi itu membuat saya sadar bahwa orang-orang tertarik pada agama dan spiritualitas dan bahwa tidak perlu menyembunyikan warisan Pakistan saya dan betapa bangganya saya akan hal itu,” jelasnya.

Tidak dapat disangkal betapa mudahnya Muhammad sekarang berbicara tentang imannya. Dari rumahnya di Cardiff, yang ia tinggali bersama istrinya, Nicola, dan ketiga anaknya, ia berbicara banyak tentang perjalanan ke Mekkah 12 tahun yang lalu, dan tentang Ramadhan.

Pengalaman Mohammad mendorongnya untuk berbicara lebih luas tentang ras, khususnya yang berkaitan dengan sepak bola. Sebagai seseorang yang jatuh cinta pada olahraga saat masih kecil, pria berusia 47 tahun itu sangat yakin bahwa ada lebih banyak yang harus dilakukan untuk mengatasi pelecehan di lapangan.

“Saya akan segera menendang tim mana pun yang terbukti bersalah mengeluarkan pemain rasis dari kompetisi Eropa dan internasional,” katanya. Dia juga percaya masih banyak yang harus dilakukan untuk mengatasi pelecehan yang terjadi di luar lapangan.

“Saya mendapat komentar mengerikan di Twitter dan yang tidak bisa saya pahami adalah mengapa beberapa orang berpikir tidak apa-apa untuk melecehkan seseorang hanya karena melakukan pekerjaannya, apakah itu pesepakbola seperti Marcus Rashford, Jadon Sancho dan Bukayo Saka atau presenter sepakbola seperti saya. Saya sepenuhnya mendukung setiap dan semua langkah yang menghentikan hal itu terjadi,” katanya.

Baca Juga:  Saat Pemerintah India Berupaya Asingkan Umat Islam, Warga Sikh Ini Justru Sumbang Tanah Untuk Masjid

Etos kerja Mohammad sendiri tidak perlu dipertanyakan lagi. Selain menjadi pembawa acara dua radio, ada berbagai pertunjukan olahraga yang dihadirinya, termasuk Olimpiade Tokyo. Ini akan menjadi Olimpiade kedua yang diliput Mohammad untuk BBC, setelah menjadi bagian dari timnya di Olimpiade 2012.

Prestasi profesionalnya sangat berarti baginya. “Saya tumbuh dengan menonton orang-orang seperti Des Lynam dan Steve Ryder dan hanya itu yang ingin saya lakukan. Menyajikan olahraga di TV dan radio,” katanya.

 “Tetapi saya terus-menerus diberitahu bahwa itu tidak akan terjadi pada saya, bahwa seorang anak laki-laki bernama Mohammad dari salah satu daerah terberat di Inggris, jika bukan Eropa, tidak dapat hadir di BBC. Tapi saya tetap percaya, gigih dan terus berusaha, dan akhirnya saya berhasil,” ucapnya.

Mohammad juga berharap, keberhasilannya menjadi presenter Muslim pertama Match of the Day akan menginspirasi anak-anak Muslim lainnya karena melihat seseorang seperti dirinya menyajikan salah satu acara paling ikonik di televisi.

“Anda telah memberi mereka harapan bahwa mereka dapat mencapai impian mereka sendiri. Saya tidak pernah memikirkan hal itu dan, meskipun ini adalah tanggung jawab besar, itu juga suatu kehormatan dan membuat saya semakin bangga dengan siapa saya,” tutur dia.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Ali Kalora

Pentolan Teroris Mujahidin Indonesia Timur Ali Kalora Tewas Ditembak Satgas Madago Raya

Palu – Setelah melakukan perburuan intensif, Satgas Madago Raya akhirnya berhasil menembak mati tokoh teroris …

Dr Adnan Anwar

Silaturahmi Nasional Penting Sebagai Sarana Tabayyun Dalam Menjaga NKRI

Jakarta – Dalam konteks berbangsa dan bernegara, persaudaraan tidak hanya dibangun atas dasar persamaan keyakinan, …