ibnu katsir
ibnu katsir

Kitab Tafsirnya Menjadi Rujukan Utama, Siapa Sebenarnya Ibnu Katsir?

Kurang lengkap rasanya bila tak mengenal Ibnu Katsir. Penulis kitab tafsir Al Qur’an al Adhim yang kemudian populer dengan Tafsir Ibnu Katsir. Sebuah kitab tafsir yang ditulis dengan gaya bil ma’tsur yang menempati panggung paling atas dalam khazanah tafsir al Qur’an bersama Kitab Tafsir al Thabari. Muhammad Ali al-Shabuni kemudian membuat resume (mukhtashar) nya dan diberi judul Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir.

Dalam kitabnya al-Bidayah wa al Nihayah (22/14), Ibnu Katsir menulis sendiri bahwa ia lahir di Mijdal, Busyra dekat Damaskus tahun 701 H. Nama lengkapnya, seperti ditulis dalam muqadddimah tafsirnya, adalah Imaduddin Abu al Fida Ismail bin Umar bin Katsir Bin Dau’ bin Katsir bin Dara’ al Qurasyi al-Syafi’i.

Dalam kitab yang sama (33/14) beliau menuturkan bahwa ayahnya meninggal di Mijdad, Busyra pada tahun 703 H. Dengan demikian beliau berstatus yatim di usia dua tahun. Sejak itu, ia diasuh oleh saudara kandungnya yang paling tua. Katanya, “Saya memiliki kakak kandung sebagai teman dan sangat menyayangiku”.

Ibnu Katsir tumbuh menjadi pemuda cerdas. Bakat ilmu tafsirnya telah tampak sejak belia, umur sepuluh tahun telah hafal al Qur’an. Setelah itu ia mempelajari ilmu qira’ah, kitabah, ilmu hadis, ilmu fikih, ilmu ushul fikih, ilmu rijal, sejarah dan ilmu-ilmu agama Islam yang lain.

Tidak sia-sia, semangat belajar dan menekuni berbagai disiplin ilmu agama menempanya menjadi seorang ulama kesohor. Ia menjadi seorang ulama ahli tafisr, ahli hadis, pakar ilmu fikih, ushul fikih, ahli sejarah, ahli sirah, dan sastrawan. Derajat khatib dan mufti disandangnya.

Ia belajar kepada lebih seratus orang guru. Di antaranya, Qasim bin Muhammad al Barzali ulama ahli sejarah Syam, Yusuf bin Abdirrahman al Mizzi, al Hafidz ibnu Qalanisi, Ibrahim bin Abdirrahman al Fazari, Najmuddin ibnu al ‘Asqalani, Syihabuddin al Hajar, Kamaluddin ibnu Qadi Syuhbah, Najmuddin Musa bin Ali bin Muhammad al Jaili, Syamsuddin al Dzahabi, Qasim bin Asakir, Ibnu al Syirazi, Ishaq al Amidi, dan lain-lain.

Baca Juga:  Menguji Kembali Genealogi Islam di Nusantara

Sedangkan untuk ilmu rijal, ia belajar kepada mertuanya, al Mizzi ulama ahli hadis yang sangat terkenal. Kepadanya, ia mengaji kitab Tahdhibu al Kamal fi Asma al Rijal. Sebagaimana diketahui, istri Ibnu Katsir adalah putri al Mizzi bernama Zainab binti Yusuf al Mizzi. Istrinya juga hafal al Qur’an.

Ditulis dalam pengantar Tafsirnya, Ibnu Katsir wafat pada hari Kamis tanggal 26 Sya’ban tahun 774 H di Damaskus dan sesuai wasiatnya, ia dikubur disebelah makam gurunya, Ibnu Taimiyah.

Di antara karyanya, Tafsir al Qur’an al ‘Adzim, al-Bidayah wa al Nihayah, Jami’ al Masanid wa al Sunan, al Ijtihad fi Thalabi al Jihad, Ikhtishar fi Ulum al Hadis, Ahadis al Tauhid wa al Radd ala al Syirk, al Nihayah fi al Fitan wa al Malahim, dan kitab-kitab yang lain.

Inilah Ibnu Katsir, ulama yang kaya ilmu dan kaya referensi dengan segudang karya. Disebut oleh Ismail ibnu al ‘Al, ketika menulis Tafsir Ibnu Katsir, tidak kurang dari 241 referensi yang ia baca dan dijadikan sumber untuk menyusun tafsirnya ini.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

shalat jenazah

Makmum Masbuk dalam Shalat Jenazah

Salah satu kewajiban kolektif (fardhu kifayah) kalau ada salah seorang muslim yang meninggal adalah menshalati …

kisah nabi

Ketika Nabi Melunakkan Hati Sahabat yang Cemburu karena Merasa Paling Islami

Alkisah, penaklukan Makkah atau lebih tren disebut “Fathu Mekah” berjalan tanpa aral lintang, nyaris tanpa …