Belum dua pekan Lebaran Idhul Fitri 1441 H berlalu, Indonesia dihebohkan oleh acara Webinar nasional yang bertemakan ‘Menyoal Kebebasan Berpendapat dan Konstitusionalitas Pemakzulan Presiden di Era Pandemic Covid-19”. Acara tersebut diselenggarakan oleh Masyarakat Hukum Tata Negara Muhammadiyah (MAHUTAMA) dan Kolegium Jurist Institute (KJI). Ada beberapa narasumber yang berbicara di antaranya adalah Prof. Din Syamsuddin.

Dalam kesempatan itu, Prof. Din Syamsuddin mengemukakan pendapat tentang 3 alasan Presiden dapat dimakzulkan. Beliau mengklaim menggunakan referensi kitab al-Aḥkām al-ṣulṭānīyah. karya Imam al-Māwardī. Menarik ditelisik, siapakah Imam al-Mawardi, tokoh yang menjadi rujukan Prof. Din?

Nama lengkap al-Mawardi adalah Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Habib al- Mcawardi al- Bashri (364-450 H/974-1058 M), dilahirkan di Basrah, Irak. Beliau sejak kecil mempunyai  kecerdasan  dan  kepandaiannya  dalam  berorasi,  berdebat, berargumen dan memiliki ketajaman analisis terhadap setiap masalah yang dihadapinya.

Terbukti berkat keahliannya, sejarah   mencatat   bahwa   Al-Mawardi dipercaya untuk memegang jabatan sebagai hakim di beberapa kota, seperti di Utsuwa (daerah Iran) dan di Baghdad. Karier Al-Mawardi selanjutnya dicapai pada masa Khalifah Al-Qo’im (1031- 1074). Pada waktu itu ia diserahi tugas sebagai duta diplomatik untuk melakukan negosiasi dalam memecahkan berbagai persoalan dengan para tokoh pemimpin dari kalangan Bani Buwaih Saljuk Iran.

Dalam sejarah pendidikannya, al-Mawardi pertama kali belajar di kota kelahirannya, Basrah kemudian pindah ke Baghdad. Al-Mawardi pernah belajar dari ulama-ulama yang terkenal pada masa itu diantaranya Abu Qasim Abdul Wahid bin Husein Al-Syaimiri, Muhammad bin Adi Al-Munqari, Ja’far bin Muhammad Al-Fadal bin Abdullah Abu Qasim Al-Daqaq, Syeikh Islam Abu Hamid, Ahmad bin Abu Tahir Muhammad bin Ahmad Al- Isfarayni, Abu Muhammad al-Bafi Al-Khawarijmi.

Beliau belajar ilmu-ilmu agama seperti hadist, teologi, tafsir dan fiqih Dari beberapa gurunya, Abu Hamid al-Asfarayini merupakan guru yang paling  berpengaruh  terhadap  karakteristik  Al-Mawardi.  Dari  Abu  Hamid-lah Mawardi mendalami madzhab Syafi’i dalam kuliah rutin yang diadakannya di sebuah  Masjid  yang  terkenal  dengan  Masjid  Abdullah  ibnu  al-Mubarak  di Baghdad hingga ia terkenal sebagai ulama besar madzhab Imam Syafi’i.

Adapun Murid-Murid Imam al-Mawardi yang terkenal adalah Khatib Al-Baghdadi, al-Maqdisi,  Abu Fada’il Al-Rabi’iyy Al-Mawsili, Hassan Al-Abdari, Mahdi bin Ali Al-Isfarayni al-Qadi Abu Abdullah, Khairun al-Baghdad al-Muqarri Ibn al-Baqalani dan Abu Mansur Al-Khasayri Al-Ustaz Abu Said ibn Al-Ustaz Abu Qassim al-Khusayri, Shahi Al-Alwahi Abu  Muhamad  Al-Misri, Abu Bakar Hulwani.

Kemudian, mengenai buku-buku karangan al-Mawardi, ada cerita menarik yang ditulis oleh Ibn Khallikan dalam kitab Wafayat al-A’yan hal. 281-283. Diceritakan bahwa banyak  karya tulis al-Mawardi dalam bentuk kitab atau buku. Tetapi al-Mawardi tidak menghendaki buku-buku  karangannya  diedarkan  pada  masa  hidupnya,  karena takut akan berubah niat menjadi riya dan akan mengurangi nilai-nilai pahala dari apa yang telah ia usahakan, serta mengakibatkan amalnya itu tidak diterima oleh Allah. 

Buku-buku  karyanya  baru  diketahui  setelah  ia mendekati  ajal.  Kepada seorang murid yang ia percayai, Al-Mawardi berpesan agar buku-buku karyanya yang diletakkan di suatu tempat supaya diambil dan disebarluaskan. Muridnya pun hanya menemukan beberapa buku saja dari sekian banyak buku yang disebutkan oleh Al-Mawardi.

Menurut beberapa muridnya, menjelang wafat al-Mawardi pernah mengatakan “Buku-buku  saya  ada  di  si  Fulan.  Saya  tidak  akan  mengeluarkannya, karena saya khawatir, saya tidak ikhlas. Jika saya mati tolong pegang  tangan saya. jika tangan saya bisa menggenggam, maka tulisan saya hanya sedikit yang diterima,  maka  tolong  ambil  tulisan-tulisan  saya  lalu  buang  ke  sungai Tigris, akan tetapi jika tangan saya terbuka, maka itu berarti diterima Allah”. Si Murid mengatakan: “Kemudian saya laksanakan pesannya begitu beliau wafat. Ternyata tangan beliau terbuka. Maka saya tahu karangan-karangannya diterima disisi Allah, Lalu saya edarkan”.

Al-Mawardi tergolong ulama yang produktif dalam menghasilkan karya dalam berbagai bidang. Beberapa karangan al-Mawardi yang berhasil ditemukan yakni dalam Ilmu Fiqih diantaranya Al-Hawi al-Kabir, Adab al-Qadhi, dan al-Iqna. Bidang sejarah diantaranya Alam An- Nubuwah,  Dalam Ilmu Politik diantaranya al-Ahkam al-Sulthaniyah,  Nasihatu Al Muluk, dan Tashilu  An  Nadzari  wa  Ta’jilu  Adz  Zhafari  fi  Ahlaqi  Al  Maliki  wa Siyasatu Al Maliki.   Dalam bidang Tafsir diantaranya  Tafsiru al-Qur’an al-Karim, An Nukatu wa Al Uyunu dan   Al Amtsalu Wa Al Hikamu. Dalam bidang Sastra dan etika diantaranya  Adabu Ad Dunya wa Ad Din

Al-Mawardi dalam mengarang kitabnya, seperti para ulama lain pasti merefleksi kondisi pada zamannya. Al-Mawardi hidup pada masa-masa kemunduran dinasti Abbasiyah. Banyak permasalahan social_politik yang membuat situasi disintegrasi dimana-mana. Berbagai kekuatan mencengkeram dinasti Abbasiyah, mulai dari membuat kekacauan di wilayah-wilayah yang jauh dari Baghdad sampai di dalam istana pun terjadi berbagai permasalahan. Salah satu kekuatan yang berpengaruh adalah bani Buwaihi yang beraliran Syiah.

Pergolakan social_politik inilah yang mempengaruhi al-Mawardi menulis kitab al-Ahkam al-Sulthaniyah yang salah satu isinya berkaitan dengan pemakzulan pemimpin. Kitab itu ditulis al-Mawardi di masa-masa akhir hidupnya yang menggambarkan pemikiran politik. Al-Mawardi wafat pada tanggal 30 bulan Rabi’ul Awwal tahun 450 hijrah bersamaan 27 Mei 1058 masehi. Ketika itu beliau berumur 86 tahun.

Pemakzulan Pemimpin Menurut Al-Mawardi

Mengenai polemik yang terjadi tentang syarat pemakzulan yang diutarakan Prof. Din, tercatat dalam kitab al-Aḥkām al-ṣulṭānīyah, bahwa:

وَاَلَّذِي يَتَغَيَّرُ بِهِ حَالُهُ فَيَخْرُجُ بِهِ عَنِ الْإِمَامَةِ شَيْئَانِ:

أَحَدُهُمَا: جَرْحٌ فِي عَدَالَتِهِ. وَالثَّانِي: نَقْصٌ فِي بَدَنِهِ.

“Perubahan keadaan pemimpin yang menyebabkannya tidak layak lagi memimpin ada dua: (1) luka pada keadilannya, (2) kekurangan dalam fisiknya”

Dari dua hal ini, terlihat bahwa al-Mawardi ini tidak menjelaskan tiga syarat yang disebutkan oleh Prof. Din. Dalam kitabnya, Al-Ahkâm al-Sulthâniyah, al-Mâwardî menyebut 10 tanggung jawab (tugas) khalifah dan kewajiban umat terhadap pemimpinnya, yaitu: Menjaga agama, menerapkan hukum di antara orang-orang yang bertikai, menjaga keamanan negara melaksanakan hukuman, menjaga perbatasan, memerangi orang yang menentang Islam setelah didakwahi, menarik royalty dan pajak, membagi bantuan kepada yang berhak, mengangkat pejabat dan pegawai serta penasehat yang layak dan terpercaya, dan mencukupi gaji mereka sehingga dapat bekerja dengan baik, melakukan pengawasan dan mengetahui keadaan umat dan tidak mengandalkan orang lain.

Jika khalifah telah menunaikan tanggung jawabnya, kewajiban umat adalah taat dan membelanya (الطاعة والنصرة). al-Mâwardî menulis dalam kitabnya (h. 42-43):

 “Jika Imam telah menunaikkan tanggung jawabnya terkait hak-hak umat seperti yang telah kami sebut, maka dia telah menunaikan hak-hak Allah yang ada pada mereka. Wajib bagi umat untuk taat dan membelanya sepanjang tidak berubah keadaannya. Perubahan itu, yang membuat boleh keluar dari kepemimpinannya, adalah dua hal. Pertama, cacat dalam keadilan. Kedua, cacat fisik. Cacat dalam keadilan adalah fasik. Cacat fisik ada tiga yaitu cacat indera, cacat organ, dan cacat kemandirian/kebebasan.”   

Cacat keadilan (fasik) dicontohkan al-Mâwardî seperti melakukan perbuatan terlarang, memperlihatkan kemunkaran, dan mengikuti hawa nafsu. Cacat indera dicontohkan al-Mâwardî dengan gila, buta, tuli, bisu, dan gagap. Contoh cacat organ adalah kehilangan alat vital, impoten, kehilangan dua tangan dan kaki. Contoh cacat kebebasan atau kamandirian adalah tersandera atau ditawan pihak musuh. Al-Mâwardî memberikan ketentuan rinci dan ragam pandangan terkait jenis-jenis cacat fisik yang membolehkan imam dimakzulkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.