Ahmadiyah
Ahmadiyah

Haruskah Afirmasi Hak Beragama Ahmadiyah [3]: Ajaran atau Doktrin

Sebagai sebuah sekte dalam Islam yang mempunya pemikiran dan gerakan, Ahmadiyah Qadian juga memiliki suatu ajaran atau doktrin yang didasakan pada pemahaman terhadap Alquran dan hadis. Memang, doktrin Ahmadiyah yang cenderung berbeda dengan gerakan Islam mainstrem menjadikan Ahmadiyah, oleh sebagian orang, dianggap sesat. Diantara ajaran tersebut adalah sebagai berikut:

  • Paham Kenabian

Dalam ajaran Ahmadiyah Qadian, Mirza Ghulam Ahmad diyakini sebagai Nabi. Menurut Ahmadiyah Qadian, ada tiga kategori kenabian, yaitu: pertama, Nabi Syahib Asy Syariah dan Mustaqil. Nabi Syahib Asy Syariah adalah nabi yang membawa syariat dan hukum perundang-undangan Allah Swt, sementara Nabi Mustaqil adalah hamba Allah yang diangkat sebagai Nabi yang tidak mengikuti Nabi sebelumnya, seperti Nabi Musa a.s, yang kedatangannya bukan mengikuti atau melanjutkan ajaran Nabi sebelumnya, tetapi beliau langsung menjadi Nabi yang membawa syariat Taurat. Contoh lain adalah Nabi Muhammad Saw., yang datang membawa syariat Alquran. (Sinar Islam, No. 4 Tahun VI, April 1956, hlm. 13).

Kedua, Nabi Mustaqil Ghair at-Tasyri’i, yakni hamba Allah yang diangkat menjadi Nabi dengan tidak mengikuti Nabi sebelumnya, dalam arti ia tidak membawa syariat baru. Ia ditugaskan oleh Allah untuk membawa dan menjalankan syariat yang dibawa Nabi sebelumnya. Para Nabi yang termasuk kategori kedua ini adlah Nabi Harun, Sulaiman, Daud, Zakariya, Yahya, dan Isa a.s. Nabi-nabi itu diangkat secara langsung oleh Allah menjadi nabi dan ditugaskan menjalankan syariat Nabi Musa a.s yang ada dalam kiab Taurat.

Ketiga, Nabi Zhilli Ghair at-Tasyri’i, adalah hamba Allah yang mendapatkan anugerah dari Allah Swt. Untuk mengemban status sebagai Nabi semata-mata karena hasil kepatuhan kepada Nabi sebelumnya dan juga mengikuti syariatnya. Tingkatannya berada di bawah kenabian sebelumnya dan ia juga tidak membawa syariat baru. Hamba Allah yang masuk dalam golongan Nabi ketiga ini adalah Mirza Ghulam Ahmad yang mengikuti syariat Nabi Muhammad Saw.

Baca Juga:  Beda Tafsir Khilafah Menurut Ahmadiyah dan Hizbut Tahrir [1]: Ahmadiyah, Khilafah Sudah Berdiri

Pandangan kenabian Ahmadiyah Qadian berbeda dengan pandangan Ahmadiyah Lahore. Sekalipun Ahmadiyah Lahore secara implisit memandang MGA sebagai Nabi, mereka membagi kategori kenabian menjadi dua; pertama, Nabi haqiqi, yaitu Nabi yang ditunjuk langsung oleh Allah Swt dan membawa syariat. Kedua, Nabi lughawi, seorang manusia biasa, tetapi banyak persamaan yang cukup signifikan dengan Nabi yang lain, dalam arti ia juga menerima wahyu. Lihat Susmojo Djojosugito, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Bukan Nabi Haqiqi (Yogyakarta: PB GAI, 1984), hlm. 7-8.

  • Pewahyuan

Sebagaimana yang sudah disinggung diawal bahwasannya kalangan Ahmadiyah meyakini bahwa MGA adalah al-Mahdi yang tidak bisa dipisahkan dengan al-Masih, sebab al-Mahdi dan al-Masih merupakan satu tokoh dan satu pribadi. Aliran Ahmadiyah juga meyakini, sebagaimana dikabarkan dalam sebuah hadis—bahwa al-Masih akan turun kembali ke dunia dan dia adalah seorang Nabi yang ditugaskan oleh Allah untuk membunuh Dajjal di akhir zaman. Itulah sebabnya Ahmadiyah tidak dapat dipisahkan dengan masalah pewahyuan. Hal ini berarti, wahyu yang disampaikan kepada al-Mahdi adalah untuk menginterpretasikan Alquran sesuai dengan ide pembaharuannya.

  • Tentang Khilafah

Ahmadiyah memahami konsep khilafah, baik Qadian maupun Lahore, sesungguhnya sama-sama mendasarkan pada dalil yang sama, yakni Alquran. Meskipun demikian, kedua aliran tersebut memiliki pemahaman yang berbeda tentang konsep khilafah. Merujuk pengertian Khalifah II Ahmadiyah Qadian, yakni Basyiruddin Mahmud Ahmad, kata khalifah dalam Alquran dipahami dan digunakan dalam tiga pengertian;

Pertama, untuk Nabi-nabi yang disinyalir sebagai pengganti Allah di dunia, seperti Nabi Adam (QS. Al-Baqarah [3]: 31-32). Kedua, khalifah dipahami sebagai makna bagi umat atau kaum yang datang kemudian seperti Nabi Shaleh yang diutus oleh Allah untuk kaum Tsamud yang berkuasa setelah kaum Ad (QS. Al A’raf [7]: 70 dan 75). Ketiga, dipergunakan untuk menjelaskan para pengganti Nabi, karena mereka telah mengikuti jejak para nabi sebelumnya. Nabi Harun yang merupakan khalifah Nabi Musa adalah contohnya sebagainaya dijelaskan dalam QS. Al- A’raf [7]: 143. (Fajar Kurnia, 2008: 85).

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir