Hagia Shopia
Hagia Shopia

Istanbul – Hagia Sophia bangunan monumental yang telah menjadi warisan dunia, bangunan bersejarah yang melukiskan berbagai kisah bagi perjalanan bangsa Turki sejak beberapa abad lalu, mejadi tempat perjumpaan bagi agama-agama dunia, terutama Islam, Yahudi dan Kristen.

Hagia Sophia yang megah, pertama kali oleh diresmikan pada 15 Februari 360 M pada masa pemerintahan kaisar Konstantius II oleh Uskup Eudoxius dari Antioka mulanya adalah katedral. Gereja itu dibangun di sebelah tempat istana Kekaisaran Byzantium.

Pada awal abad ke-14 dilakukan renovasi besar-besaran. Keistimewaan kubah ini terletak pada bentuk kubahnya yang besar dan tinggi. Ukuran tengahnya 30 meter, tinggi dan fundamentalnya 54 meter. Interiornya dihiasi mosaik dan fresko, tiang-tiangnya terbuat dari pualam warna-warni dan dindingnya dihiasi ukiran.

Pada 29 Mei 1453, Konstantinopel ditaklukkan Sultan Mehmed II. Dikisahkan, Mehmed II kala itu turun dari kudanya dan bersujud syukur pada Allah SWT, lalu pergi ke Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan agar gereja tersebut diubah menjadi masjid.

Seturut diubahnya Kesultanan Turki Utsmani menjadi republik sekuler, Mustafa Kemal Ataturk mengubah status Hagia Sophia menjadi museum melalui dekrit kabinet pada 1934. Dekrit itu yang dibatalkan oleh Dewan Rakyat Turki, Jumat (11/7) lalu.

Saat dijadikan museum, hiasan kaligrafi bertuliskan ayat Alquran dihapus untuk menampakkan kembali lukisan-lukisan ikonoklas Kristiani di baliknya. 

Kini Hagia Sophia menapaki kembali sejarah baru setelah puluhan tahun menjadi museum dan dikembalikan menjadi Masjid, kumandang adzan pertama kali pun bergema yang kemudian disambut dengan suka cita oleh seluruh warga Turki dengan bertepuk tangan sembari melantunkan kalimat takbir menandakan rasa syukur yang tiada dapat diungkapkan dengan kata.

Dikutip dari laman republika.id, Pelataran bangunan bersejarah Hagia Sophia sudah dipenuhi warga Istanbul lepas tengah hari, Sabtu (12/7). Ratusan warga tampak berkumpul menjelang sore itu, perempuan, laki-laki, anak-anak. Tak sedikit yang mengibarkan bendera bulan sabit putih dilatari kain merah. Susananya gembira. Terdengar diteriakkan berulang seruan tahlil bersama. “La ilaha ilallah… la ilaha ilallah….” 

Kemudian masuk waktu shalat Ashar. Dan yang tak pernah terjadi selama 85 tahun belakangan terjadilah. “Allahu Akbar… Allahu Akbar…” terdengar jelas muazin melantunkan azan dari dalam wilayah Hagia Sophia dilantangkan pengeras suara.

Sontak kerumunan membalas azan tersebut sembari bertepuk tangan. Kemudian khidmat sepanjang azan dilantunkan hingga selesai dan warga yang berkerumum ramai meneriakkan takbir.

Video yang dilansir kantor berita Turki Anadolu Agency tersebut menggambarkan reaksi sebagian warga Turki menyikapi Keputusan Dewan Rakyat Turki, semacam mahkamah administrasi tertinggi di negara itu, yang membatalkan status Hagia Sophia sebagai museum.

“Allah Mahabesar! Sungguh waktu yang tepat untuk hidup!” ujar Duzyatan, seorang warga Istanbul melalui cicitannya di Twitter seperti dilansir Aljazirah, kemarin. 

“Selamat kepada warga Muslim dunia. Haghia Sophia tidak lagi menjadi museum. Dia telah diubah menjadi masjid. Azan pertama setelah delapan dekade berkumandang di sini,” cicit seorang warganet dari Pakistan, Mir Mohammad Alikhan.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Jumat (10/7) pagi telah menetapkan secara resmi Hagia Sophia sebagai masjid. Meski begitu, ia menjanjikan, Hagia Sophia akan tetap terbuka bagi siapa pun, termasuk orang asing dan non-Muslim.

Erdogan mengatakan, Hagia Sophia akan terus merangkul semua orang dengan status barunya sebagai masjid. Dia meminta semua pihak menghormati keputusan yang diambil oleh pengadilan terkait perubahan status Hagia Sophia. “Saya meminta semua orang untuk menghormati keputusan yang diambil oleh badan pengadilan dan eksekutif Turki mengenai status Hagia Sophia,” ujar Erdogan dalam pidato resminya, akhir pekan lalu.

Erdogan menambahkan, saat ini semua orang dari berbagai kalangan dan agama dapat mengunjungi Hagia Sophia tanpa harus membayar tiket. Dia menegaskan, perubahan status Hagia Sophia tidak akan menghapus warisan budaya umat manusia. “Saya menggarisbawahi bahwa kita akan membuka Hagia Sophia sebagai masjid dengan melestarikan warisan budaya bersama umat manusia,” kata Erdogan.

Erdogan menambahkan, umat Islam, Kristen, dan Yahudi hidup dalam damai di Istanbul sejak penaklukannya. Selain itu, seluruh warga Turki juga menghormati tempat-tempat ibadah non-Muslim. 

Sementara, banyak artefak Utsmani di Eropa Timur dan Balkan telah menghilang secara bertahap. Menurut Erdogan, kebangkitan Hagia Sophia adalah pertanda pembebasan Masjid al-Aqsha dan menghapus seluruh penderitaan Muslim.

Erdogan menyampaikan, ibadah shalat akan diselenggarakan di Hagia Sophia di Istanbul mulai Jumat, 24 Juli mendatang. “Insya Allah, kami akan melakukan shalat Jumat bersama-sama pada 24 Juli dan membuka kembali Hagia Sophia untuk beribadah,” kata Erdogan dalam sebuah pidato nasional seperti dilansir dari TRT World, Sabtu (11/7).

Pemerintah Turki berencana menutup gambar Yesus dan Bunda Maria di Hagia Sophia dengan teknologi pencahayaan khusus. Hal tersebut dilakukan agar umat Islam dapat beribadah dengan tenang di lokasi itu.

Dilansir Sputnik News pada Ahad (12/7), tirai akan digunakan selama ibadah berlangsung di Masjid Hagia Sophia. Kemudian, karpet juga akan digelar di lantai yang menyala untuk menggelapkan ruangan agar gambar yang menunjukkan ajaran umat Kristen tidak terlihat. Sebagaimana fungsinya yang sudah berubah menjadi masjid, para pengujung pun harus melepaskan alas kakinya ketika memasuki Hagia Sophia. 

Juru Bicara Kepresidenan Turki Ibrahim Kalin meyakinkan bahwa perubahan Hagia Sophia dari museum menjadi masjid tidak akan menghentikan wisatawan yang ingin berkunjung. Mereka tetap bisa mengunjungi Hagia Sophia dan Hagia Sophia sebagai warisan dunia pun tidak akan hilang. 

“Menjadikan Hagia Sophia sebagai tempat beribadah bukan berarti menahan wisatawan lokal atau asing mengunjungi situs itu dan (Pemerintah) Turki tetap akan mempertahankan ikon-ikon unik ajaran Kristen dan gambar mosaik Yesus Kristus di gedung itu,” ujar Kalin. Namun, Kalin tidak memerinci lebih lanjut mengenai metode pelestarian ikon-ikon Kristen tersebut.

Bagaimanapun, keberatan sejumlah pihak atas langkah Pemerintah Turki itu bermunculan. Yunani menyebut Turki melakukan provokasi. Amerika Serikat (AS) dan Prancis juga menyatakan kekecewaannya. 

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Alexander Grushko mengatakan, Moskow menyesali keputusan Erdogan. “Katedral itu berada di wilayah Turki, tetapi tanpa pertanyaan adalah warisan semua orang,” katanya kepada kantor berita Interfax.

Sementara, Dewan Gereja Sedunia menulis surat kepada Erdogan untuk mengungkapkan kesedihan dan kegelisahan atas langkah itu. Mereka mendesak Turki untuk membalikkan keputusannya.

“Sebagai museum Warisan Dunia, Hagia Sophia telah menjadi tempat keterbukaan, pertemuan, dan inspirasi bagi orang-orang dari semua bangsa,” ujar Sekretaris Jenderal Sementara Dewan Gereja Sedunia Ioan Sauca.

Organisasi PBB untuk Budaya, Sains, dan Pendidikan (UNESCO) meminta Turki melakukan dialog terlebih dahulu mengenai status Hagia Sophia ke depannya. Hagia Sophia memang telah terdaftar sebagai Warisan Dunia UNESCO. “Dan juga karena Hagia Sophia menjadi model untuk seluruh gereja-gereja dan masjid-masjid (yang dibangun) belakangan dan mosaik-mosaik istana, serta gereja-gereja Konstantinopel yang memengaruhi seni Timur dan Barat,” demikian pernyataan UNESCO.