Reklamasi Ancol

Keputusan Gubernur (Kepgub) Nomor 237 Tahun 2020 tentang Izin Pelaksanaan Perluasan Kawasan Rekreasi Dunia Fantasi (Dufan) Seluas sekitar 35 hektare dan Kawasan Rekreasi Taman Impian Ancol Timur Seluas 120 hektare telah ditandatangani Gubernur DKI Anies Baswedan pada tanggal 24 Februari 2020. Saat ini kebijakan ini menuai polemik.

Tidak saja dari masyarakat secara luas, para pendukung DKI-1 inipun merasa kecewa dengan kebijakan reklamasi Ancol. Mereka menganggap Anies telah mengkhianati janji saat kampanye untuk menolak reklamasi.

Namun, tidak berhenti dengan kritik. Sang Gubernur mengeluarkan jurus andalan. Pertama, reklamasi Ancol tidak sama dengan reklamasi Teluk Jakarta yang telah dihentikan. Kali ini bukan reklamasi tetapi perluasan daratan. Menurutnya ini justru akan melindungi Jakarta dari banjir.

Tentu, jawaban ini sangat membingungkan dan dianggap omong kosong oleh DPRD. Perluasan daratan di Ancol sebenarnya cara yang sama dengan persoalan reklamasi yang pernah menjadi janji kampanye Anies . Namun, bukan itu persoalan dan jurus andalannya.

Alasan kedua, Anies akan menjanjikan di kawasan reklamasi Ancol ini akan berdiri museum sejarah Nabi Muhammad SAW terbesar setelah Arab Saudi. Museum ini akan dibangun di atas lahan 3 hektar di atas daratan buatan kawasan Ancol. Museum ini akan menarik wisatawan mancanegara untuk datang ke Jakarta. Tentu, Anies belum memikirkan isi museum yang spektakuler ini karena masih mengurusi polemik yang terjadi.

Menjadi sangat penting untuk dicatat ketika reklamasi yang dianggap membahayakan dalam berbagai perspektif kecuali untuk kepentingan pemodal ternyata mampu dibawa dalam isu keagamaan. Ini menarik bagaimana Gubernur Anies menahan kritik yang ada dengan mengajukan Museum Sejarah Rasulullah.

Sepertinya ada proses islamisasi reklamasi agar rencana ini tidak bisa ditentang secara kuat. Bagaimana tidak, siapa yang akan menentang pembangunan museum sejarah Rasulullah? Membangun museum adalah bagian dari ekspresi mencintai Rasulullah dan meningkatkan keimanan. Bukankah akan muncul menentang museum Rasulullah adalah sikap tidak islami?

Tentu saja, alasan Anies pun bisa dikiritik karena alasan pembuatan museum pun hanya untuk mendatangkan wisatawan. Lagi-lagi persoalan ekonomi walaupun jubah yang dipakai adalah pendekatan keagamaan. Artinya, mau museum sejarah Rasulullah atau museum tokoh-tokoh lain yang paling awal dituju adalah wisatawan. Bukan aspek edukasi museum yang dikedepankan.

Dalam konteks islamisasi reklamasi ini yang muncul adalah bukan menentang reklamasi tetapi menentang museum sejarah Rasulullah.  Sejak awal mengajukan museum sejarah Rasulullah adalah bagian untuk mengalihkan isu perusakan lingkungan, dampak ekonomi nelayan, pencemaran lingkungan dan dampak lain yang lebih membahayakan dengan bungkus isu keagamaan yang menjadi pintu gerbang.

Seandainya kajian reklamasi Ancol yang penuh nuansa keislaman ini dikaji dalam pendekatan keislaman yang komprehensif tentu harus dipertimbangkan ulang. Kaidah fikih berbicara : menolak mudharat harus dikedepankan dari pada meraih manfaat. Jika mudharat islamisasi reklamasi akan nyata terhadap lingkungan dan ekonomi masyarakat tentu harus digagalkan walaupun ingin menarik manfaat dari museum sejarah rasulullah. Toh, manfaat museum sejarah itu pun demi wisatawan.