Kepala Bnpt Dan Ponpes Tgb Di Lombok 5
Kepala Bnpt Dan Ponpes Tgb Di Lombok 5

Kunjungi Pesantren TGB, Kepala BNPT: Sinergi & Komunikasi Dengan Ulama Untuk Eliminasi Paham Radikal dan Intoleransi

Lombok Timur – Masalah radikalisme dan terorisme di Indonesia harus terus dibendung secara bersama sama, karena hal tersebut tidak dapat dilakukan oleh pemerintah saja. Perlu upaya dan dukungan dari semua pihak agar hal tersebut dapat terwujud. Di antara langkah yang dapat dilakukan adalah dengan melibatkan pondok pesantren.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Nasionalisme Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Dr. Boy Rafly Amar, MH,  saat bersilaturahim dengan Ketua Umum Dewan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW) TGB HM Zainul Majdi beserta Dewan Mustasyar, di Pondok Pesantren Darun Nahdlatain Nahdlatul Wathan, Pancor, Kab. Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (11/11/2020) petang.

”Kita sharing informasi dalam upaya-upaya penanggulangan terorisme dan paham radikal intoleransi ini kita perlu meningkatkan komunikasi dengan unsur-unsur alim ulama, para Tuan Guru yang ada di NTB ini. Kita sama-sama untuk saling berbagi informasi, berbagi harapan dan upaya-upaya yang kita sinergikan lagi di lapangan terutama untuk mengeliminasi berkembangnya paham-paham radikal intoleransi,” kata Komjen Boy Rafli Amar

Kepala BNPT menambahkan, bahwa pemerintah dan masyarakat memiliki tujuan untuk bersama-sama ingin agar generasi muda ini agar tidak mudah terpapar oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Kalau dilihat dari data statistik kelompok radikal terorisme ini mencoba untuk mengajak anak-anak remaja atau muda untuk ikut dalam pergerakan aksi-aksi kejahatan teror yang seolah-olah sedang melaksanakan misi tertentu.

”Kita harapkan pengaruh pengaruh negatif itu bisa kita tiadakan. Jangan lagi ada generasi muda Indonesia dari berbagai kalangan itu harus berhubungan dengan hukum yang berkaitan dengan kejahatan terorisme,” ujarnya Alumni Akpol tahun 1988.

Ia menambahkan, informasi di dunia maya begitu banyak. Bahkan, digunakan anak muda Indonesia sebagai dasar menyiapkan aksi teror. Mulai dari membuat bom, termasuk menyerang dengan sebilah pisau.

Baca Juga:  Narasi Ampuh yang Menyebabkan Tindakan Radikal

Disebutkannya, saat ini pengguna internet lebih dari 100 juta. Pengguna media sosial akan bertambah, terlebih anak muda yang sedang mencari jati diri. Bila salah arah dan tanpa embinaan bisa ikut aksi terorisme.

“Kami kemudian membuat duta damai dunia maya dan  pusat media damai. Yang mana mereka ini berbicara mengenai budi pekerti, budaya, dan jatidiri Indonesia,” katanya.

Boy menegaskan, perlunya mendorong anak muda untuk melakukan bela negara. Karena bela negara ini adalah sebuah kehormatan untuk menumbuhkan nasionalisme dan patriotisme. “Kita tidak menginginkan anak Indonesia terdampar, Nahdlatul Wathan bisa mengajak untuk waspada perjuangan atas nama agama namun destruktif,” kata mantan Kadiv Humas Polri ini.

Sebagai calon pemimpin bangsa, menurut Boy, santri harus memiliki kecintaan pada tanah air. Karena santri juga rentan terpapar ketika ada keluarga ponpes itu berurusan dengan hukum, seperti saat datang ke Jawa dan Sulawesi.

”Contohnya di Nahdlatul Wathan ini yang telah membangun narasi kebangsaan bisa seimbang dan sejalan dengan ilmu agama, Islam wasathiyah. Karena hal ini sesuai pesan Bapak Wapres (KH Ma’ruf Amin) bahwa kelompok radikal intoleran ini agar bisa dicegah. Jangan sampai mereka itu naik kelas menjadi terorisme,” tegasnya.

Selain itu intoleransi, sambung Kepala BNPT, mudah mengkafirkan dan menuduh aparatur negara thoghut. Karena bila berkembang bisa menjadi kelompok yang melakukan aksi teror, serta hal-hal destruktif. Untuk itu ia berharap bisa berkolaborasi dengan ulama karena dinilai strategis.

”Karena kelompok ini karena sering menggunakan simbol agama. Sementara prinsip ulama hubbul wathan minal iman. Mayoritas tidak boleh percaya oleh kelompok minoritas. Meski begitu, tidak boleh pula mengindentikkan aksi terorisme ini dengan pondok pesantren,” sambungnya.

Baca Juga:  MUI dan Tokoh lintas Agama Sepakat Terorisme Bukan Jalan Jihad Tapi Sebuah Kejahatan

Sementara itu, TGB HM Zainul Majdi berkisah, lokasi acara dikenal dengan Musala Al Abror, tempat pendiri Nahdlatul Wathan Maulanasyaikh TGKH M Zainuddin Abdul Madjid untuk perjuangan dan mendidik ilmu.

”Ini tempat penting perjalanan Nahdlatul Wathan, tidak hanya mendidik agama. KeIslaman dan kebangsaan dua sisi dari satu mata uang. Menjadi muslim yang baik akan membangun negara,” katanya.

Menurutnya, murid-murid Maulanasyaikh semangat untuk meneruskan perjuangan. Diantaranya dengan mengokohkan Islam Wasathiyah, moderasi Islam, beragama yang proporsional.

“Dalam perjalanan Nahdlatul Wathan ada budaya lokal diadopsi untuk mengokohkan nilai-nilai kebaikan,” ujar mantan Gubernur NTB ini

Apa yang disampaikan Kepala BNPT, menurutnya sebagai bagian dari waatawanu alal birri wattaqwa, menjadi pengingat bagi anak muda. Para guru memastikan tidak ada bentuk pengajaran dan materi yang bertentangan dengan agama atau melawan negara.

“Ini seperti bait renungan masa, karya Maulanasyaikh, disampaikan hidupkan iman hidupkan takwa agar hiduplah semua jiwa. Cinta teguh pada agama, cinta kokoh pada negara,” ujarnya.

TGB sepakat bahwa tidak boleh mengidentikkan pesantren dengan terorisme. “Saya sepakat. Kami bangga sebagai warga pondok pesantren, dan warga pesantren akan selamanya menjadi benteng untuk negeri,” kata TGB mengakhiri.

Sebelum melakukan pertemuan dan dialog dengan para pimpinan dan pengasuh pesantren, Kepala BNPT menyempatkan untuk berziarah ke Makam Pahlawan Nasional asal NTB Maulanasyaikh TGKH M Zainuddin Abdul Madjid yang tidak lain adalah kakek dari TGB.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About redaksi

Avatar