Krisis Agama
Krisis Agama

Agama dalam Krisis

Agama dihadirkan di muka bumi ketika manusia sedang berada dalam situasi krisis. Situasi itu ditunjukkan tidak hanya dalam urusan kesesatan spiritual-teologis, tetapi juga krisis dalam aspek sosial, politik dan kebudayaan. Krisis kemanusiaan telah menghantarkan manusia dalam krisis peradaban.

Dengan ajaran dan doktrinnya, agama menjadi pedoman bagi manusia untuk keluar dari masa krisis tersebut. Melalui Nabi dan Rasulnya, agama melancarkan kritik di tengah situasi krisis kemanusiaan dengan mengkoreksi arah dan tujuan hidup manusia. Agama sungguh sangat menjanjikan karena menjadi solusi peradaban manusia kala itu.

Ketika ajaran profetik para Nabi itu berhasil mengeluarkan manusia dari masa krisis, berbagai ajaran itu melembaga menjadi institusi agama. Di situlah ada Yahudi, Nasrani, Islam, Budha, Hindu dan aliran kepercayaan lainnya yang eksis hingga hari ini. Pertanyaannya mampukah agama terus menjadi solusi di tengah krisis kemanusiaan?

Persoalannya menjadi sangat berbeda. Saat ini agama justru menjadi bagian yang menghantarkan manusia dalam krisis, untuk tidak mengatakan secara ekstrim bahwa agama satu-satunya penyebab krisis kemanusiaan saat ini. Tentu hal ini harus menjadi evaluasi bersama dari seluruh umat beragama tanpa harus bersikap reaktif, apalagi emosional.

Sangat mungkin bukan agama yang menghantarkan krisis, tetapi justru umat beragama sedang krisis memahami agama dengan ajaran profetiknya. Agama sedang dalam masa krisis berarti terletak pada kesalahan umat beragama dalam memahami ajaran agama itu sendiri.

Pertanyaan berikutnya di mana letak kesalahan umat beragama dalam memahami agamanya? Di mana letak krisis pemahaman keagamaan sehingga menyebabkan agama sedang dalam masa krisis?

Mari kita mulai dengan menyelidiki krisis pemahaman umat beragama dalam memahami agama. Kualitas pemahaman keagamaan tidak ditunjukkan hanya dengan meriahnya relijiutas formal masyarakat dalam beribadah. Pun juga tidak hanya dilihat dari aspek kuantitas jamaah dalam peribadatan keagamaan.

Baca Juga:  Dalil Perayaan Hari Kemerdekaan; Bentuk Syukur atau Kufur?

Kita sebenarnya bisa saja masuk dalam krisis agama dalam arti krisis pemahaman yang komprehensif terhadap ajarannya. Umat beragama hanya berhenti dalam memaknai agama dalam aspek ajaran formal, tetapi tidak mampu masuk lebih dalam pada aspek subtansi ajaran dan doktrin keagamaan.

Fenomena itu saja sudah membuat kita sedang dalam masa krisis beragama. Belum lagi persoalan ketika sebagian umat beragama justru sangat fatal melakukan kesalahan dalam memahami ajaran agama.  Bagaimana bisa melakukan kesalahan yang fatal dalam memahami agama?

Rasulullah Saw telah mengingatkan kepada para Ahlul Kitab baik Yahudi, Nasrani maupun umat Islam sendiri agar tidak mengikuti gaya hidup umat sebelumnya yang sesat dan bodoh dalam memahami agama. Pemahaman yang sesat yang bodoh dalam memahami agama sebagaimana tercermin dalam firman Allah dalam surah Al Maidah ayat  77 sebagai berikut :

Artinya : Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”

Krisis memahami agama bersumber pada dua hal. Cara beragama yang berlebihan dan ekstrim. Pola beragama seperti ini telah membawa petaka besar bagi umat manusia yang menjatuhkan peradaban manusia dalam kehancuran. Fenomena ekstrim dalam beragama telah menyebabkan manusia jatuh dalam kekerasan, pembunuhan, dan saling menghancurkan atas nama agama. Itulah yang terjadi pada umat-umat terdahulu, apakah berlaku juga buat hari ini?

Kedua, beragama dalam kepentingan hawa nafsu. Beragama semestinya mampu menekan dan mengendalikan hawa nafsu dan kepentingan pribadi, tetapi umat beragama menjadi agama sebagai tameng kepentingan pribadi dan hawa nafsunya. Kepentingan itu sangat beragama mulai dari kepentingan ekonomi, politik, sosial dan budaya. Agama hanya diperalat untuk kepentingan.

Baca Juga:  Mengobati Sifat Dengki yang Sangat Membahayakan

Dua hal itulah yang telah menyebabkan manusia krisis dalam memahami agama yang juga telah menyebabkan krisis kemanusian. Pemahaman agama justru mendorong bertindak keras, jauh dari kebenaran dan mengkafirkan sesama umat beragama.

Islam telah belajar dari kesalahan dan kegagalan umat terdahulu dalam memahami agama dan memperlakukan para rasul. Al-Quran pun memberikan cara memahami agama agar tidak jatuh dalam kesesatan dan kesalahan dengan cara pandang yang tercermin dalam firman Allah Al Baqarah ayat 143 :  Artinya :   Sesungguhnya kami telah menjadikan kalian sebagai umat yang moderat agar kalian menjadi saksi terhadap manusia dan disaksikan oleh rasulnya.

Bisa jadi dan sangat mungkin umat beragama saat ini jatuh kembali dalam kesesatan dan kesalahan dalam memahami agama seperti umat terdahulu jika terjebak pada pola yang ekstrim dan mengikuti hawa nafsu belaka. Umat beragama krisis terhadap pemahaman keagamaannya dan agama krisis dari umat beragama yang memahami agama secara benar. Agama tidak menjadi solusi bagi krisis kemanusiaan, justru menjadi salah satu penyebab krisis kemanusiaan.

Bisa pula ini juga terjadi dalam diri umat Islam saat ini jika tidak segera kembali pada solusi al-Quran untuk beragama secara washatiyah. Dengan kata lain, Islam dalam krisis jika umat Islam terjebak pada kebiasaan umat terdahulu yang beragama secara ekstrim dan mengikuti hawa nafsunya.

Bagikan Artikel

About Islam Kaffah

Islam Kaffah