“Kutemukan Makna Jihad”: Kisah Nasir Abbas Mantan Kombatan Afganistan

0
1301
nasir abbas

Nasir Abbas, mantan teroris, mengungkapkan aksi bom di tempat ibadah non muslim dan fasilitas pemerintah dan publik lainnya bukan jihad, tetapi aksi biadab yang menciderai ajaran Islam.


Tragedi Bom Bali 1 menjadikan organisasi teroris Jamaah Islamiyah (JI) terpecah-belah. Ada barisan pro dan kontra terhadap serangkaian aksi bom bunuh diri yang terjadi pada Oktober 2002 itu. Salah satu yang kontra di antaranya adalah Khairudin (nama samaran) alias Sulaiman (nama yang digunakan ketika berada di Afganistan) alias Nasir Abbas (nama saat ini).

Nasir Abbas yang pernah menjabat sebagai Mantiqi 3 Jamaah Islamiyah (JI) menilai, aksi pengeboman terhadap rumah ibadah non-muslim yang tidak memerangi umat Islam, pos-pos Polisi, gedung-gedung milik Amerika dan serangkaian teror lainnya sangat tidak beradab dan menciderai fitrah ajaran agama Islam.

Pikir Nasir, serangkaian teror tersebut mustahil dilakukan oleh organisasi diluar JI. Sebab kala itu, yang bisa merangkai bom berkekuatan besar hanyalah anggota JI. Menurutnya pula, ini adalah dampak dari fatwa Osama bin Laden yang menyeru supaya umat Islam berjihad memerangi Amerika di negara-negara mereka.

Sebagaimana diketahui, Muhammad bin Awwad bin Ladin alias Osama bin Laden merupakan founder Al-Qaeda yang merupakan cikal bakal berdirinya ISIS/IS/NIIS/DAESH. Ia pernah terdaftar sebagai teroris paling dicari Federal Bureau of Investigation (FBI) karena keterlibatan Osama dalam serangkaian aksi teror termasuk serangan di gedung kembar New York.

Dari Jihadis Hingga Dituduh Pengkhianat

Nasir Abbas merupakan warga negara Malaysia yang saat ini mendedikasikan diri di Indonesia sebagai senior consultant di Division for Applied Socual Psychology (DASPR). Tahun 1987, Nasir Abbas sudah berangkat Jihad ke Afganistan setelah mendapat persetujuan dari ustadnya di salah satu Pondok Pesantren di Malaysia. Di Afganistan, ia berlatih kemiliteran selama 3 tahun, kemudian ditunjuk menjadi salah satu pelatih di sana.

Singkat cerita, Nasir Abbas alias Sulaiman, pernah ditunjuk sebagai Mantiqi 3 menggantikan posisi Mustapha. Nasir juga pernah ditunjuk sebagai pelatih militer pejuang Moro di Mindanao, Filipina. Nasir pun pernah memberikan pelatihan militer kepada laskar jihadis di Poso, Sulawesi Tengah.

Menyusul tragedi Bom Bali, banyak anggota dan pengurus JI yang ditangkap Polisi. Mukhlas  adik ipar Nasir, menjadi salah satu yang ditangkap akibat keterlibatannya dalam aksi bom bali 1. Menyusul kemudian kawan-kawan seperjuangannya di Afganistan.

Tak lama kemudian Nasir ditangkap Polisi di tempat persembunyiannya di Perumahan Vila Nusa Indah. Nasir mencoba melawan, pikirnya kala itu, lebih baik mati daripada tertangkap Polisi. Namun naas, perlawanannya tidak mempan.

Polisi berhasil melumpuhkannya dan membawa Nasir ke kantor Polisi. Di sana, Nasir memberikan keterangan bahwa dirinya tidak terlibat dalam aksi terorisme, sekalipun ia merupakan salah satu pengurus JI. Ia turut menyesalkan aksi teror itu. Menurutnya, terorisme mengatasnamakan Jihad hanya dilakukan oleh orang-orang penakut dan pengecut.

Singkat cerita, Nasir ditawari untuk membantu kepolisian dalam mengungkap jaringan teroris serta melakukan deradikalisasi. Ia juga dimintai sumbangsihnya untuk membujuk kawan-kawannya di JI supaya tidak melakukan aksi teror.

Namun, kawan-kawannya kadung mengecap Nasir Abbas sebagai pengkhianat. “Siapapun yang keluar dan bekerjasama dengan penguasa toghut, maka ia adalah pengkhianat” begitu paradoks yang beredar di kalangan JI. Imam Samudra dalam bukunya berjudul “Jihadku” menyinggung sosok Nasir Abbas yang diklaimnya sebagai intel atau pembantu kepolisian.

Pesan Nasir Abbas tentang Jihad

Kini Nasir paham, bawa jihad dalam makna kontesktual bukan hanya berarti perang secara fisik. Ia sadar bahwa yang dilakukan teman-temannya dalam melakukan serangkaian aksi teror mengatasnamakan jihad menegakkan Daulah Islamiyah adalah salah besar.

Jihad sebenarnya adalah melawan hawa nafsu untuk berbuat segala hal yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Jihad Nasir saat ini adalah dengan memberikan pemahaman kontra radikalisme dan terorisme kepada masyarakat luas supaya tidak mudah terhasut ajakan-ajakan sesat mengatasnamakan jihad.

Terakhir, ini pesan Nasir dalam komiknya berjudul “Kutemukan Makna Jihad” kepada generasi muda dan masyarakat luas.

Pertama, bersikaplah Kritis. Jangan langsung percaya terhadap apa yang dilihat, dibaca atau didengar. Kedua, bersikap terbuka. Yakni menerima segala kritik dan saran dari siapa saja. Setiap manusia pasti memiliki kesalahan. Boleh jadi apa yang dikatakan orang lain ada benarnya.

Ketiga, sering-seringlah sharing. Berbagi cerita atau konsultasi atas apa yang didengar, dilihat, dan dibaca kepada teman, guru, orang tua dan orang lain yang bisa dipercaya. Biasanya orang yang berusaha merekrut itu memberi saran untuk tidak memberitahu kepada orang lain dengan alasan orang lain atau keluarga tidak terlalu paham arti perjuangan sehingga berpotensi menjadi penghalang.

Terakhir, perbanyaklah belajar dan mendalami ilmu agama secata utuh. Maraknya perekrutan bukan berarti kita tidai boleh mengikuti pengajian. Justru seharusnya mengikuti pengajian di tempat yang baik.