Menari di atas luka dan derita orang lain. Kalimat ini cocok untuk menterjemah al syamatah. Istilah yang populer untuk seseorang yang bahagia dan senang atas penderitaan orang lain. Seperti saat ini, di tengah wabah Corona yang menoreh luka derita, baik mereka yang terinfeksi maupun yang menjadi korban secara tidak langsung. Ekonomi ambruk, penghasilan stop dan dampak Corona yang lain.

Anehnya, di saat jutaan masyarakat memerlukan bantuan, begitu negara menggelontorkan bantuan, ada saja pihak-pihak tertentu yang disinyalir berbuat curang. Mengambil keuntungan di atas penderitaan orang lain. Seperti penggelapan bantuan suplai pangan, bantuan langsung tunai dengan segala ragamnya dan segala bentuk pencurian terselubung yang lain.

Allah berfirman, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata”. (QS. al Ahzab:58)

Rasulullah juga bersabda, “Janganlah engkau tunjukkan kegembiraan atas masalah orang lain, (kalau demikian) maka Allah akan membebaskannya dan memberikan cobaan kepadamu”.

Gembira atas derita orang lain bisa berbentuk perasaan senang dan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Berharap musibah ini tidak hilang supaya masih memiliki kesempatan untuk melakukan aksi tertentu. Contoh, meraup keuntungan dari sumber tertentu.

Syamatah juga bisa mengambil bentuk mencaci seseorang yang melakukan kesalahan. Dengan demikian orang tersebut akan merasa malu, hina, dan rendah diri.

Dalam riwayat al Baghawi dari Mu’adz bin Jabal, Nabi bersabda, “Barang siapa mencaci saudaranya karena dosa (yang diperbuatnya), maka dia pasti akan mengerjakan dosa tersebut sebelum mati”.

Dalam Madarij al Salikin, Ibnu Qayyim menjelaskan, jika seseorang membuat cacat orang lain karena sebab suatu dosa atau maksiat yang dilakukannya, maka kemaksiatan itu akan kembali kepadanya.

Oleh karena itu, apapun bentuknya, senang terhadap penderitaan orang merupakan sikap tercela. Apalagi kepada mereka yang seagama. Bukankah tidak sempurna iman seseorang sehingga mencintai saudaranya sama seperti mencintai dirinya?.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.