Teringat cuitan dari aktivis dan pebisnis perempuan, Iim Fahima, yang menyebutkan bahwa perempuan harus bisa mandiri secara finansial. Agar jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti misalnya suami sakit parah dalam waktu lama atau bahkan meninggal, perempuan tidak kebingungan saat harus bisa mengambil alih nahkoda pelayaran kehidupan. Mampu menghidupi diri sendiri juga keluarga. Karena pada kenyataannya, jika perempuan mandiri secara finansial, yang mendapat keuntungan bukan hanya diri sendiri tapi juga keluarga bahkan masyarakat luas.

Bagaimana bisa? Ternyata 80% income (pendapatan) yang didapat dari perempuan berkeluarga (istri) digunakan untuk membeli kebutuhan keluarga. Baru sisanya untuk diri sendiri. Bukan sebaliknya. Bahkan yang tidak berpenghasilan pun jika diberi uang belanja, seorang istri akan memutar otak bagaimana caranya agar bisa menghasilkan makanan kebutuhan keluarga sekaligus menyisakan uang untuk dibelikan kebutuhan lain anak-anak atau sekedar perabot rumah tangga remeh temeh.

Saya jarang mendengar ada istri yang mengabaikan keperluan anak-anak untuk membeli kebutuhan pribadi seperti baju tidur baru atau bahkan sekedar lipstik baru. Meski saya tak menampik mungkin di belahan bumi sebelah sana ada yang seperti itu.

Nah, kalimat selanjutnya yang tak kalah menarik dari cuitan Iim Fahima adalah “lantas bagaimana (seorang istri.red) bisa berkembang jika dikepung tugas domestik dan GA DIBAYAR?”.

Memang tulisannya ditulis capslock seperti itu ya. Bukan saya yang sengaja menekankan di kata tersebut. Monggo di cek langsung ke Twitter beliau. Meski saya sedikit banyak memang setuju hihihi.

Sependek pengalaman saya, saat ingin menulis mencari ide saya terganjal tugas domestik. Tugas rumah tangga yang seperti tak ada jadwal pulang kantornya untuk sekedar berganti suasana. Bahkan menulis sependek ini saja butuh 2 hari bagi saya menyelesaikannya. Itu saja sudah sukur alhamdulillah karena banyak tulisan saya yang tidak selesai.

Ketika ide muncul tak bisa langsung menulis, karena tidak setiap saat pegang handphone. Jikalau pun ide itu tertuang, belum selesai sudah harus melaksanakan hal mendesak lain sehingga penuangan ide tidak runtut dan kurang sinkron dengan ide di awal.

Boro-boro menulis, pekerjaan rumah yang harusnya diselesaikan saat anak tidur malah terbengkalai karena ikutan tidur. Hehehe tidaakk… Bukannya saya tidak suka, saya amat sangat bersyukur. Karena di luar sana pasti ada yang sangat merindukan kerepotan menjadi seorang ibu. Namun Allah belum berkehendak.

Hanya saja saya memberi pandangan realita dari sisi ibu rumah tangga penuh waktu. Bahkan membaca pun tidak lebih dari 10 halaman perhari atau mungkin kurang. Belum keinginan lain yang ingin seorang istri lakukan, mis. berkumpul bersama teman tanpa halangan waktu atau buntut.

Kembali ke cuitan mba Iim Fahima yang bagian di capslock itu. Saya memang senang ada yang “membela” seperti itu.

Kedengarannya seperti angin segar setelah berjibaku dengan rutinitas ibu rumah tangga yang (jujur saja) melelahkan. Hanya saja saya yakin tidak hanya saya, rekan-rekan sesama profesi seperti saya (istri) dimanapun ia berada melakukan semua kewajibannya dengan ikhlas. Yakin ikhlas? Perkara ini urusan hati, hanya Allah yang menilai.

Istri Melakukan Pekerjaan Rumah karena Dasar Cinta

Semua yang dilakukan istri tidak dipandang sebagai kewajiban tapi karena cinta. Karena cinta, ia rela bangun pagi buta menyiapkan makanan untuk suaminya. Karena cinta, ia rela berlelah-lelah menjaga anak suaminya sepanjang hari. Karena cinta, ia rela menantang maut untuk melahirkan buah hati dari suaminya. Karena cinta, ia ikhlas menerima perubahan bentuk badan setelah melahirkan yang sebenarnya ia tak ingin berbentuk seperti itu.

Bukankah hanya dengan mendengar “DIBAYAR” atas semuanya sudah cukup membuat istri bernapas lega?. Baru mendengar akan dibayar, belum benar-benar dibayar.

Padahal kalau mau, untuk apa memasak? Beli saja setiap hari ke warung makan, sukur-sukur ke resto. Untuk apa menjaga anak? Toh bisa sewa pengasuh. Untuk apa bersusah payah, bersakit-sakit melahirkan jika setelah lahir yang dibawa kemana mana pasti bin atau binti bapaknya. Malah jika sampai ada yang bin/binti ibunya, terdengar memalukan. Tapi semua dilakukan demi kamu suami.

Saya juga pernah membaca bahwa pekerjaan rumah tangga yang dilakukan suami karena suami mau membantu dan meringankan pekerjaan istri. Klise bagi saya. Kenapa? Karena bagi saya pekerjaan rumah tangga justru harus dilakukan suami dan istri. Tidak ada membantu, seperti terdengar itu hanya pekerjaan istri dan suami dengan baik hatinya membantu. Rumah tangga itu dibangun bukan hanya oleh istri atau oleh suami melainkan bersama, suami dan istri.

Jadi seluruh hal yang dikatakan pekerjaan rumah tangga bisa dilakukan siapa saja. Istri pun boleh saja mencari uang, malah ada pekerjaan yang hanya istri yang bisa. Apa itu? Mengandung, melahirkan dan menyusui. Bahkan seorang ibu boleh meminta upah karena menyusui anaknya sendiri. AyatNya jelas :

فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ

Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu Maka berikanlah kepada mereka upahnya. ( Q.S. Ath-Thalaq : 6).

Jadi pekerjaan yang dilakukan bersama-sama terlebih karena cinta seperti melakukan kesenangan yang tidak ada habisnya. Percayalah, suami dan istri akan jatuh cinta ditiap detiknya. Jikapun tidak sempat melakukan pekerjaan domestik, ucapkan terima kasih setiap hari kepada yang melakukannya. Manjakan ia, puji ia walau hanya sekedar membuang sampah pada tempatnya. Bayar ia dengan layak. Bagus jika kau mampu membayarnya dengan uangmu.

Katakanlah berapa jika kau bayar pengasuh? Asisten? Manager keuangan? Bahkan nyawa saat istri melahirkan? Dan serentet yang dilakukan istrimu untukmu. Jika tidak dibayar uang, perlakukan ia dengan layak, dengan semestinya. Hujani ia dengan kasihmu. Buat ia jatuh cinta tiap detik kepadamu. Buat ia merasa bahwa itu semua bukan kewajibannya tapi karena itu hakmu. Buat ia menjadi satu-satunya ratu tidak hanya di hatimu, tapi di rumahmu. Buat ia melakukan kewajibannya seringan kau melambaikan tangan saat pergi.

Semoga yang belum mampu membayar dengan uang, segera dimampukan. Amin.

Kira-kira para suami, sudah membayar sebanyak apa kepada istrimu?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.