Habib Husein Jafar Al Haddar
Habib Husein Jafar Al Haddar

Lawan Doktrin Intoleransi, Pesantren Sangat Potensial Sebarkan Konten Keagamaan Moderat di Medsos

Bògor –  Moderasi beragama jangan hanyab pahami tapi harus disebarkan ke khalayak (netizen).  Bila moderasi beragama mengakar kuat di masyarakat, dipastikan doktrin  intoleransi otomatis tidak mampu meracuni persatuan dan perdamaian di Bumi Pertiwi.

Begitulah kalimat awal dari Habib Husein Ja’far Al-Hadar saat mengisi materi d hadapan peserta Muktamar Pemikiran dan Halaqah Kyai dan Nyai Muda Pesantren, di Pesantren Al-Falak, Bogor, Selasa, (14/12/2021). Muktamar Pemikiran dan Halaqah Kyai dan Nyai Muda Pesantren diselenggarakan oleh Puslitbang Bimas Agama Kemenag RI.

Pengasuh konten populer ‘Pemuda Tersesat’ ini kemudian membuka dengan “jokes” perumpamaan. Para peserta yang dulu ingin orientasinya menjadi wali qutub, tetapi sekarang menjadi wali Youtube.

Habib Husein mengungkapkan, di dunia maya, kelompok-kelompok intoleran mendominasi untuk menyebarkan doktrin-doktrinnya. Hal ini dikarenakan propaganda di dunia maya sangat mudah, murah, dan paling efektif tapi manjur dalam mengubah sangat efektif mengubah pola pikir seseorang.

“Kita memasuki realitas baru yang dinamakan realitas virtual. Dimana orang sudah tidak lagi membedakan mana realitas nyata dengan realitas virtual (online). Bahkan, secara tidak sadar, orang lebih mementingkan realitas virtual daripada realitas nyata,” ujar Husein.

Ia melanjutkan, ada gagasan yang bisa para muktamirin yang notabene adalah calon penerus pemimpin pesantren.

“Pertama, ada potensi digital, karena dalam riset menyatakan sebanyak 60 persen orang Indonesia menjadikan medsos untuk mencari rujukan ilmu agama. Fenomena inilah yang kemudian banyak pemuda mencari jati diri.” kata Husein.

Kepada para muktamirin, Husein juga memaparkan adanya satu realitas baru. Realitas baru yang muncul saat ini adalah ideologi netizen yang masih abu-abu. Tidak memiliki konsistensi soal sosok influencer yang dijadikan panutan.

“Saya sering di mention oleh orang yang memiliki dua sisi ideologi berbeda. Inilah salah satu problem yang belum diketahui oleh para gus dan ning!” ucap Husein.

Husein juga menceritakan, bagaimana awalnya ia membuat konten dengan segmentasi tasawuf. Yang notabene masih sedikit, sulit mencuri perhatian netizen, dan serba problematis.

“Ketika bicara tasawuf kepada para pemuda tersesat, mereka pusing. Juga bicara tasawuf pada kelompok ‘hijrah’, belum apa-apa sudah dituduh bid’ah. Serba problematis!” terang Husein.

Gagasan yang kedua, kata Husein, adanya potensi pesantren. Sekitar 30 ribu lebih pesantren di Indonesia mempunyai potensi menampilkan konten-konten keagamaan. Akan tetapi, kalangan pesantren (kelompok moderat) ini kurang militan dalam membuat konten.

“Kelompok moderat ini kurang militan saat membuat konten. Baru upload 2 atau 3 kali, sudah berhenti. Untuk itulah kelompok moderat harus lebih giat kembali di medsos untuk kampanye moderasi beragama.” tutur Husein.

Dalam dunia medsos, seseorang dapat membangun imajinasi dengan dua dimensi. Pertama, dimensi moderat dan kedua, dimensi ekstrimis. Sebagai contoh realitas, banyak terbitan Alquran, dengan memasukkan terjemahan-terjemahan versi kelompok ekstrimis. Bahkan Alquran saja sudah bisa di-framing dengan ideologi tertentu.

“Kemudian juga harus memahami basic algoritma, yang saat ini popularitas lebih penting daripada otoritas. Pola pikir pemilik perusahaan media adalah pragmatis. Untuk itulah mengapa perusahaan medsos tidak memikirkan isi konten, dan lebih mementingkan konten viral,” jelasnya.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Wapres HUT ke 45 MUI

Fatwa MUI: Terorisme Bukan Jihad, Terorisme Haram!

Jakarta – Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin menegaskan bahwa aksi terorisme bukan jihad, terorisme …

Cak Islah Bahrawi

Tolak UU Buatan Manusia, Islah Bahrawi: Teroris Hanya Mau Jalankan Hukum Syariah

Jakarta –  Kelompok teroris menganggap Undang-undang harus menggunakan hukum syariah yang dalam pemahamannya sebagai buatan …