Jose Rizal Manua
Jose Rizal Manua

Lawan Penyebaran Radikalisme, Budayawan: Jalin Hubungan Koordinatif Dengan Ormas Keagamaan

Jakarta – Selama ini komentar tentang radikalisme biasanya keluar dari pakar atau pengamat. Tapi kini budayawan dan seniman pun ikut bersuara. Hal ini menjadi bukti bahwa budayawan dan seniman pun sangat peduli dengan fenomena penyebaran radikalisme di tanah air.

Budayawan, seniman, dan juga seorang pujangga Jose Rizal Manua berpendapat, penyebaran radikalisme tidak hanya pemerintah yang harus melawan, tetapi juga seluruh pihak terkait seperti masyarakat, keluarga, dan lain-lain. Selain itu, tokoh agama, tokoh masyarakat seperti penceramah, muballigh, guru harus dilibatkan untuk memberikan penyuluhan dan pencerahan terkiat radikalisme kepada masyarakat.

“Harus dijalin hubungan koordinatif dengan lembaga atau ormas keagamaan Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu,” ujar Jose Rizal Manua dikutip dari laman Beritasatu.com akhir pekan kemarin.

Ia menilai, penyebaran paham radikalisme saat ini sangat marak disebarkan melalui media sosial (medsos) dengan sasarannya adalah generasi muda. Akibatnya masa depan para pemuda bisa rusak. Keterlibatan tokoh agama dan tokoh masyarakat diyakini akan memudahkan sosialisasi pencegahan radikalisme. Di samping itu penguatan literasi digital juga penting di masyarakat.

“Maka dari itu harus dilakukan secara simultan, antara semua pihak terkait, yaitu pemerintah dan masyarakat; tentang paham radikal dan terorisme, yang tidak hanya bisa mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara tapi juga bisa merusak kehidupan rumah tangga dan masa depan pemuda,” katanya

Ia mengibaratkanmedsos ibarat pisau yang berfungsi sebagai pemotong buah, sayur, dan lainnya. Tetapi, pisau juga bisa digunakan untuk membunuh. Ia pun mengajak dan mendorong masyarakat agar bijak menggunakan medsos agar lebih bermanfaat daripada menebar kebencian.

Caranya dengan menyelenggarakan berbagai penyuluhan dan menyosialisasikan ajaran agama yang santun, saling menghargai, saling menghormati, damai, toleran, hidup rukun, menerima keberagaman dan kemajemukan, dan memiliki rasa cinta Tanah Air.

Baca Juga:  Islamophobia Upaya Framing untuk Memojokkan Pemerintah

“Serbuan konten-konten berbau SARA dan ujaran kebencian di medsos, berlangsung setiap detik dan menit. Dan untuk menangkalnya tentu saja tidak mudah. Tidak cukup ditangani oleh pemerintah saja,” jelas dia.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Dr KH Adnan Anwar

Membangun Kebanggaan Nasional untuk Lawan Intoleransi, Radikalisme dan Terorisme

Jakarta – Semangat nasionalisme pada Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) menandakan rumusan identitas kebangsaan yang tidak …

uas ditolak masuk singapura berikut hal yang diketahui sejauh ini

Ormas Perisai Pendukung UAS Demo Kedubes Singapura Siang Ini

Jakarta – Penolakan Pemerintah Singapura terhadap Ustadz Abdul Somad (UAS) yang hendak memasuki wilayah Singapura …