shaf shalat jamaah
shaf shalat jamaah

Ma’mum Shalat Jangan Salah Tempat dalam Membaca Fatihah !

Dalam madzhab Syafi’i, membaca Fatihah dalam shalat hukum wajib, karena termasuk rukun shalat. Kewajiban ini berlaku umum, baik bagi yang imam atau ma’mum shalat. Karena ada hadits yang berbunyi:

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Artinya: “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihahnya al Qur’an” (HR. Muttafaq Alaih)

Dalam masyarakat Indonesia, kewajiban membaca Fatihah saat melaksanakan shalat sepertinya bukan hukum yang asing lagi. Hanya saja, tidak sedikit dalam masyarakat salah dalam waktu membaca Fatihah ketika menjadi ma’mum. Fakta yang terjadi di masyarakat, ada dua model ma’mum membaca Fatihah. Pertama, membaca bersamaan dengan imam membaca Fatihah. Kedua, membaca ketika imam membaca surat atau ayat dalam al Qur’an.

Kedua model tersebut sebenarnya salah. Jika kita lihat kitab-kitab madzhab Syafi’i, ma’mum melakukan bacaan Fatihah dengan dua model di atas termasuk perbuatan yang dilarang. Di dalam kitab al Bajuri dijelaskan:

أَمَّا الْمَأْمُوْمُ فَلَا تُسَنُّ لَهُ سُوْرَةٌ لِلنَّهْيِ عَنْ قِرَاءَتِهِ لَهَا وَلِأَنَّ قِرَاءَةَ الْإِمَامِ قِرَاءَةٌ لِلْمَأْمُوْمِ فَيَسْمَعُ قِرَاءَةَ اِمَامِهِ وَيَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ فِي سَكْتَةِ الْإِمَامِ الْمُتَقَدِّمَةِ وَلَا يُقَارِنُ الْاِمَامَ فِي قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ اِلَّا اِنْ خَافَ فَوَاتَ بَعْضِ الْفَاتِحَةِ

Artinya: “Ma’mum tidak sunnah membaca surat al Qur’an karena ada larangan untuk membacanya, dan karena bacaan imam merupakan bacaan bagi ma’mum, sebab itu ma’mum cukup mendengar bacaan imamnya. Dan ma’mum membaca Fatihah pada saat diamnya imam yang telah dijelaskan sebelumnya, dan ma’mum tidak boleh membersamakan bacaan Fatihahnya dengan Fatihahnya imam, kecuali jika hawatir ada sebagian ayat Fatihah yang tertinggal”[1]

Larangan tersebut berlaku pada shalat Jahriyah, yaitu shalat di mana imam sunnah menyaringkan bacaannya, seperti dua awal rakaat shalat maghrib, isya’ dan subuh. Sehingga bagi shalat Sirriyah, seperti shalat dzuhur dan ashar, maka ma’mum boleh membacanya bersamaan dengan Fatihahnya imam atau ketika membaca surat dari al Qur’an.

Baca Juga:  Hukum Mandi Shalat Jum'at

Mengapa demikian ?

Di dalam al Qur’an dijelaskan:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: “Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (QS. Al A’rof: 204)

Ulama sepakat bahwa ketika al Qur’an dibacakan maka wajib mendengarkannya serta diam dengan tenang berdasarkan ayat tersebut. Ini berlaku baik di dalam shalat atau pun tidak. Bahkan imam Abu Hanifah melarang ma’mum membaca Fatihah karena kewajiban mendengarkan bacaan al Qur’an dari imam ini [2].

Ketika dalam shalat Jahriyah, bacaan imam yang dinyaringkan ini menunjukkan bacaan tersebut juga untuk ma’mum. Sehingga fungsi dinyaringkannya bacaan agar supaya bacaan tersebut dapat di dengar oleh ma’mum. Berdasarkan argumentasi di atas, maka ma’mum tidak boleh melakukan apapun kecuali hanya diam tenang sambil mendengarkan bacaan imam.

Berbeda dengan shalat Sirriyah. Di mana imam tidak menyaringkan bacaannya. Ini menunjukkan bacaan imam bukan untuk ma’mum, tetapi untuk dirinya sendiri. Oleh sebab itu ma’mum wajib membaca Fatihah karena tidak ada yang wajib didengar oleh ma’mum.

Lalu kapan ma’mum membaca Fatihah dalam shalat Jahriyah yang benar ?

Sesungguhnya bagi imam ketika selesai dirinya membaca Fatihah, disunnahkan diam sejenak seukuran orang membaca Fatihah, untuk memberikan ruang bagi ma’mum membaca Fatihah. Dalam waktu diam ini, sunnah bagi imam membaca dzikir atau berdo’a dengan do’a:

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

Artinya: Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju dan es yang dingin (HR. Muttafaq Alaih)

Dalam kitab Majmu’ Syarh al Muhaddzab imam Nawawi menjelaskan:

Baca Juga:  Hukum Menunda Pemakaman Jenazah

قَالَ أَصْحَابُنَا وَيُسْتَحَبُّ لِلْاِمَامِ عَلَى هَذَا الْقَوْلِ أَنْ يَسْكُتَ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ قَدْرَ قِرَاءَةِ الْمَأْمُوْمِ لَهَا قَالَ السَّرَخْسِيُّ فِي الْاَمَالِي وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَدْعُوَ فِي هَذِهِ السَّكْتَةِ بِمَا ذَكَرْنَاهُ فِي حَدِيْثِ أَبِيْ هُرَيْرَةَ فِي دُعَاءِ الْاِسْتِفْتَاحِ ” اللهم بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَاىَ إِلَى آخِرِهِ

Artinya: Berkata ashabussyafi’i, sunnah bagi imam menurut pendapat ini, diam setelah membaca Fatihah seukurang ma’mum membacanya. Assarohsy berkata dalam kitab al Amali, sunnah bagi imam di saat diamnya ini,membaca do’a yang telah kami sebutkan dalam haditsnya Abu Hurairah ra tentang do’a istiftah yaitu Allahumma baid baini wabaina khataya, sampai akhirnya hadits[3]

Dari keterangan ini maka jelas, waktu ma’mum membaca Fatihah ialah di saat diamnya imam setelah membaca Fatihah dan sebelum membaca surat atau ayat dari al Qur’an. Hanya saja, kekeliruan berjama’ah yang selama ini terjadi, khususnya di Indonesia, imam tidak memberikan ruang waktu untuk ma’mum dalam membaca Fatihah. Sehingga bacaan Fatihah ma’mum dilakukan bersamaan dengan imam membaca Fatihah atau ketika imam membaca surat dari al Qur’an.

[1] Ibrahim al Bajuri, Hasyiyah al Bajuri, Juz 1, Hal 192

[2] Ali As Shobuni, Rawa’iul Bayan Fi Tafsiri Ayatil Ahkam, Juz 1, Hal 18

[3] Syarf al Nawawi, Majmu’ Syarh al Muhaddzab, Juz 3, Hal 364

Bagikan Artikel ini:

About Ernita Witaloka

Mahasantri Ma’had Aly Nurul Qarnain Sukowono Jember Takhassus Fiqh Siyasah

Check Also

melagukan adzan

Hukum Melagukan Adzan

Sudah tabiat manusia ingin selalu terlihat lebih indah, baik dalam berpakaian, bertingkah, begitu juga dalam …

hukum penista agama

Hukuman bagi Penista Agama dalam Perspektif Fikih

Hukuman apa yang tepat menurut Fiqh bagi penista agama ? Ini pertanyaan yang seringkali menggelinding …