kdrt
kdrt

Marak Kekerasan terhadap Perempuan! Fakta Rasulullah tak Pernah Memukul Perempuan

“Mudah-mudahan Pandemi Covid-19 segera berakhir” adalah harapan dan doa semua orang. Ada sekian masalah yang diakibatkan olehnya. Salah satunya kekerasan terhadap perempuan. Menurut catatan Komnas HAM pada masa Pandemi kekerasan terhadap perempuan meningkat pada angka 63%. Data ini tentu mengacu pada angka pelopor. Faktanya bisa lebih dari itu karena tentunya banyak korban yang tidak melapor karena berbagai alasan dan pertimbangan.

Di sini, saya tidak akan mengulas kekerasan terhadap perempuan akibat dampak Corona. Sebab, Corona bukan satu-satunya penyebab kekerasan terhadap perempuan. Penyebabnya bisa beragam karena sejak dulu kasus ini terus terjadi berulang.

Tulisan ini hanya akan memberikan gambaran bagaimana sikap Nabi Muhammad sebagai teladan agung umat Islam terhadap perempuan. Bagaimana sesungguhnya beliau memperlakukan perempuan, baik terhadap pembantu, istri dan penghormatan beliau perempuan?

Abu Syaikh al Asbahani dalam salah satu karyanya Akhlaq al Nabi (akhlak Nabi) menulis beberapa hadis tentang sikap Nabi Muhammad terhadap perempuan.

Dari Aisyah, ia berkata, “Satu kali pun Rasulullah tidak pernah memukul perempuan. Begitu juga beliau tidak pernah memukul pembantunya. Dan, tangan beliau tidak pernah dipergunakan untuk memukul sesuatu kecuali dalam jihad di jalan Allah”.

Sikap Nabi yang selama hidupnya tidak pernah memukul perempuan semestinya menjadi pelajaran bagi umat Islam khususnya dan manusia secara umum. Sebab, tingkah laku beliau tidak lain merupakan misi kerasulan yang diembankan oleh Allah kepadanya. Dengan kata lain, apa yang beliau contohkan merupakan nilai-nilai luhur agama Islam.

Laki-laki dan perempuan dalam pandangan agama Islam memiliki kedudukan setara. Perbedaan kelamin tidak menjadi ukuran. Jenis kelamin laki-laki tidak secara otomatis memiliki nilai lebih. Kemuliaan seseorang hanya dinilai dari kualitas akhlaknya.

Banyak hikmah yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Nabi dari penghormatan Nabi yang seumur hidupnya tidak pernah melakukan kekerasan terhadap perempuan ini. Diantaranya, karena perempuan memang semestinya mendapatkan rasa aman di rumah bersama suami dan orang-orang terdekatnya. Bagi perempuan dan anak perempuan rumah adalah harapan keamanan dan ketentraman.

Namun saat ini, melihat kenyataan yang ada, bagi mereka, ancaman terbesar justru datang dari tempat dimana seharusnya mereka paling aman, nyaman, tentram, damai dan bahagia. Yakni di rumah karena ada suami dan ayah. Ini sangat miris, seharusnya terlindungi namun yang dijumpai sebaliknya.

Karenanya, patut menjadi pertanyaan bagi kita semua, apakah iman kita kepada Baginda Nabi telah sempurna? Atau sebaliknya, lisan mengakui Nabi Muhammad sebagai Nabi dan rasul tapi hati mengingkari. Sebab, banyak teladan beliau yang diingkari. Termasuk tindakan kekerasan terhadap perempuan yang kerap terjadi.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo dan Bendahara Umum divisi Politik, Hukum dan Advokasi di PC Fatayat NU KKR

Check Also

istri

Fikih Politik Perempuan (3): Haruskah Istri Menaati Suami dalam Pilihan Politik?

Harus diakui, perempuan masih menjadi kelompok rentan di negeri ini dalam segala bidang, tak terkecuali …

al-quran

4 Prinsip dalam al Qur’an Menangkal Corak Ekstremisme dalam Beragama

Tak bisa dipungkiri, fenomena ghuluw dalam beragama akhir-akhir ini menciptakan nuansa teror dalam masyarakat. Ghuluw …