Menteri Agama tidak Good Looking
Menteri Agama tidak Good Looking

Masjid Radikal dan Menteri Agama yang Tidak Good Looking

Beberapa hari yang lalu Menteri Agama (Menag), Fachrul Razi,  memaparkan  pola dan strategi kelompok radikal yang menyusup ke masjid-masjid terutama di lingkungan BUMN dan di tengah masyarakat secara umum. Salah satunya dengan menempatkan orang yang good looking dan terkesan memiliki kemampuan keagamaan yang tinggi. Lambat laun figur ini mulai ditokohkan dan merekrut anggota dengan penanaman doktrin yang radikal.

Sontak, pernyataan Menag ini memancing sumbu-sumbu pendek untuk meledak. Dari pernyataan kenapa dan apa salahnya dengan anak good looking yang fasih beragama, Menag terkesan minder dalam berislam, hingga pada statemen mendiskreditkan Islam dan menurunkan gairah umat untuk fasih beragama.

Sepertinya pernyataan good looking dari Menag menjadi pemantik yang cukup besar. Menag, nampaknya, terjebak dengan pernyataannya yang ternyata tidak “good looking” sehingga menimbulkan banyak tafsir dan kontroversi.

Saking kontroversinya Dirjen Bimas Islam Kemenag harus memberikan tafsir dari pernyataan “bosnya” dengan mengatakan bahwa statemen Menag adalah pesan perlunya kehati-hatian pengelola masjid terutama di lingkungan pemerintah dan BUMN untuk tidak asal comot penceramah. Pengelola masjid harus tahu rekam jejak pandangan keagaamannya. Kenapa penting agar tidak ada penceramah yang memiliki pemahaman ekstrem dan radikal yang masuk dalam masjid. Konteks pembicaraan Menag adalah bagaimana meangkal radikalisme di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN).

Sampai di sini mungkin klarifikasi ini cukup meredakan, tetapi tidak akan mematikan sumbu pendek. Pasalnya, pernyataan good looking lebih ditangkap dari pada tumbuhnya kesadaran dan kepedulian tentang potensi masjid yang dijadikan sumber meradikalisasi masyarkat. Semakin banyak yang berkicau sesungguhnya Menag menjadi mengetahui siapa saja yang sedang bermain dan kebakaran jenggot dengan pernyataannya. Wal, hasil sesungguhnya Menag memberikan satu pesan kehati-hatian sekaligus pemetaan para sumbu pendek.

Namun, tinggalkan saja Menag dengan gayanya yang kontroversial. Memang dari dulu sudah begitu sejak diangkat. Mungkin bagi kelompok tertentu akan dikatakan selalu membuat kegaduhan “umat”. Tentu saja umat yang kena sentil dan sindiran Menag. Umat yang lain rasanya masih tidak gaduh.

Baca Juga:  Pendirian Rumah Ibadah Non-Muslim dalam Pandangan Fikih

Kegaduhan sebenarnya bisa dimunculkan lebih besar apabila sumbu pendek beragama dapat menangkap pesan lain dari pernyataan Menag tentang radikalisasi di masjid ASN. Kenapa tidak bikin framing : Menag menuduh adanya masjid radikal? Bukankah itu melecehkan Islam dan menodai masjid? Ya, kenapa hanya fokus di good lookingnya, atau jangan-jangan mengiyakan pola radikalisasi di masjid?

Jika yang ingin kita tangkap adalah masjid radikal tentu kita perlu meluruskan. Bahwa pernyataan masjid radikal bukan bermaksud menuduh masjid, tetapi para pengelola dan penceramah di masjid yang kerap memberikan ceramah dan khutbah yang menebar kebencian dan pesan radikal.

Sampai pernyataan ini mungkin kita agak sepakat dan reda bahwa masjid tersebut ditunggangi oleh pihak dan oknum tertentu untuk digunakan menyebarkan pesan dan ajaran radikal penuh kebencian, hasutan dan perpecahan. Itulah cara memberikan alasan agar tidak ada demo berjilid-jilid untuk mengusung tema penistaan masjid.

Tentang Masjid Radikal : Menag Punya Data, Rasulullah Punya Cerita

Tapi mungkin saja masih ada yang penasaran apa mungkin memang ada radikalisasi melalui masjid? Pemerintah sangat mungkin punya data, Menag pun punya fakta dan Rasulullah punya cerita. Ya, cerita tentang masjid radikal. Itu sudah sejak lama bukan terjadi di era ini.

Umat Islam tidak perlu emosional dan reaktif ketika mendengar kemungkinan ada pemanfaatan masjid untuk tujuan menyampaikan pesan pesan dan ajaran radikal penuh kebencian, hasutan dan perpecahan. Sejak zaman Rasul masjid yang dimanfaatkan untuk menyebarkan kekufuran, mengadu domba dan memecah persatuan umat Islam sudah ada. Bahkan masjid itu memang sengaja didirikan untuk kepentingan jelek tersebut. Adanya masjid radikal seperti itu bukan sesuatu yang harus disembunyikan, justru umat Islam harus waspada.

Baca Juga:  Sang Munafik Abdullah bin Ubay : Memecah Belah Umat untuk Pembangkangan

Qur’an merekam kejadian tersebut dalam Surat At-Taubah ayat 107 dan 110 dengan menyebutnya sebagai masjid dhirar.

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ ۚ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ ۖ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Artinya : Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan”. Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). (QS: at-Taubah : 107)

Dikatakan masjid dhirar karena niat dan praktek aktifitas di masjid ini memang menimbulkan kemudharatan bagi umat Islam, sehingga Nabi melarang shalat di tempat tersebut, bahkan memerintahkan untuk merobohkannya. Masjid radikal atau dhirar ini memang sengaja didirikan untuk memecah belah persatuan umat Islam.

Masjid ini didirikan berdekatan dengan masjid Quba, masjid pertama yang dididirikan oleh Rasulullah. Inisiator pendirian masjid radikal atau dhirar ini adalah Abu Amir Ar-Rahib dari Kabila Khazraj. Ia termasuk orang dari masyarakay Madinah yang berkhianat dan bergabung dengan orang kafir Makkah dan membujuk untuk memerangi Rasul.

Masjid ini dibangun di saat Rasullah hendak pergi ke medan tabuk. Mereka memohon kepada Rasul agar shalat di masjid tersebut dengan harapan sebagai legitimasi kedudukan posisi masjid tersebut. Mereka beralasan masjid ini dibangun bagi orang-orang lemah dari kalangan mereka yang berhalangan di malam yang sangat dingin.  Tapi Allah memelihara Nabi untuk tidak shalat di masjid tersebut. Nabi menjawab “sesungguhnya kami sedang dalam perjalanan. Tetapi jika kembali isyallah”.

Baca Juga:  Kasus Uighur: Kenapa Negara Mayoritas Muslim Membela Cina?

Ketika dalam perjalanan kembali ke Madinah dari medan tabuk dengan jarak tinggal sehari lagi malaikat Jibril dengan berita keberadaan dan bahasaya masjid dhirar dan niat para pembangunnya untuk menyebarkan kekufuran dan memecahbelah persatuan umat Islam. Masjid ini dibangun untuk menyaingi masjid kaum muslimin yang dibangun dilandasan takwa. Dalam al-Qur’an :

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

Artinya : Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS: at-Taubah : 108).

Keberadaan masjid dhirar atau radikal ini sudah ada sejak masa Nabi. Nabi pun dengan ditegas memerintahkan untuk merobohkan masjid tersebut. Konon, lokasi bangunan masjid Dhirar dijadikan tempat pembuangan sampah dan bangkai binatang. Demikian riwayat akhir dari masjid yang didirikan hanya untuk memperlemah Islam dan memecah belah kaum muslimin.

Apakah masjid radikal atau masjid dhirar saat ini masih ada? Selama masjid tersebut dibangun dan dikelola dengan aktifitas yang dapat memecah belah umat, menyebarkan kebencian, permusuhan sesama umat, tentu saja masjid itu perlu diwaspadai. Masjid seperti itu jelas akan memicu perpecahan dan permusuhan sesama muslim.

Nah, barangkali konteksnya Menag itu adalah masjid dhirar, yakni masjid yang dikelola untuk memecah belah umat. Masjid yang diinfiltrasi dengan pesan permusuhan, kebencian dan hasutan sehingga bisa merusak persatuan bangsa. Jika demikian, kenapa kita harus bersumbu pendek menangkap pesan Menag yang tidak good looking tersebut?

 

 

 

Bagikan Artikel

About Mawaddah Ni'mah

Avatar